Yuvai Semaring, Raksasa Sakti Dayak Lundayeh yang Jadi Nama Bandara Krayan

Yuvai Semaring, Raksasa Sakti Dayak Lundayeh yang Jadi Nama Bandara Krayan

Oktavian Balang - detikKalimantan
Senin, 02 Mar 2026 12:30 WIB
Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Lukisan Yuvai Semaring di Bandara Yuvai Semaring Long Bawan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Foto: Oktavian Balang/detikKalimantan
Nunukan -

Yuvai Semaring dikenal sebagai nama bandara di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Nama ini ternyata berasal dari sosok legendaris masyarakat Dayak Lundayeh pada abad ke-15.

Budayawan Suku Dayak Lundayeh, Ellias Yesaya, mengungkapkan bahwa Yuvai Semaring adalah sosok pahlawan besar secara harfiah maupun kiasan. Pengaruhnya sangat luas, bahkan rekam jejaknya merambah hingga ke Brunei Darussalam.

"Di Brunei Darussalam, ia lebih dikenal dengan sebutan Awang Semaun, sang pahlawan yang datang dari pedalaman Kalimantan. Potret orangnya tinggi besar, ada juga anjingnya yang setia menemani karena dia pemburu," ungkap Ellias ditemui detikKalimantan di Bandara Yuvai Semaring, Senin (2/3/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masyarakat setempat juga meyakini Yuvai Semaring berwujud raksasa. Hal ini diperkuat dengan temuan jejak kaki berukuran sangat besar yang diyakini miliknya.

"Jika Anda melihat sebuah bukit di sebelah utara Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan, bukit tersebut memiliki lubang. Masyarakat adat mempercayai bahwa bukit berlubang itulah yang dahulu menjadi tempat tinggal sang legenda," tutur Ellias.

Keberadaan Yuvai Semaring pada masa lampau terlihat dari pinggalan yang tersebar dari wilayah Krayan Timur hingga melintasi perbatasan Sarawak dan Sabah, Malaysia. Ellias memaparkan, salah satu peninggalan tersebut adalah Batuh Laan (batu asah) yang berada di Ba' Kelalan, sebuah kampung yang berbatasan langsung dengan Indonesia.

''Selain itu, ada pula makam di Bario, Sarawak, Malaysia, yang diyakini sebagai tempat peristirahatan salah satu anak perempuan Yuvai Semaring,'' bebernya.

Namun, peninggalan yang paling menonjol adalah Batu Inarit atau batu berukir. Salah satu batu ini tersembunyi di dalam hutan perbatasan Krayan Timur (Indonesia) dengan Long Pasia, Sabah (Malaysia).

"Batu Inarit tersebut menyimpan kisah sedih. Batu itu diukir langsung oleh Yuvai Semaring sebagai tanda cinta mendalam kepada sang istri yang telah meninggal dunia. Sayangnya, karya seni cinta itu tak pernah rampung," ucap Ellias.

Ellias menjelaskan, ukiran tersebut urung diselesaikan karena Yuvai Semaring merasa terganggu dengan banyaknya peperangan antar kelompok di Sabah. Ia pun memutuskan membawa keluarga dan pengikutnya hijrah ke Trusan Lawas, Sarawak.

"Bukan karena takut atau melarikan diri, keputusan untuk berpindah tempat ini murni didasari rasa cinta yang besar kepada anak-anaknya. Setelah sang istri tiada, Yuvai Semaring enggan mengangkat senjata lagi dan memilih hijrah mencari tempat yang aman bagi keluarganya.'' tuturnya.

Jejak perjalanan ini dibuktikan dengan temuan Batu Inarit lainnya di Trusan Hulu, daerah Lawas, Sarawak, yang berbatasan langsung dengan Brunei Darussalam.

"Hingga kini, nama Yuvai Semaring terus abadi. Nilai-nilai warisannya meresap kuat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Dayak Lundayeh, mencakup keberanian, kepahlawanan, pelestarian seni dan kerajinan tangan, hingga ikatan batin yang kuat dengan alam," pungkas Ellias.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: BNPP Sebut Ada 3 Desa di Nunukan Sebagian Masuk Malaysia"
[Gambas:Video 20detik] (des/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads