Siapa tak kenal masakan gudeg yang merupakan kuliner legendaris khas Jogja. Wisatawan bisa menemukan masakan yang berasal dari gori atau nangka muda ini dengan mudah saat jalan-jalan di kota itu.
Namun, kini Jogja sedang mengalami masalah besar dalam pengembangan kuliner gudeg tersebut. Daerah tersebut mengalami kekurangan stok nangka muda yang merupakan bahan baku utama gudeg.
Fakta yang diungkap oleh salah satu pembesar Keraton Jogja itu menjadi salah satu artikel yang banyak diakses oleh pembaca detikJogja dalam sepekan terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adalah Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara yang menyebut Jogja kini kekurangan produksi nangka muda. Hal itu disampaikan dalam acara forum Wonderful Indonesia Gastronomy Talk di Jogja, Jumat (2/10/2026).
"Ada permasalahan yang sedang coba ditangani oleh pemerintah daerah, itu adalah sourcing buah nangka untuk gudeg," kata GKR Bendara dalam acara tersebut.
Penyebabnya adalah terbatasnya jumlah pohon nangka yang ada di daerah itu. Hal itu membuat produsen gudeg harus mengandalkan pasokan nangka muda dari daerah lain.
"Kebanyakan nangkanya itu dari luar Jogja, karena di Jogja itu kekurangan pohon nangka," jelasnya.
Beberapa produsen gudeg bahkan mulai berkreasi dengan menggunakan bahan lain sebagai bahan baku gudeg. Di Gunungkidul, misalnya, pengusaha kuliner gudeg menggunakan batang pohon pisang sebagai bahan utama.
"Bahkan di Gunungkidul itu, mereka sudah tidak pakai nangka tetapi gedebok pisang, batang pohon pisang, jadi gudeg gedebok pisang," kata dia.
GKR Bendara juga menyebut Jogja sebenarnya memiliki keragaman kuliner lain yang perlu dijajal oleh wisatawan. Hanya saja kuliner itu masih belum begitu populer.
Pihaknya saat ini terus mendorong agar pengusaha kuliner juga ikut mengangkat dan memperkenalkan keragaman kuliner itu kepada pelanggannya.
"Begitu banyak sebetulnya, ada beberapa makanan yang sudah tidak populer sekarang, padahal itu adalah salah satu dari sejarah kita. Jadi ada nasi golong gilig, sajian itu hanya dikeluarkan pada saat ada acara tertentu. Ini yang juga kita pre-serve menjadi, paling tidak narasinya apa, kita bisa reintroduce kepada industri untuk mulai memperkenalkannya ke restoran," imbuhnya.
"Ada juga namanya dawet sambal di Kulon Progo, ini sudah menjadi warisan budaya. Ini originalnya yang buat juga masih ada, tetapi tidak ada regenerasinya karena memang tidak banyak yang mengulasnya," ungkapnya.
