Ketika mendengar atau membaca nama Gunung Api Nglanggeran, detikers mungkin langsung memikirkan keindahannya. Saat Matahari bersinar terik, gunung ini memang tampak kokoh sekaligus 'tua' dengan formasi bebatuan dan vegetasi yang menyelimutinya.
Dirujuk dari laman resminya, Gunung Nglanggeran di Gunungkidul atau juga dikenal sebagai Gunung Api Purba berjarak kira-kira 25 kilometer dari Kota Jogja. Jarak tersebut dapat diatasi dengan 40 menit sampai 1 jam perjalanan saja menggunakan sepeda motor.
detikers yang berminat mengunjunginya dapat memulai perjalanan lewat Jalan Jogja-Wonosari, melewati Bukit Bintang. Dari Bukit Bintang, lanjutkan perjalanan menuju Kantor Polisi Sektor Patuk. Setelah itu, teruskan ke arah Puskesmas Patuk II. Dekat situ, terletak Desa Nglanggeran tempat Gunung Api Purba Nglanggeran berdiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang, Gunung Api Purba Nglanggeran sudah pensiun dan tak lagi 'batuk-batuk', berbeda dengan Merapi di Sleman yang masih panas. Apakah dalam sejarahnya, gunung purba di Gunungkidul ini pernah meletus dahsyat? Simak kisahnya di bawah ini!
Poin Utamanya:
- Gunung Api Purba Nglanggeran sudah eksis pada masa Oligo-Miosen, sekitar 0,6-70 juta tahun yang lalu.
- Diperkirakan, Gunung Nglanggeran aktif erupsi pada 16-15 juta tahun yang lalu. Posisinya di dasar laut berlahan-lahan terangkat akibat letusan itu.
- Nama Gunung Api Purba Nglanggeran konon berasal dari kutukan seorang dalang yang marah. Di lereng-lerengnya, ada banyak tempat menarik yang kental nuansa mistis.
Gunung Api Purba Nglanggeran Pernah Meletus, Kapan?
Dirujuk dari buku Profil Desa Wisata Nglanggeran yang diunggah Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Gunung Api Nglanggeran adalah gunung dari zaman tersier. Artinya, gunung ini sudah ada sejak masa Oligo-Miosen, sekitar 0,6 sampai 70 juta tahun yang lalu.
Keaktifannya pada zaman dahulu dibuktikan dengan banyaknya batuan sedimen vulkanik klastik, seperti breksi andesit dan tufa. Belum lagi, adanya aliran lava andesit. Puncaknya pun memiliki kawah, menguatkan bahwa dulu gunung ini pernah erupsi.
Waktu meletusnya Gunung Api Nglanggeran tidak diketahui pasti. Namun, berdasar penelitian Rahardjo, terjadi pada belasan juta tahun yang lampau.
"Dalam kajiannya, Rahardjo (1997), memperkirakan proses kegunungapian Nglanggeran intens terjadi sekitar 16-15 juta tahun yang lalu (Miosen Awal)... Sebagai gambaran, Gunung Nglanggeran itu dahulu aktivitasnya layaknya gunungapi masa kini, seperti Merapi," bunyi penjelasan di buku Nglanggeran Antara Prambanan dan Wediombo oleh Arief Prabowo dkk.
Letak Gunung Api Purba Nglanggeran di Dasar Laut
Dewasa ini, detikers dapat dengan mudah menyambangi gunung legendaris satu ini tanpa perlu berbasah-basah. Namun, tahukah kamu, dulunya, Gunung Api Purba Nglanggeran berada di dasar laut?
"Dulu, gunung ini adalah gunung berapi aktif di dasar laut. Ketika meletus dia terangkat beberapa cm selama bertahun-tahun hingga sekarang menjadi seperti ini," ujar Tari, pemandu wisata Gunung Api Purba Nglanggeran, dilansir detikTravel.
Berdasar informasi dari Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul, Gunung Api Nglanggeran saat ini memiliki ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), tepatnya di Gunung Gedhe. Luas total kawasan pegunungan mencapai 48 hektar.
Tinggi ini masih kalah jauh dibanding Gunung Merapi yang ada di 2.930 mdpl. Tentunya, juga di bawah Gunung Semeru yang memegang predikat gunung tertinggi pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 mdpl. Meski begitu, daya tarik Nglanggeran boleh diadu.
Kisah di Balik Nama Nglanggeran
Yang membuat Gunung Api Purba Nglanggeran mengagumkan bukan hanya lanskap alamnya, tetapi juga sisi sosial-budayanya. Dikutip dari jurnal Widyaparwa berjudul 'Eksplorasi Folklor Kampung Pitu Nglanggeran (Kajian Sastra dengan Pendekatan Pariwisata)' oleh Dyah Ayu Putri Utami dan Ari Kusmiatun, nama 'Nglanggeran' konon berasal dari kata 'nglanggar'.
Dalam bahasa Jawa, nglanggar berarti melanggar. Kabarnya, ratusan tahun lalu, para warga mengundang seorang dalang untuk menggelar pertunjukan wayang. Acara ini diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas panen melimpah.
Alih-alih berjalan tenang, beberapa warga justru coba merusak wayang yang dibawa untuk pertunjukan. Dalang yang murka mengutuk perusak wayang itu dan membuangnya ke puncak bukit.
Disadur dari situs resmi Badan Otorita Borobudur (BOB), warga yang merusak wayang dikutuk menjadi wayang, lalu dibuang di Gunung Nglanggeran. Alhasil, masyarakat setempat percaya gunung purba ini dijaga tokoh pewayangan, yakni Punakawan bernama Kyai Ongko Wijoyo.
Tempat-tempat Menarik di Gunung Api Purba Nglanggeran
Gunung api yang dahulu pernah 'berjaya' ini sekarang dimanfaatkan sebagai objek wisata. Banyak orang tertarik melakukan pendakian di lereng-lerengnya yang curam, tetapi punya panorama indah tak terperikan.
Menariknya, seperti dijelaskan Eko Sugiarto dalam Prosiding Seminar Hasil Penelitian Kesastraan bertajuk 'Cerita Rakyat sebagai Daya Tarik Wisata: Studi Kasus di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran', sepanjang jalur pendakian, ada sederet tempat menarik, seperti:
1. Mata Air Kalisong
Konon, mata air ini adalah tempat macan putih yang merupakan kesayangan Kyai Soyono, roh penunggu desa. Warga sekitar menggunakan Mata Air Kalisong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Lorong Sumpitan
Dulunya, lorong sempit ini tidak boleh dilalui karena diyakini sebagai 'ruang imajiner' yang menghubungkan Gunung merapi dan Laut Selatan. Namun, 'berkat' kemacetan pengunjung pada kurun 2012-2014, Lorong Sumpitan dibuka.
3. Mata Air Comberan
Kabarnya, air di Mata Air Comberan adalah sisa mandi para bidadari di Tlogo Wungu. Tlogo Wungu sendiri adalah mata air di puncak Gunung Apu Purba Nglanggeran yang tidak kasat mata. Hanya orang tertentu saja yang bisa menyaksikannya.
4. Tapak Syahadatain
Tapak Syahadatain adalah tempat semedi untuk mendapatkan anugerah dari Sang Pencipta. Berada dekat Mata Air Comberan, Tapak Syahadatain dipakai untuk melakukan ritual khusus agar keinginan atau cita-cita terkabul. Dalam sejarahnya, Tapak Syahadatain dipasang pada 2008 silam oleh sembilan orang yang sudah melakukan ritual selama 3 hari 3 malam.
Demikian sekilas kisah mengenai Gunung Api Purba Nglanggeran, gunung 'mati' yang melegenda di Gunungkidul. Semoga menambah wawasan detikers, ya!
(sto/ahr)












































Komentar Terbanyak
Dua Jambret di Sleman Tewas Nabrak Saat Kabur, Pengejar Malah Jadi Tersangka
Heboh Mbak Rara Pawang Diusir Saat Prosesi Labuhan, Ini Kata Keraton Jogja
Kondisi Terkini Ibu dan Anak Korban Perkosaan Bantul yang Diusir Warga