Apa Itu Tingkilan Kutai? Ini Sejarah, Struktur hingga Nilai Budayanya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Kamis, 08 Jan 2026 20:00 WIB
Pertunjukkan Tingkilan/Foto: ANTARA/Hayry Abdi
Kutai Kartanegara -

Tingkilan adalah salah satu bentuk seni musik tradisional masyarakat Kutai yang hidup di wilayah pesisir dan kawasan sepanjang Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Seni ini eksis selama berabad-abad lamanya sebagai sarana komunikasi dan hiburan masyarakat Kutai.

Secara etimologis, istilah Tingkilan berasal dari bahasa Kutai lama yang terdiri dari dua unsur kata, yaitu 'ting' dan 'kil'. Di mana 'ting' berarti suara senar yang dipetik dan 'kil' berarti tindakan memetik sehingga bisa diartikan pada aktivitas memetik instrumen musik seperti gambus.

Dari situ, istilah tingkilan berkembang menjadi sebutan untuk musik ansambel tradisional, serta proses menyanyikan lagu dengan pantun yang saling bersahut-sahutan.

Dalam budaya Kutai, tingkilan bukan hanya musik semata, melainkan ekspresi seni pertunjukan yang melekat pada kehidupan sosial masyarakat Kutai. Terutama di wilayah Tenggarong dan sekitarnya.

Sejarah dan Asal Usul Tingkilan

Tingkilan berkembang seiring dengan perkembangan budaya Melayu dan Islam di Kutai sejak berabad-abad silam. Kemungkinan besar sejak abad ke-16 ketika interaksi dengan budaya Melayu pesisir dan pengaruh Islam semakin kuat, khususnya di wilayah Hulu hingga Hilir Sungai Mahakam.

Musik ini kemudian dijadikan bagian dari berbagai kegiatan rakyat dan ritual, seperti hajat adat, pesta panen, pernikahan, hingga acara perkumpulan malam.

Peran utama tingkilan awalnya adalah sebagai musik pertunjukan rakyat yang menggabungkan suara instrumen dengan pantun berbalas (disebut betingkilan) antara dua penyanyi, biasanya pria dan wanita. Pertukaran pantun ini mengandung pesan moral, sosial, cinta, atau nasihat, sekaligus menjadi sarana hiburan dan komunikasi.

Musik dan Instrumen

Tingkilan secara tradisional dimainkan oleh sekelompok pemusik yang menggabungkan beberapa instrumen khas yang berasal dari gabungan budaya Melayu dan lokal Kutai, di antaranya:

  • Gambus Kutai
  • Ketipung
  • Kendang
  • Biola atau cello



Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"


(sun/aau)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork