Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengkhawatirkan. Hingga 10 Juli 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 142,99280 hektare, seiring munculnya 325 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kecamatan saat musim kemarau memasuki puncaknya.
Menurut data Pemerintah Kabupaten Kotim, ratusan hotspot tersebut berkaitan dengan 64 kejadian Karhutla. Dari jumlah itu, 57 kejadian dipadamkan tim gabungan, sementara sisanya masih dalam proses penanganan dan pemantauan di lapangan.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan peningkatan hotspot menjadi sinyal kewaspadaan bagi seluruh unsur penanggulangan bencana. Tim gabungan terus memperkuat patroli dan pemantauan di wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jumlah hotspot yang terdeteksi menjadi salah satu indikator kewaspadaan. Tim gabungan terus melakukan patroli, pemantauan, dan penanganan di lapangan untuk mencegah kebakaran meluas," kata Multazam, Sabtu (11/7/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan hotspot tidak selalu berarti terdapat api di lokasi tersebut. Setiap indikasi panas yang terdeteksi satelit harus diverifikasi langsung sebelum dipastikan sebagai kejadian Karhutla.
"Wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak berada di Kecamatan Kota Besi sebanyak 72 titik, disusul Antang Kalang 68 titik, Mentaya Hulu 31 titik, Tualan Hulu 23 titik, Bukit Santuai 22 titik, dan Telaga Antang 21 titik," ujarnya.
Namun, dari sisi luasan kebakaran, Kecamatan Parenggean menjadi wilayah yang paling terdampak dengan 40 hektare lahan terbakar. Berikutnya Mentaya Hilir Ketapang seluas 32,827 hektare, Baamang 21,9478 hektare, Pulau Hanaut 20,75 hektare, dan Teluk Sampit 8,3 hektare.
Sebaran kebakaran juga menunjukkan mayoritas Karhutla terjadi di wilayah tengah dan selatan Kotim. Kawasan selatan menyumbang 71,185 hektare atau sekitar 49,78 persen dari total luas kebakaran, sedangkan wilayah tengah mencapai 70,3578 hektare atau 49,20 persen. Sementara itu, wilayah utara hanya mencatat 1,45 hektare atau sekitar 1,01 persen.
"Sebagian besar luasan kebakaran berada di wilayah tengah dan selatan. Ini menjadi perhatian kami karena kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah berkembang," ujar Multazam.
Jika dilihat dari frekuensi kejadian, Mentaya Hilir Ketapang menjadi kecamatan dengan kasus Karhutla terbanyak yakni 28 kejadian, dengan 26 kejadian bisa ditangani. Sementara itu, Baamang mencatat 14 kejadian dan seluruhnya telah dipadamkan oleh petugas.
BPBD Kotim kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran selama musim kemarau.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan. Pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan terjadinya Karhutla," tegas Multazam.
