Masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah punya warisan budaya berupa kesenian yang masih eksis bertahan hingga saat ini, yakni tari manasai. Tarian tradisional ini bukan hanya menghibur, tapi juga sebagai media untuk mempererat hubungan antar masyarakat.
Berbeda dengan banyak tarian tradisional yang hanya dibawakan oleh penari, tari manasai justru mengajak siapa saja untuk ikut bergabung. Tarian ini bisa ditarikan oleh laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, bahkan tamu dari luar daerah pun sering diajak masuk ke dalam lingkaran tarian.
Bagi masyarakat Dayak Ngaju, tari manasai menyimpan filosofi hidup yang mengajarkan pentingnya kebersamaan, kesetaraan, dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan Tari Manasai
Salah satu daya tarik utama tari manasai terletak pada gerakannya yang sederhana dan mudah dipelajari. Karena di sini siapa saja bisa langsung bergabung ketika tarian ini ditampilkan, tanpa harus memiliki kemampuan menari.
Dikutip dari buku Aneka kesenian tradisional Kalimantan Tengah (1992), tari manasai biasanya dilakukan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran besar. Semakin banyak orang yang ikut menari, semakin besar pula lingkaran yang terbentuk.
Pola lantai melingkar ini menjadi ciri khas yang membedakan tari manasai dari banyak tarian daerah lainnya.
Pertunjukan diawali dengan seluruh penari menghadap ke bagian tengah lingkaran. Di tengah lingkaran biasanya ditempatkan sebuah guci atau kayu yang telah dihias menggunakan bambu, kain, dan berbagai ornamen tradisional Dayak.
Setelah irama musik dimainkan, para penari mulai bergerak ke arah kanan sambil melangkah perlahan berlawanan arah jarum jam. Selanjutnya mereka berputar ke arah kiri sambil tetap melangkah maju dan mengayunkan kedua tangan mengikuti irama musik.
Gerakan tersebut dilakukan secara berulang-ulang dengan tempo yang harmonis. Tidak ada gerakan yang saling mendominasi karena seluruh penari bergerak dalam ritme yang sama. Keselarasan gerak ini membuat suasana kebersamaan dan kegembiraan sangat terasa selama tarian berlangsung.
Tari manasai biasanya diiringi lagu berjudul Manari Manasai ciptaan Wolten Rudji yang sangat terkenal di Kalimantan Tengah.
Makna Tari Manasai
Meskipun gerakannya sederhana, tari manasai menggambarkan kehidupan masyarakat Dayak Ngaju yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan persaudaraan.
Lingkaran yang dibentuk para penari melambangkan kesetaraan. Tidak ada posisi yang lebih tinggi atau lebih rendah karena semua orang berdiri sejajar dalam satu barisan yang sama. Siapa pun yang bergabung akan menjadi bagian dari lingkaran tersebut tanpa memandang latar belakangnya.
Nilai ini sejalan dengan pedoman hidup masyarakat Dayak yang dikenal sebagai Budaya Betang. Filosofi ini muncul dari kehidupan masyarakat yang tinggal bersama dalam rumah panjang atau betang, walaupun berasal dari keluarga dan latar belakang yang berbeda-beda.
Budaya Betang mengajarkan bahwa perbedaan suku, agama, maupun status sosial bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan secara damai. Semangat itu yang ada dalam tari manasai ketika semua orang bergerak bersama dalam satu irama.
Penelitian berjudul Tari Manasai Wujud Representasi Jatidiri Suku Dayak Ngaju dan Relevansinya Terhadap Nilai Pendidikan Karakter di Palangka Raya Kalimantan Tengah oleh Yosina (2018) menyebutkan bahwa tarian ini merepresentasikan konsep hidup masyarakat Dayak Ngaju yang dikenal dengan istilah Belom Bahadat. Konsep tersebut diartikan sebagai kehidupan yang beradab, menjunjung etika, menghormati sesama, dan hidup sesuai nilai-nilai kebaikan.
Dalam Belom Bahadat terkandung empat nilai utama, yaitu hidup jujur dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung kesetaraan, mengutamakan kebersamaan, serta menghormati hukum dan aturan yang berlaku.
Busana dan Selendang Tari Manasai
Selain gerakan, baju serta properti yang dipakai para penari Manasai juga unik dan khas.
Penari biasanya mengenakan pakaian adat Dayak Ngaju yang dihiasi motif etnik khas Kalimantan Tengah. Ornamen berupa manik-manik, ukiran tradisional, dan aksesoris khas Dayak ditampilkan dalam pertunjukan.
Properti utama yang digunakan adalah bahalai atau selendang. Selendang tersebut diikatkan di pinggang maupun disampirkan di leher. Saat penari mengayunkan kedua tangannya mengikuti irama musik, selendang akan ikut bergerak dan terbentang menyibak dengan estetik.
Di beberapa pertunjukan, guci atau kayu yang ditempatkan di tengah lingkaran juga dihias dengan bambu dan kain warna-warni sehingga menambah daya tarik dari tari ini.
Melalui gerakannya yang kaya makna, tari manasai mengajarkan bahwa persatuan dibangun dengan saling menghargai dan berjalan bersama dalam satu irama.
