Pemain Kafi Jogja FC Dwi Pilihanto disanksi larangan main seumur hidup buntut tendangan kungfu saat laga lawan UAD FC Liga 4 DIY. Selain hukuman gantung sepatu, Dwi juga disanksi satu juta rupiah.
Sanksi itu tertuang dalam Surat Keputusan Nomor: 005/Pandis_Liga4DIY_PSSI_DIY/I/2026. Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI DIY menyatakan pemain bernomor punggung 2 itu melanggar Pasal 48 Jo. Pasal 49 Jo. Pasal 10 Jo. Pasal 19 Kode Disiplin PSSI 2025.
"Selain diharamkan menyentuh lapangan hijau seumur hidup, Dwi Pilihanto juga diwajibkan membayar denda administratif sebesar satu juta rupiah," ucap Sekretaris Umum Asprov PSSI DIY, Wendy Umar Senoadji dalam keterangan resmi, Rabu (7/1/2026) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sanksi itu dijatuhkan Asprov DIY usai laga UAD FC dan Kafi Jogja FC di Lapangan Sitimulyo, Piyungan, Bantul, pada Selasa (6/1) lalu. Laga itu diwarnai benturan keras antarpemain.
Potongan video itu pun viral di media sosial. Insiden tersebut terjadi pada menit ke-72 saat pemain Kafi FC, Dwi Aan, tampak mengangkat kaki terlalu tinggi hingga menyerupai tendangan kungfu.
Aksi itu mengenai kepala pemain UAD FC, Amirul, yang langsung terjatuh dan memegangi kepalanya. Pada laga itu Kafi Jogja FC menang dengan skor 1-0.
Tak hanya Dwi Aan, sanksi juga bakal diberikan kepada perangkat pertandingan yang bertugas. Komite Wasit PSSI DIY menyatakan akan mengevaluasi dan membina perangkat pertandingan terkait.
"Kami melakukan evaluasi dan penyegaran penerapan Laws of the Game serta regulasi pertandingan secara menyeluruh kepada seluruh perangkat pertandingan di lingkungan PSSI DIY," kata Wendy.
Pelatih Kafi FC Minta Maaf
Aksi tendangan kungfu Dwi Aan itu juga membuat pelatih Kafi Jogja FC meminta maaf. Insiden itu disebut terjadi cepat dan kondisi bola yang tidak stabil turut mempengaruhi kejadian di lapangan.
"Saya sebagai pelatih meminta maaf terkait insiden tadi karena kita tidak menginginkan hal seperti ini terjadi," ucap Nopendi saat dihubungi wartawan, Rabu (7/1).
Nopendi mengaku sudah mengingatkan anak asuhnya bermain fair play. Namun, dinamika di lapangan diakuinya sulit dikendalikan sepenuhnya.
"Dari awal saya sudah tekankan untuk bermain fair play. Tapi di lapangan kita tidak tahu kondisi seperti apa. Yang jelas, sebagai pelatih saya juga merasa bersalah atas kejadian ini," katanya.
Terpisah, Manajer UAD FC, Ahid Mudayana, menyesalkan kejadian yang dialami salah satu pemainnya. Dia menyebut pelanggaran berbahaya itu tak seharusnya dilakukan sesama pemain sepakbola.
"Kami sangat menyayangkan dengan adanya kejadian tersebut apalagi sebenarnya kedua tim bermain cukup baik. Wasit harus lebih jeli dan tegas terhadap pelanggaran yang membahayakan pemain agar kejadian tersebut tidak terulang lagi kedepannya," katanya.
"Jangan sampai sepakbola di Jogja menjadi tidak bermartabat dengan kejadian-kejadian yang dapat merugikan tim peserta Liga 4," harapnya.
(ams/apu)












































Komentar Terbanyak
Tersangka Ijazah Palsu Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis Sowan ke Rumah Jokowi
Momen Pelukan Erat Jokowi-2 Tersangka Tudingan Ijazah Palsu di Solo
Kenapa Presiden Venezuela Ditangkap Amerika? Ini Penjelasannya