Di Desa Wa' Laya, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan terdapat jejak peradaban tua Suku Dayak Lundayeh yang masih tersisa. Situs tersebut dikenal dengan nama Batu Perupun, sebuah struktur batu yang menyimpan cerita tentang masa lalu, mulai dari tradisi pengayauan, hingga strata sosial masyarakat kuno.
Berdasarkan pantauan detikKalimantan di lokasi, situs purbakala ini secara visual tampak seperti tumpukan batu yang disusun sedemikian rupa. Ukurannya pun terbilang fantastis.
Ketebalan atau lebar lempengan batu diperkirakan mencapai dua jengkal orang dewasa. Sementara untuk ukuran kelilingnya, gundukan batu besar ini diperkirakan membutuhkan rentangan tangan 4 hingga 5 orang dewasa untuk bisa memeluknya secara utuh.
Baca juga: Melihat Barang Peninggalan Prajurit Kayan |
Semuel, Juru Pelihara Situs Perupun dari BPKW (Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah) 14 Kalimantan Timur, menjelaskan bahwa Perupun diperkirakan sudah ada sejak tahun 1875. Secara harfiah dalam bahasa Lundayeh, Perupun bermakna tempat menyatukan harta benda.
"Perupun ini bisa dikatakan tempat mengumpulkan harta benda yang disimpan dalam lubang, kemudian ditutup dengan batu besar. Tujuannya agar harta benda tersebut aman dan tidak dicuri orang pada zaman itu," ujar Semuel saat ditemui di lokasi, Rabu (11/2/2026).
Pada era tersebut, yang dikenal sebagai zaman ngayau (memenggal kepala), keamanan harta benda adalah prioritas. Barang-barang berharga seperti manik-manik, tulang, dan guci/tempayan disimpan rapat di dalam tanah yang ditutupi gundukan batu besar.
Ia menambahkan bahwa Batu Perupun juga berfungsi sebagai situs pemakaman lama. Struktur batu ini menjadi tempat penyimpanan guci atau tempayan kuno yang berisi tulang belulang leluhur.
"Sebelum masuk ke Batu Perupun, jenazah digulung dalam tikar dan disimpan di belakang rumah. Usai melewati proses pembusukan selama beberapa bulan, tulang-belulangnya diambil kembali," jelas Elyas.
Simak Video "Video: BNPP Sebut Ada 3 Desa di Nunukan Sebagian Masuk Malaysia"
(bai/bai)