Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengkhawatirkan. Di saat petugas berjibaku memadamkan api di sejumlah lokasi, titik kebakaran baru bermunculan sehingga memaksa personel memecah konsentrasi penanganan.
Hingga Selasa (14/7/2026), fokus utama pemadaman masih berada di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentaya Hulu. Kebakaran di kawasan lahan gambut itu telah berlangsung selama 11 hari dan masih menyisakan bara api di bawah permukaan tanah yang sulit dipadamkan.
Sementara itu, Desa Soren juga masih berstatus siaga. Memasuki hari keenam, api belum sepenuhnya dipadamkan sehingga petugas harus tetap bersiaga mencegah kobaran meluas.
Di tengah upaya tersebut, sejumlah titik api baru kembali muncul. Kebakaran dilaporkan terjadi di kawasan Lembur Kuring yang memiliki akses jalan sulit sehingga petugas harus memikul pompa portabel secara manual untuk melakukan penyekatan api.
Kebakaran juga terdeteksi di Jalan Jenderal Sudirman Km 11. Medan yang tidak memungkinkan kendaraan besar masuk. Proses pemadaman hanya mengandalkan kendaraan roda empat dan pompa portabel.
Selain itu, lahan di Jalan MT Haryono Barat sempat terbakar akibat dugaan pembakaran sampah di pinggir jalan oleh warga. Sementara di Desa Ramban, api mulai merembet dan mengancam wilayah Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
Banyaknya titik kebakaran yang muncul hampir bersamaan membuat BPBD Kotim menghadapi tantangan berat. Keterbatasan personel dan armada menjadi kendala utama dalam mengendalikan situasi di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengakui kondisi petugas mulai mengalami kelelahan setelah bekerja tanpa henti selama beberapa hari terakhir.
"Kami terbatas sekali, baik personel maupun armada. Personel juga dalam kondisi stamina sudah habis. Sementara malam mereka harus standby lagi secara bergantian," kata Multazam, Selasa malam.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, BPBD Kotim kini menggandeng pemerintah kecamatan agar dapat melakukan penanganan awal di lokasi kejadian. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat respons sebelum tim utama tiba dan mencegah api meluas ke kawasan yang lebih besar.
Simak Video "Memasak Kuliner Tradisional Khas Palangkaraya Bersama Keturunan Dayak"
(sun/bai)