Aktris Aurelie Moeremans meluncurkan buku berjudul Broken Strings yang merupakan memoar masa remajanya saat baru memasuki dunia entertainment hingga menjadi korban grooming. Kisah yang ditulisnya dalam dua bahasa --Indonesia dan Inggris-- itu viral di media sosial dan memantik perbincangan publik tentang apa itu grooming.
Ringkasan Buku Broken Strings
Dalam buku tersebut, Aurelie menceritakan tentang pengalaman pahitnya menjadi korban grooming sejak usia remaja, tepatnya 15 tahun. Saat itu Aurelie yang merupakan blasteran Belgia-Indonesia baru terjun ke dunia entertainment Tanah Air, kemudian bertemu dengan orang-orang dewasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satunya ia sebut Bobby, yang akhirnya membuat Aurelie terjebak dalam hubungan toksik antara orang dewasa dengan anak di bawah umur. Aurelie menceritakan perlakuan-perlakuan tak mengenakkan dari sosok Bobby tersebut, mulai dari kekerasan verbal hingga fisik.
Aurelie baru menyadari bahwa yang dialaminya adalah grooming, termasuk pelecehan dan pemerkosaan, setelah dirinya beranjak dewasa. Menurutnya, ketika masih usia remaja, ia tidak menyadari hal tersebut karena pelaku menggunakan cara yang begitu halus dan manipulatif.
Kisah tersebut dibagikan Aurelie dalam bentuk buku setebal kurang lebih 200 halaman dan dapat diakses melalui tautan di akun media sosialnya, dengan harapan agar semakin banyak orang sadar dan waspada terhadap praktik child grooming.
Apa Itu Grooming?
Mengutip kamus Merriam-Webster, grooming atau secara spesifik child grooming adalah tindakan membangun hubungan dengan anak di bawah umur dengan tujuan mengeksploitasi korban, khususnya untuk aktivitas seksual tanpa persetujuan (nonconsensual).
Kepada detikHealth, Psikolog klinis Arnold Lukito menjelaskan bahwa proses grooming biasanya panjang dengan melibatkan relasi kuasa antara orang dewasa dengan anak di bawah usia 18 tahun, dengan tujuan mengeksploitasi anak tersebut.
"Proses grooming ini kita spesifik mengacu kalau ada sebuah periode waktu di mana ada interaksi, ini bisa orang yang dikenal, bisa orang yang tidak dikenal. Lalu ada proses manipulasi misalnya dengan memberikan hadiah atau ajak jalan-jalan seperti itu, lama-lama kan mulai ada kontrol," jelas Arnold, dilansir Minggu (11/1/2026).
Tahapan Grooming
Arnold menjelaskan tahapan grooming biasanya dimulai dengan proses manipulasi. Pada tahap ini, perilaku pelaku tampak manis, seperti memberikan hadiah atau mengajak korban jalan-jalan ke tempat bagus. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pelaku mulai menanamkan kontrol terhadap korban dan makin lama makin kuat.
Setelah merasa mendapatkan kontrol tersebut, pelaku akan mulai melakukan 'mendobrak' batas privasi korban seperti menyentuh bagian-bagian tertentu hingga kontak fisik yang tidak senonoh dan tidak pantas untuk anak di bawah umur.
"Lalu ada proses manipulasi misalnya dengan memberikan hadiah atau ajak jalan-jalan seperti itu, lama-lama kan mulai ada kontrol. Mulai pegang-pegang bagian tertentu, mulai ada kontak fisik yang tidak senonoh," ujar Arnold.
Tanda-tanda Grooming
Data dari lembaga perlindungan anak NSPCC (Inggris) dan Raising Children Network (Australia) mengungkapkan pelaku biasanya memiliki pola perilaku tertentu untuk 'menjerat' korban. Berikut adalah beberapa ciri khas pelaku child grooming, dikutip detikHealth.
1. Memberikan Perhatian Berlebih
Pelaku akan membanjiri korban dengan perhatian, pujian, atau hadiah untuk membuat anak merasa istimewa. Perasaan itu membuat anak seolah memiliki ikatan unik dengan orang dewasa tersebut.
2. Memberikan Hadiah Tak Terduga
Pelaku kerap menggunakan materi seperti uang, gadget, atau barang mewah sebagai alat kontrol. Korban akan merasa berutang budi dan sulit untuk menolak permintaan pelaku.
3. Mengisolasi Anak dari Lingkungan Sekitar
Pelaku akan pelan-pelan memisahkan anak dari lingkungan sosialnya. Mereka mungkin menghasut anak agar tidak percaya pada orang tua atau teman sebaya supaya pelaku menjadi satu-satunya sumber dukungan emosional.
4. Melakukan Testing Boundaries
Testing boundaries yang dimaksud adalah pelaku akan mencoba menerobos batasan fisik secara bertahap. Awalnya kontak fisik yang dianggap wajar seperti gandengan tangan dan pelukan, kemudian semakin lama semakin berkembang ke arah tak senonoh seperti menyentuh area tubuh privat.
5. Membangun Rahasia
Pelaku akan berkata soal rahasia, misalnya "Ini rahasia kita saja ya." Hal ini untuk menciptakan rasa kesetiaan yang salah dan mencegah anak melapor.
Dampak bagi Korban Grooming
Sementara itu, Psikolog klinis lainnya yakni Anastasia Sari Dewi mengatakan korban biasanya baru tersadar ketika sudah beranjak dewasa dan bisa memproses situasi secara lebih logis.
"Anak dapat mengalami kebingungan, hingga trauma yang mungkin baru mulai muncul ketika sudah dewasa. Dia menyadari memorinya masih ada, tapi karena dia masih anak-anak, dia masih abstrak sensasi emosi yang dirasakan," tutur Sari.
Seiring bertambahnya usia, kapasitas otak berkembang dan seseorang akan semakin paham akan nilai-nilai sosial serta batasan diri. Memori masa lalu yang dulunya dianggap 'biasa' atau 'abstrak' kemudian ditafsirkan ulang dengan kacamata dewasa. Hal ini dapat memicu guncangan emosional yang hebat di kemudian hari.
"Tapi begitu semakin dewasa, muncul pemahaman baru terhadap berbagai memori di masa lalunya, dikhawatirkan reaksi emosi yang sangat luar biasa besar, yang berpengaruh pada kesehatan mental dia berikutnya," pungkasnya.
(des/des)
