Tari lalatip yang juga sering disebut tari magunatip adalah tarian tradisional khas suku Dayak Tahol dan Dayak Murut yang berasal dari daerah Kalimantan Utara (Kaltara). Karena suku Murut juga sebagian tinggal Sabah, maka tarian ini pun dikenal di sana.
Tari ini bukan sekadar menghibur dari segi keindahan gerakan, namun juga memerlukan ketangkasan. Penari harus bisa bergerak sambil menghindari jepitan bambu yang berisiko menjatuhkan penari.
Dalam artikel ini akan kita ulas apa itu tari lalatip dari Kaltara, mulai dari sejarah, unsur pementasan, keunikan, fungsi dan peran, busana, hingga musik pengiring.
Sejarah Tari Lalatip
Dikutip dari buku Keberagaman Budaya dan Tradisi Indonesia oleh Noor Hidayati, nama "lalatip" secara etimologi diambil dari kata "lalati" yang memiliki arti menjepit. Terlihat dalam tarian, pemegang bambu seakan-akan siap menjepit penari, namun penari harus bisa menghindarinya.
Pada zaman dahulu, tarian ini bukanlah sekadar pertunjukan seni, melainkan bentuk latihan ketangkasan dan keterampilan fisik. Latihan ini berfokus pada ketangkasan kaki untuk melompat dan menghindari berbagai rintangan sebagai bentuk persiapan menghadapi perang antarsuku yang masih sering terjadi pada masa itu.
Seiring berjalannya waktu dan redanya konflik antarsuku, latihan ketangkasan tersebut kemudian diadaptasi dan dilestarikan menjadi sebuah tarian tradisional.
Unsur Pementasan
Dalam situs Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, dijelaskan bahwa pertunjukan tari lalatip melibatkan kerja sama tim yang dibagi menjadi tiga kelompok inti, yaitu:
- Kelompok Penjepit Kaki: Bertugas memainkan dan menggerakkan batang kayu secara berirama untuk menjepit atau mengapit kaki penari.
- Kelompok Penari: Bertugas menari dengan lincah sambil terus melompat untuk menghindari jepitan batang kayu.
- Kelompok Pemusik: Bertugas mengiringi tarian menggunakan alat musik tradisional khas suku Dayak Tahol atau Murut, yaitu kendang dan gong.
(bai/des)