Masyarakat Dayak Bidayuh di Kalimantan Barat hingga kini masih mempertahankan salah satu tradisi adat yang menjadi identitas mereka, yaitu Gawai Nyobeng. Tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi ini bukan sekadar perayaan budaya, melainkan juga wujud penghormatan kepada leluhur serta simbol persatuan masyarakat adat.
Setiap tahunnya, Gawai Nyobeng menjadi momen penting yang mempertemukan keluarga, kerabat, dan masyarakat dari berbagai daerah. Melalui ritual-ritual yang sakral dan penuh makna, masyarakat Dayak Bidayuh mengungkapkan rasa syukur atas kehidupan, hasil panen, serta kedamaian yang mereka nikmati.
Tentang Tradisi Gawai Nyobeng
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gawai Nyobeng atau Nibakng di Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Senin (15/6/2026). ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/bar Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang |
Dirangkum dari laman Pemerintah Kabupaten Bengkayang dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, perayaan Gawai Nibakng atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gawai Nyobeng, merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan kepada leluhur.
Ritual adat ini sebagai rasa syukur atas panen berlimpah dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan berkah yang telah diberikan kepada masyarakat. Gawai Nyobeng atau Nibakng merupakan tradisi masyarakat Dayak Bidayuh sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang telah diperoleh sekaligus menandai dimulainya kembali masa bercocok tanam.
Selama berlangsungnya acara, masyarakat setempat merayakan dengan cara menjamu para sanak saudara maupun pengunjung yang hadir dengan makanan dan minuman khas warga Adat Dayak Bidayuh di rumah masing-masing. Masyarakat bahkan juga mempersilakan turis menginap di rumah mereka.
Nyobeng merupakan ritual yang telah dilakukan sejak zaman dahulu oleh suku Dayak Bidayuh. Gawai, menjadi puncak kemeriahan Nyobeng.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat menggelar berbagai rangkaian kegiatan adat yang melibatkan tokoh adat, tetua kampung, serta warga dari berbagai kelompok usia. Tetua adat, pemuka adat, dan tamu undangan dari berbagai penjuru, termasuk Serawak Malaysia, berkumpul untuk menyambut panen padi dan merayakan kebersamaan.
Masyarakat Dayak Bidayuh menggelar Gawai Nyobeng sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus penanda dimulainya musim tanam. Biasanya terdapat iringan alat musik dalam gelaran ini.
Gawai Nyobeng atau Nibakng di Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Senin (15/6/2026). ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/bar Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang |
Sejumlah pria Suku Dayak Bidayuh akan memainkan alat musik tradisional pada Gawai Nyobeng atau Nibakng saat berjalan menuju Rumah Baluk. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini.
Selain memiliki makna spiritual dan budaya, Gawai Nyobeng juga menjadi sarana memperkuat identitas masyarakat Dayak Bidayuh di tengah perkembangan zaman. Melalui perayaan ini, generasi muda diperkenalkan pada sejarah, nilai, dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari warisan budaya mereka.
Hingga kini, Nyobeng masih dilestarikan oleh masyarakat Dayak Bidayuh Sebujit yang tinggal di Kampung Sebujit, Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Makna Tradisi Nyobeng
Gawai Nyobeng atau Nibakng saat berjalan menuju Rumah Baluk di Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Senin (15/6/2026). Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang |
Secara harfiah, Nyobeng berarti memainkan sibakng, yaitu alat musik perkusi berupa drum panjang yang digantung di dalam maupun di luar rumah adat baluk. Upacara ini memiliki nilai kesakralan yang tinggi.
Terdapat pula bagian yang bersifat hiburan, yaitu panjat aur. Dalam tradisi ini, peserta memanjat tiang bambu setelah para tetua membacakan mantra dan memercikkan air menggunakan daun amhuang. Sambil menari mengelilingi bambu, masyarakat merayakan kegembiraan dan mengenang keberanian para ksatria masa lalu.
Seorang pria Suku Dayak Bidayuh mengayunkan tongkat bendera setelah berhasil mencapai puncak bambu usai beratraksi panjat bambu terbalik pada pelaksanaan Gawai Nyobeng atau Nibakng di Dusun Sebujit Baru, Desa Hlibuei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, Senin (15/6/2026). Atraksi yang menampilkan ketangkasan, kekuatan fisik, dan keseimbangan tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian perayaan adat sebagai wujud pelestarian budaya masyarakat Dayak Bidayuh. Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang |
Kini, setiap bulan Juni, Nyobeng dilaksanakan sebagai upacara perdamaian, ajang silaturahmi keluarga besar Dayak Bidayuh, serta penghormatan kepada roh leluhur. Dalam ritual tersebut, masyarakat memanjatkan doa dan memohon keberkahan atas hasil bumi serta kehidupan yang sejahtera.
Selain itu, nyobeng juga dikenal sebagai simbol perdamaian yang mempererat hubungan masyarakat Dayak Bidayuh di Indonesia maupun Malaysia. Nyobeng tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga menjadi perayaan budaya yang mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah.
Dari tradisi yang dahulu melambangkan kemenangan dalam peperangan, Nyobeng kini berkembang menjadi simbol rasa syukur, penghormatan terhadap leluhur, persaudaraan, serta harapan agar kehidupan masyarakat tetap damai dan sejahtera.




