Denting dawai dan pukulan bambu dari Desa Pa' Putuk, Lokasi Terang Baru, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih terdengar nyaring berkat dedikasi Dawat Butal. Pria asli Dayak Krayan ini tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membawanya hingga ke panggung internasional.
Dawat Butal adalah sosok di balik pelestarian alat musik tradisional khas suku Dayak Lundayeh, yakni Tapi, Agung Bulu, dan Ruding. Baginya, ini bukan sekadar hobi, melainkan amanah dari orang tua untuk menjaga identitas budaya.
Banyak yang mengenal alat musik petik khas Dayak adalah Sampe. Namun, Dawat menjelaskan perbedaan mendasar antara instrumen miliknya dengan yang umum dikenal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau suku Kenyah punya itu Sampe, kalau kita Lundayeh punya itu namanya Tapi," ujar Dawat saat ditemui di kediamannya di Pa' Putuk, Jumat (13/2/2026).
Tapi memiliki tiga senar. Menurut Dawat, alat musik ini memiliki filosofi penggunaan yang unik berdasarkan waktu. Jika dimainkan siang hari, Tapi berfungsi sebagai pelepas lelah. Namun, jika dimainkan malam hari, konon nadanya digunakan untuk bersenandung atau merayu kekasih.
"Saya ingat waktu kakek saya memainkan tapi di siang hari, tak butuh waktu lama saya tertidur," kenangnya.
Selain Tapi, Dawat juga piawai memainkan Agung Buluk. Alat musik ini terbuat dari bambu betung (bulu betung). Senarnya unik karena dicungkil langsung dari kulit bambu itu sendiri sebanyak 3 hingga 4 senar.
"Agung Buluk ini bisa mentung budi, bisa juga perisanang peritubang. Artinya, dipakai waktu acara syukuran. Dulu nenek moyang memainkannya saat acara adat potong kerbau atau minum tuak usai ngayau," jelasnya.
Ada pula Ruding, alat musik sederhana dari pelepah nipah (polod) yang dimainkan dengan memukulnya di mulut, mengandalkan resonansi rongga mulut dan pengaturan napas. Keahlian Dawat tidak hanya dinikmati warga lokal, ia mengaku kerap mendapat undangan tampil hingga ke Malaysia, khususnya wilayah Lawas.
"Bulan September nanti ada jemputan (undangan) lagi ke Lawas untuk acara Iraw. Kita pernah bawa rombongan dari Krayan ke sana," ungkap Dawat.
Respons publik Malaysia terhadap musik tradisional Krayan dinilainya sangat positif. "Luar biasa, waktu saya turun panggung, semua turun melihat musik saya. Masyarakat di sana sangat tertarik," tambahnya.
Meski minat generasi muda di desa mulai tumbuh dan banyak yang memintanya mengajar, Dawat menghadapi kendala fasilitas. Ia memproduksi alat musik ini sendiri berdasarkan ingatan dan ajaran mendiang ayahnya, namun terkendala bahan baku tertentu.
"Bahan kayu dan bambu ada di Krayan. Tapi kalau senar untuk Tapi, itu kita pesan khusus dari Lawas (Malaysia), dijual per roll. Belum ada di Indonesia setahu saya," tuturnya.
Selain itu, Dawat juga menyoroti kurangnya ruang latihan yang memadai. Rumah pribadinya terlalu sempit untuk menampung latihan tim penari yang bisa mencapai 6 hingga 8 orang. Balai raya atau Balai Pertemuan Umum (BPU) yang ada pun ukurannya terbatas.
"Saya berharap pemerintah daerah lebih memperhatikan kelestarian seni budaya ini. Saya pernah ajukan proposal bantuan dana untuk pengembangan alat musik dan operasional, namun belum ada realisasi. Kita perlu bantuan dana untuk menunjang kegiatan ini, terutama pengadaan bahan baku dan tempat latihan. Supaya budaya kita ini dikenal terus, seperti orang mengenal budaya Kenyah, sekarang gantian orang mengenal Lundayeh," pungkasnya.
Simak Video "Menyusuri Desa Seputuk dan Menikmati Keindahan Alam"
[Gambas:Video 20detik]
(sun/des)
