Bahaya Asap Karhutla bagi Paru-paru, Waspadai PM2.5 dan Gejalanya

Nadhifa Aurellia Wirawan - detikKalimantan
Selasa, 13 Okt 2026 13:01 WIB
Kualitas udara Palangka Raya. Foto: ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Samarinda -

Karhutla yang masih terus berlangsung di Kalimantan memicu banyak kekhawatiran. Bukan hanya api yang perlu diwaspadai, asap hasil kebakaran juga mengandung mikro partikel yang bisa terhirup dan masuk ke paru-paru.

Berdasarkan pantauan IQAir pada Selasa (13/10/2026), indeks kualitas udara di Palangka Raya mencapai 988 dan masuk dalam kategori berbahaya. Dibandingkan daerah lain di Kalimantan, Palangka Raya menjadi kota dengan indeks kualitas udara paling buruk.

Sementara itu, laporan ISPU Kemenlh mencatat Palangka Raya sebagai kota dengan Indeks Standar Pencemaran Udara tertinggi di Indonesia, angkanya mencapai 1.258 untuk PM2.5 dan masuk dalam kategori berbahaya.

Sekolah diliburkan, aktivitas di luar ruangan pun telah dibatasi. Namun, dampak asap karhutla masih sangat dirasakan dan berdampak pada kelompok masyarakat yang bekerja di luar ruangan, termasuk petugas pemadam kebakaran dan relawan yang bantu memadamkan api.

Lantas, bagaimana asap karhutla bisa berdampak pada kesehatan paru-paru dan bagaimana gejalanya? Simak informasi yang telah detikKalimantan rangkum berikut ini.

Bahaya PM2.5 dalam Asap Karhutla bagi Paru-paru

Dikutip dari laman UNAIR (unair.ac.id), pakar paru Universitas Airlangga, Dr dr Alfian Nur Rosyid SpP(K) FAPSR FCCP FISR, memaparkan sesuatu yang berbahaya dari asap karhutla berasal dari particulate matter (PM) 2.5. Partikel ini ukurannya sangat kecil dan tidak terlihat dengan kasat mata. Karena sangat kecil, PM 2.5 bisa masuk jauh ke dalam paru-paru.

Paparan dari partikel tersebut dapat memicu iritasi, peradangan, dan stres oksidatif. Selain itu juga dapat mengganggu barier pertahanan saluran pernapasan. Ketika terpapar terus menerus, akan muncul gejala seperti batuk, mata dan tenggorokan terasa perih, sakit kepala, dan sesak napas.

"Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis," jelas Dr Alfian.

Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) sendiri adalah salah satu penyakit paru yang menyebabkan terhambatnya aliran udara masuk ke paru dan gangguan pernapasan. Bagi detikers yang memiliki asma atau penyakit paru kronis, paparan asap karhutla bisa memperburuk kondisi kesehatan yang tengah diderita.




(des/des)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork