Pedagang Kaki Lima (PKL) kembali memenuhi kawasan dermaga Pelabuhan Tengkayu 1 (SDF), Tarakan. Padahal pemerintah telah menyediakan koridor khusus untuk berjualan.
Pantauan detikKalimantan di lokasi menunjukkan aktivitas jual beli di dermaga jauh lebih padat dibandingkan di koridor. Pedagang tampak menjajakan dagangannya di berbagai sudut dermaga.
Diduga, kembalinya PKL ke dermaga dipicu konflik sosial dan kecemburuan antarpedagang, serta anjloknya omzet jika bertahan di koridor. Salah seorang pedagang di dermaga yang meminta namanya disamarkan, terang-terangan menjelaskan alasan ekonomi. Menurutnya, berjualan di koridor yang disediakan pemerintah tidak dapat memenuhi target penjualan harian.
"Di koridor tidak ada pembeli, sepi. Di dermaga lumayan pembeli," jelas pedagang itu saat ditemui detikKalimantan. Senin (17/11/2025).
Saat berjualan di dermaga, ia bisa mengantongi Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu per hari. Sementara itu, saat mencoba bertahan di koridor selama dua bulan, pendapatannya anjlok.
"Kalau di sana koridor, sehari dapat Rp 100 ribu, kadang-kadang Rp 50 ribu. Tapi paling banyak Rp 100 ribu," keluhnya.
Menurutnya, bertahan di koridor tidak bisa mengembalikan modal. Banyak barang dagangan seperti kue-kue yang akhirnya rusak dan terbuang, karena tidak laku dan tidak bisa dikembalikan ke pemasok.
"Nggak kembali modal, rugi. Bahannya dibuang-buang," ujarnya.
Pedagang itu menyebut adanya dugaan permainan di antara pedagang. Dari 15 pedagang yang terdaftar resmi dan seharusnya menempati koridor, beberapa di antaranya justru memberanikan diri untuk membuka lapak berjalan hingga ke dalam speedboat.
"Kami sudah tertib, cuma ada oknum yang memberanikan diri menjajakan lapak keliling sampai masuk ke dalam speedboat. Ya kalau dia dibiarkan, kenapa kami tidak bisa ikut juga," terangnya.
"Itu yang membuat sebagian orang berani di situ karena di sini tidak untung. Jelasnya ada yang mulai lah," tambahnya.
(sun/des)