Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian

Kuburan Batu Kuno di TNKM, Situs Sejarah yang Butuh Perhatian

Oktavian Balang - detikKalimantan
Selasa, 28 Jul 2026 19:30 WIB
Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, tersimpan peninggalan bersejarah berupa situs kuburan batu kuno leluhur suku Dayak.
Kuburan Batu Kuno di TNKM/Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Malinau -

Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara, tersimpan peninggalan bersejarah berupa situs kuburan batu kuno leluhur suku Dayak. Peninggalan megalitik yang diperkirakan berusia ratusan tahun ini menjadi bukti kuat keberadaan peradaban kuno, yang hidup menyatu dengan alam di sepanjang aliran Sungai Bahau.

Situs makam batu tersebut berada di wilayah kerja SPTN Wilayah II Long Alango, tepatnya di seberang Desa Long Berini, Kecamatan Bahau Hulu. Untuk mencapai lokasi harus menempuh perjalanan menggunakan perahu ketinting selama kurang lebih 60 menit dari Long Alango. Selama perjalanan disuguhi pemandangan hutan asri, jeram arus deras yang memacu adrenalin, hingga keindahan burung-burung liar.

Berdasarkan pantauan detikKalimantan di lokasi, terdapat sekitar 5 hingga 6 kuburan batu dengan ketinggian lebih dari satu meter. Inti makam berbentuk menyerupai mangkok batu besar yang ditutupi dan dikelilingi bebatuan tebal berdiameter sekitar satu setengah jengkal orang dewasa. Di dalam mangkok batu tersebut tersimpan susunan tulang belulang manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Adat Desa Long Berini, Irang Lawai, mengungkapkan keberadaan makam kuno ini sudah diketahui warga sejak puluhan tahun silam. "Sekitar tahun 1933, waktu orang Berini bikin rumah dan pondok ladang di daerah itu, dari situlah warga tahu bahwa di situ ada kuburan kuno," kata Irang Lawai saat ditemui di lokasi. Selasa (28/7/2026).

Kepala Desa Long Berini, Sili, menjelaskan tradisi pemakaman pada zaman dahulu sangat berbeda dengan metode penguburan masa kini. Dahulu, jenazah tidak langsung dikubur di dalam tanah, melainkan diletakkan di atas wadah kayu hingga membusuk.

"Setelah membusuk, wadahnya dibuka kembali, tulangnya diambil dan dibersihkan. Setelah bersih, baru dimasukkan ke dalam kuburan batu ini melalui ritual khusus," jelas Sili kepada detikKalimantan.

Sili menambahkan satu wadah kuburan batu tidak hanya diisi oleh satu jenazah, melainkan berisi tulang belulang dari banyak individu atau satu keluarga besar.

"Saya pernah ikut membersihkan makam di seberang hulu kampung. Sewaktu dibuka, di situ ada 11 tengkorak kepala dengan ukuran bervariasi, dari yang besar sampai yang kecil disatukan di dalam satu kuburan batu," ungkapnya.

Makam batu ini diyakini merupakan peninggalan suku Dayak Ngorek yang menjadi penghuni awal di wilayah tersebut. Namun, seiring perpindahan permukiman, suku Dayak Kenyah mulai mendiami kawasan tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa di beberapa lokasi makam batu ditemukan artefak tambahan berupa tempayan keramik kuno atau gong.

"Waktu kuburan batu ini ada, awalnya cuma batu saja. Setelah suku Ngurek pindah dan suku Kenyah masuk, tempayan atau gong ditaruh di situ sebagai warisan atau bekal bagi keluarga yang meninggal," tambah Sili.

Peninggalan kuburan kuno ini tidak hanya terpusat di satu titik. Selain di seberang Desa Long Berini, situs serupa juga tersebar di beberapa lokasi seperti Long Pulung, Kuala Sungai Berini, hingga kawasan perbukitan dan pegunungan di dalam hutan. Bentuknya pun bervariasi, ada yang berbentuk mangkok bulat dan ada pula yang berbentuk kotak batu yang ditopang tiang batu berdiri.

"Sayangnya, kondisi situs peninggalan sejarah bernilai tinggi ini kian memprihatinkan. Akibat minimnya perawatan dan ketiadaan pemeliharaan rutin dalam beberapa tahun terakhir, sebagian kuburan batu kini mulai tertutup tanah, tertimbun dedaunan, hingga ditumbuhi lumut tebal," rincinya.

Pemerintah desa dan lembaga adat setempat berharap adanya perhatian serius dari pihak terkait, jurnalis, maupun pengelola Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) untuk membantu menata dan melestarikan situs tersebut.

"Harapan saya, peninggalan ini bisa ditata dan dirawat kembali. Jika bisa digali dan dirapikan ulang, situs ini akan sangat menarik untuk dijadikan potensi wisata budaya yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal," tutur Sili.



(sun/des)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads