Namanya Tapi, Alat Musik 3 Senar Khas Dayak Lundayeh

Oktavian Balang - detikKalimantan
Jumat, 13 Feb 2026 22:00 WIB
Dawat Butal saat memainkan Tapik/Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Nunukan -

Denting dawai dan pukulan bambu dari Desa Pa' Putuk, Lokasi Terang Baru, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih terdengar nyaring berkat dedikasi Dawat Butal. Pria asli Dayak Krayan ini tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membawanya hingga ke panggung internasional.

Dawat Butal adalah sosok di balik pelestarian alat musik tradisional khas suku Dayak Lundayeh, yakni Tapi, Agung Bulu, dan Ruding. Baginya, ini bukan sekadar hobi, melainkan amanah dari orang tua untuk menjaga identitas budaya.

Banyak yang mengenal alat musik petik khas Dayak adalah Sampe. Namun, Dawat menjelaskan perbedaan mendasar antara instrumen miliknya dengan yang umum dikenal.

"Kalau suku Kenyah punya itu Sampe, kalau kita Lundayeh punya itu namanya Tapi," ujar Dawat saat ditemui di kediamannya di Pa' Putuk, Jumat (13/2/2026).

Tapi memiliki tiga senar. Menurut Dawat, alat musik ini memiliki filosofi penggunaan yang unik berdasarkan waktu. Jika dimainkan siang hari, Tapi berfungsi sebagai pelepas lelah. Namun, jika dimainkan malam hari, konon nadanya digunakan untuk bersenandung atau merayu kekasih.

"Saya ingat waktu kakek saya memainkan tapi di siang hari, tak butuh waktu lama saya tertidur," kenangnya.

Selain Tapi, Dawat juga piawai memainkan Agung Buluk. Alat musik ini terbuat dari bambu betung (bulu betung). Senarnya unik karena dicungkil langsung dari kulit bambu itu sendiri sebanyak 3 hingga 4 senar.

"Agung Buluk ini bisa mentung budi, bisa juga perisanang peritubang. Artinya, dipakai waktu acara syukuran. Dulu nenek moyang memainkannya saat acara adat potong kerbau atau minum tuak usai ngayau," jelasnya.

Ada pula Ruding, alat musik sederhana dari pelepah nipah (polod) yang dimainkan dengan memukulnya di mulut, mengandalkan resonansi rongga mulut dan pengaturan napas. Keahlian Dawat tidak hanya dinikmati warga lokal, ia mengaku kerap mendapat undangan tampil hingga ke Malaysia, khususnya wilayah Lawas.

"Bulan September nanti ada jemputan (undangan) lagi ke Lawas untuk acara Iraw. Kita pernah bawa rombongan dari Krayan ke sana," ungkap Dawat.



Simak Video "Menikmati Hangatnya Kebersamaan di Desa Seputuk, Kalimantan Utara"


(sun/des)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork