Perjuangan Pelajar Gunungkidul Tembus Tim Senior PSIM

Round-Up

Perjuangan Pelajar Gunungkidul Tembus Tim Senior PSIM

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 13 Agu 2026 07:45 WIB
Kiper muda PSIM Jogja, Athaullah Daib di Stadion Mandala Krida Kota Jogja, Selass (11/8/2026)
Kiper muda PSIM Jogja, Athaullah Daib di Stadion Mandala Krida Kota Jogja, Selass (11/8/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Athaullah Daib resmi menjadi pemain termuda di PSIM Jogja. Athaullah dikontrak saat masih duduk di bangku kelas 11 SMAN 2 Playen, Gunungkidul.

Kiper berusia 16 tahun itu mengaku bersyukur bisa tembus tim senior PSIM. Ia pun menceritakan perjuangannya yang menunjukkan bergabungnya dengan PSIM ternyata bukan sekadar keberuntungan.

"Pertama-tama saya mengucapkan alhamdulillah sudah bisa masuk di tim senior di umur 16 tahun ini. Di samping itu ada kerja keras dari saya, dari seleksi EPA, kemudian main di EPA. Terus alhamdulillah bisa masuk ke tim senior ini," kata Athaullah kepada wartawan, Rabu (12/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wujudkan Mimpi Masa Kecil

Menjadi pemain senior PSIM ternyata merupakan mimpi Athaullah. Dahulu, ia hanya membayangkan bisa suatu hari mengenakan seragam tim senior Laskar Mataram.

"Dulunya cuma mimpi saya bisa main di senior. Terus alhamdulillah sekarang sudah jadi kenyataan," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Bermodalkan mimpi itu, sudah sejak kecil ia berlatih sepakbola. Ia sempat mendapat tempaan dari Ony Kurniawan, legenda hidup PSIM yang turut membentuk karakter dan permainannya.

Menurut Athaullah, banyak hal yang diajarkan Ony kepadanya, terutama soal teknik dan cara bermain. Namun, ada satu pesan yang paling diingatnya hingga sekarang.

"Kalau Mas Ony itu banyak. Terutama saat bermain, dia bilang ke saya, 'Bermainlah pakai hati'," katanya.

Pesan tersebut kini terasa semakin penting setelah dirinya masuk ke tim senior PSIM. Ia harus berlatih dan bersaing dengan pemain-pemain yang usianya jauh lebih matang.

Nglaju ke Jogja demi Latihan

Ada proses panjang yang dijalaninya sejak usia muda, termasuk mengikuti seleksi dan bermain di Elite Pro Academy (EPA) PSIM.

Kerja kerasnya dalam membagi waktu antara sekolah di Gunungkidul dan latihan pun perlu diacungi jempol. Untuk latihan, Athaullah langsung bertolak ke Jogja sepulang sekolah. Hal itu ia lakukan hampir setiap hari.

"Kalau latihannya sore, saya berangkat sekolah dulu. Habis itu saya izin di siang hari, terus langsung berangkat latihan," ujarnya.

"Iya nglaju, biasanya pakai motor atau nggak diantar pakai mobil," lanjutnya.

Dia mengaku beberapa kali terpaksa meninggalkan sekolah demi karirnya di sepakbola. Ia mengaku bersyukur mendapat dukungan penuh dari orang tuanya.

"Kalau orang tua bilangnya, 'Jalanin dulu aja, Kak'," tuturnya.

Pernah ke Swedia Saat Usia 13 Tahun

Sebelum bergabung dengan EPA PSIM, Athaullah juga sudah memiliki pengalaman internasional. Pada 2023, ketika masih berusia 13 tahun, ia mengikuti program BARATI dan berkesempatan berangkat ke Swedia.

"Dulu sempat ke Swedia, Tim BARATI. Tahun 2023, umur 13 tahun. Itu kan seleksinya di Bali itu. Terus alhamdulillahnya saya bisa ikut, terus berangkat ke Swedia baru tahun 2023," tuturnya.

Kini, setelah mendapatkan kontrak profesional bersama PSIM selama satu musim, target Athaullah pun semakin tinggi.

"Semoga bisa menjadi lebih baik dari kemarin," ucapnya.

Ia juga memiliki satu impian besar yang ingin diwujudkan yakni membela Timnas Indonesia.

"Kalau itu ada (impian membela Timnas Indonesia). Semoga bisa," pungkasnya.



(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads