Menilik Arsitektur Istana Sultan Kutai yang Kini Jadi Museum Mulawarman

Menilik Arsitektur Istana Sultan Kutai yang Kini Jadi Museum Mulawarman

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Rabu, 16 Sep 2026 17:00 WIB
Museum Mulawarman.
Foto: Yuda Almerio/detikKalimantan
Kutai Kartanegara -

Museum Mulawarman di Tenggarong, Kutai Kartanegara adalah satu dari sekian banyak situs bersejarah di Kalimantan Timur. Ribuan koleksi peninggalan Kesultanan Kutai disimpan di sini dengan cerita yang menarik.

Gedung yang sekarang bernama Museum Mulawarman dulunya merupakan istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit. Selain koleksi kerajaan, bangunan ini juga menarik dari sisi arsitektur. Bentuknya memperlihatkan sentuhan pengaruh Eropa yang kuat, tapi juga ada unsur Dayak dan Kutai di dalamnya.

Sejarah Dibangunnya Istana Kesultanan Kutai

Pembangunan istana baru digagas Sultan Aji Muhammad Parikesit pada 1936. Istana dibuat untuk menggantikan kedaton lama yang berbahan kayu. Pengerjaan bangunan dipercayakan kepada perusahaan konstruksi Belanda, Hollandsche Beton Maatschappij (HBM). Sementara desainnya dikerjakan arsitek Belanda Charles Marie Francois Henri Estourgie.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut laman resmi Museum Mulawarman, pembangunan berlangsung hanya dalam waktu sekitar satu tahun dan selesai pada 1937. Gedung baru istana berwarna putih itu kemudian menjadi pusat pemerintahan dan kegiatan Kesultanan Kutai.

Bangunan klasik bergaya Eropa ini berdiri di atas lahan sekitar 35.100 meter persegi, sementara luas gedung utamanya sekitar 2.270 meter persegi. Yang lebih menarik, gaya arsitektur Eropa sangat kental, bisa dilihat dari bentuk bangunan yang simetris dengan banyak pilar. Tetapi dalam majalah Museografia vol. XVI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut gaya Istana Kutai sebagai bangunan bercorak Art Deco yang juga mengadopsi unsur arsitektur tradisional suku Dayak di Kutai.

Beton Mendominasi, Ada Ruang Bawah Tanah

Seluruh bangunan menggunakan beton, mulai dari lantai, dinding, sekat, dan bagian atap. Memang tujuan utama pembangunan Istana Kutai ini adalah menggantikan kedaton sebelumnya yang menggunakan kayu, agar lebih kokoh dan memiliki karakter.

Pilar-pilar besar terlihat dari depan, menyambut mulai pintu masuk. Di bagian tengah ada aula besar, dilengkapi ruang bawah tanah atau basement. Saat ini ruang bawah tanah difungsikan sebagai ruang pamer, termasuk untuk menyimpan dan menampilkan koleksi keramik, sementara dahulu digunakan untuk menyimpan kendaraan dan barang-barang lain.

Bagian paling pentingnya adalah ruang singgasana. Di sini pengunjung museum bisa melihat singgasana sultan dan permaisurinya, lengkap dengan berbagai atribut kerajaan. Museum Mulawarman juga memiliki ruang koleksi sejarah, etnografi, arkeologi, senjata, keramik, gamelan, serta koleksi flora dan fauna.

Museum MulawarmanSinggasana Raja di Museum Mulawarman/ Foto: (Tedi Permana/d'Traveler)

Kompleks Museum Mulawarman Sekarang

Walaupun bergaya Eropa, unsur Dayak dan Kutai masih bisa ditemukan di kompleks Museum Mulawarman. Di halaman depan museum berdiri duplikat Patung Lembuswana, makhluk mitologi dari Legenda Puteri Karang Melenu yang jadi ikon Kutai Kartanegara.

Ada juga totem kayu ulin setinggi sekitar 13 meter dengan diameter sekitar 60 sentimeter. Totem ini dibuat sebagai simbol kehidupan manusia dalam kebudayaan Dayak, dari kelahiran hingga kematian. Ornamen ular dan burung enggang di dalamnya juga punya arti keseimbangan dalam kehidupan masyarakat Dayak.

Museum MulawarmanMuseum Mulawarman/ Foto: (Brigida Emi Lilia/d'traveler)

Sejarah Perubahan Fungsi dari Istana Menjadi Museum

Istana yang dibangun Parikesit pada 1930-an nyatanya tidak selamanya menjadi kediaman dan pusat pemerintahan kesultanan. Setelah pemerintahan Kesultanan Kutai berakhir, bekas istana kemudian dialihfungsikan menjadi museum.

Pada 25 November 1971, istana megah itu secara resmi menjadi Museum Kutai. Lima tahun kemudian, pada 18 Februari 1976, pengelolaannya diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sejak saat itu namanya menjadi Museum Negeri Provinsi Kalimantan Timur Mulawarman.

Nama Mulawarman diambil dari Raja Mulawarman Nala Dewa, tokoh dari Kerajaan Kutai Martapura yang namanya tercantum di Prasasti Yupa. Saat ini, bangunan bekas istana ini menjadi tempat untuk menyimpan ribuan koleksi yang merekam kehidupan Kesultanan Kutai, dari singgasana, pakaian,senjata, keramik, gamelan, hingga berbagai koleksi etnografi.

Berkunjung ke Museum Mulawarman akan menjadi pengalaman berkesan karena bukan hanya melihat museum, tapi juga melihat langsung bekas ruang kehidupan dan pemerintahan Sultan Aji Muhammad Parikesit di tepi Sungai Mahakam.



(sun/des)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads