Apakah Bahaya Asap Karhutla Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Jawaban Studi

ADVERTISEMENT

Apakah Bahaya Asap Karhutla Bisa Menyebabkan Kematian? Ini Jawaban Studi

Fahri Zulfikar - detikEdu
Jumat, 09 Okt 2026 13:32 WIB
Kabut asap di Kota Jambi membuat langit berwarna kuning
Foto: Ferdi Almunanda/Asap parah di kota Jambi.
Jakarta -

Sejumlah wilayah di Indonesia memiliki kualitas udara terburuk di dunia dalam beberapa hari terakhir, menurut AQI (US). Masyarakat dipaksa untuk menghirup udara yang mengandung zat beracun akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Pada Kamis (8/10/2026), Jambi menjadi kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Skor AQI (US) mencapai 306 dan termasuk dalam kategori berbahaya. Kualitas udara yang parah juga terjadi di Pekanbaru, Palangka Raya, dan Palembang.

Sampai Jumat (9/10/2026) pukul 12.03 WIB, AQI (US) mencatat Jambi masih memiliki kualitas udara terburuk di dunia. Disusul Palangka Raya, Sampit, dan Pekanbaru. Sejumlah laporan mengatakan bahwa jarak pandang di wilayah dengan kualitas udara terburuk sangat pendek dan mengganggu kesehatan serta aktivitas sehari-hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pakar Paru Universitas Airlangga (Unair), Dr dr Alfian Nur Rosyid SpP(K) FAPSR FCCP FISR, mengatakan bahwa bahaya utama asap karhutla berasal dari kandungan Particulate Matter (PM) 2.5. Jika kandungan ini menembus paru-paru, maka bisa memicu iritasi, peradangan, stres oksidatif, dan merusak pertahanan alami saluran pernapasan.

"Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK, serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis," ujarnya, dikutip dari laman Unair, Jumat (9/10/2026).

ADVERTISEMENT

Seberapa Mematikan Asap Karhutla?

Menurut laporan The Guardian, studi di Lancet pada 2024 memaparkan bahwa asap tebal yang mengandung gas beracun dan mengiritasi saluran pernapasan, telah membunuh 1,5 juta orang setiap tahun. Jumlah ini lebih banyak daripada gabungan banjir, kobaran api, badai, dan panas.

Studi menerangkan bahwa asap dari materi tumbuhan yang hangus bisa sangat merusak jaringan paru-paru. Studi lain pada 2025 mengungkapkan bahwa karhutla di Kanada pada 2023 menyebabkan 82.000 kematian dini.

Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr Zata Dini, SpP, menekankan bahwa paparan asap karhutla memang memiliki bahaya yang serius. Menurutnya, banyak orang sering kali mengabaikan, padahal berbagai bahan kimia berbahaya di dalam asap sangatlah berbahaya, terlebih untuk kelompok rentan seperti anak-anak, balita, ibu hamil, lanjut usia, pekerja lapangan, dan penderita gangguan pernapasan.

"Kandungan gas karbon monoksida (CO) dalam asap karhutla juga sangat krusial untuk diwaspadai karena dapat mengikat hemoglobin dan menurunkan daya angkut oksigen dalam darah," paparnya.

Ketika terhirup, zat beracun tersebut dengan cepat merangsang gejala batuk, penumpukan lendir, suara serak, napas berbunyi (mengi), hingga sesak napas berat.

"Orang yang sebelumnya sehat bukan berarti sepenuhnya kebal terhadap polusi udara. Risiko gangguan paru tetap ada, terutama ketika konsentrasi polutan tinggi dan paparan berlangsung berulang," imbuhnya.

Cara Meminimalkan Dampak Buruk Kesehatan

Asap karhutla tidak bisa dihindari dampak buruknya. Namun, dampak pada kesehatan bisa diminimalkan.

Menurut dr. Zata, hal yang bisa dilakukan antara lain:

- Dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kepulan asap terlihat pekat

- Aktivitas olahraga luar ruangan ditunda

- Pastikan pintu dan jendela rumah tertutup rapat

- Disarankan menggunakan pemurni udara (air purifier) berbasis filter HEPA

- Apabila terpaksa harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat diimbau menggunakan respirator standar seperti N95, KN95, atau KF94 yang terpasang kedap (fit test) pada wajah

Meski begitu, dr. Zata mengingatkan bahwa masker respirator sekalipun tidak mampu menyaring gas beracun seperti karbon monoksida. Oleh karena itu, langkah terbaik adalah menghindari kontak dan meminimalkan paparan udara luar.

Sementara dr Alfian berpesan, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi obat sembarangan serta mewaspadai tanda bahaya klinis seperti sesak berat, bibir kebiruan, hingga penurunan kesadaran.

"Hindari langsung mengonsumsi antibiotik atau steroid tanpa pemeriksaan dokter, karena tidak semua keluhan akibat asap merupakan infeksi bakteri. Jika muncul tanda bahaya, segera ke fasilitas kesehatan," pesannya.



(faz/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads