Sisa bara kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali menyala dan membakar bangunan. Akibatnya, gedung kayu bekas SMKN 1 Bukit Santuai di Desa Tumbang Penyahuan, Kecamatan Bukit Santuai, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ludes terbakar, Rabu (14/10/2026).
Camat Bukit Santuai Agus Saptono membenarkan kejadian tersebut. Namun bangunan yang berada di kawasan Bukit Dau itu sudah ditinggalkan sejak 2016 setelah aktivitas sekolah dipindahkan ke lokasi baru.
"Benar kebakaran mengenai bangunan kayu SMKN 1 Bukit Santuai yang lama, yang sudah tidak difungsikan lagi," kata Agus Saptono, Rabu (14/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kebakaran diduga dipicu sisa bara api karhutla yang kembali membesar setelah kebakaran lahan pada Senin malam (12/10/2026). Tiupan angin kencang dan kondisi udara membuat bara yang semula tersisa kembali menyala hingga merembet ke bangunan kayu tersebut.
"Tim Relawan Karhutla Kecamatan Bukit Santuai menerima laporan dari warga RT 001/RW 001 setelah terlihat asap tebal dan bara api di sekitar lokasi. Api kemudian bergerak cepat sehingga petugas bersama masyarakat dan unsur terkait segera melakukan upaya pemadaman," katanya.
Penanganan tidak hanya difokuskan pada bangunan yang terbakar, tetapi juga mencegah api menjalar ke permukiman warga. Petugas membuat sekat bakar darurat, memadamkan titik api yang mendekati rumah penduduk, serta mendinginkan sisa kayu yang masih menyimpan bara.
Sejumlah unsur terlibat dalam penanganan tersebut, di antaranya Tim Relawan Karhutla Kecamatan Bukit Santuai, Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Tumbang Penyahuan, warga, perangkat desa, dan Babinsa. Mereka mengandalkan mesin pompa air, selang pemadam, serta cangkul untuk mengendalikan kebakaran.
"Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Lokasi bangunan berada di kawasan berbukit dengan akses yang sulit dilalui kendaraan pembawa air. Angin kencang juga membuat upaya pengendalian api menjadi lebih menantang," katanya.
Meski bangunan lama tersebut ludes terbakar, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian itu. Lokasinya berada cukup jauh dari permukiman warga sehingga upaya petugas dapat difokuskan untuk mencegah api meluas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMKN 1 Bukit Santuai Doni menjelaskan, sekolah telah meninggalkan gedung lama sejak 2016. Keputusan pindah diambil karena lokasi di atas Bukit Dau sulit dijangkau dan kerap menghadapi persoalan banjir.
Menurut Doni, pihak sekolah membeli lahan baru pada 2015, tidak jauh dari kantor Kecamatan Bukit Santuai saat ini. Pembangunan gedung kemudian dilakukan dan kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke lokasi tersebut pada 2016.
"Bangunan lama tidak dibongkar seluruhnya karena akses yang sulit menyulitkan pengangkutan material. Sebagian lantai berbahan kayu ulin sempat dimanfaatkan kembali untuk bangunan baru, sementara bagian lainnya dibiarkan hingga semakin rusak karena tidak lagi ditempati," ujarnya.
Doni memastikan gedung SMKN 1 Bukit Santuai yang sekarang berada di dekat kantor kecamatan dan puskesmas dalam kondisi aman. Awalnya sekolah di lokasi baru juga menggunakan bangunan kayu, sebelum mendapat bantuan dari pemerintah provinsi pada 2019 untuk membangun sejumlah ruangan permanen berbahan beton.
"Kalau di lokasi yang lama di bukit itu selain aksesnya sulit, juga banjir. Makanya pindah ke lokasi yang baru dekat Kantor Kecamatan dan Puskesmas. Saat ini bangunan baru aman," pungkasnya.
