Penampakan Karangan, Makanan Khas Bantul dari Rumput Laut yang Mulai Langka

Penampakan Karangan, Makanan Khas Bantul dari Rumput Laut yang Mulai Langka

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Minggu, 29 Mar 2026 12:05 WIB
Mengenal karangan, makanan khas Bantul yang terbuat dari rumput laut. Kini sudah mulai langka.
Penampakan Karangan yang dijual di Pasar Turi, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Bantul -

Kabupaten Bantul, khususnya di Kapanewon Kretek, memiliki makanan khas berbahan rumput laut bernama karangan. Makanan yang bertekstur mirip agar-agar itu terbilang langka karena tinggal segelintir orang saja yang menjualnya, selain itu karangan bisa mencegah kanker.

Penjual Karangan, Karti (49), mengatakan awalnya di tempat tinggalnya yakni Sono, Parangtritis, Kretek, Bantul banyak produsen karangan. Menurutnya, masyarakat Bantul membuat karangan secara turun temurun.

"Jadi dulu orang Sono membuat karangan semua, tapi sekarang tinggal simbok (ibu) saya dan saya. Karena mereka menilai membuat Karangan itu lama dan tidak sebanding dengan harga jual yang murah," kata Karti saat ditemui detikJogja di kediamannya, Sono, Parangtritis, Kretek, Bantul, Minggu (29/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rumput laut yang menjadi bahan baku Karangan saat dibersihkan dari batu-batu.Rumput laut yang menjadi bahan baku Karangan saat dibersihkan dari batu-batu. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

Karti kemudian menceritakan awal mula nama karangan itu. Menurut Karti, karangan merupakan nama lain rumput laut dalam bahasa Jawa. Selain itu, rumput laut kebanyakan berada di karang-karang.

ADVERTISEMENT

"Sejarah karangan itu dari rumput laut, dari laut. Tumbuhnya rumput laut kan di karang-karang, lalu disebut karangan. Tapi kalau orang asing (bukan orang Jawa) menyebutnya rumput laut," ujarnya.

Karti mengatakan saat ini hanya tersisa dirinya dan Ibunya, Rudikem (73), yang menjual karangan. Adapun sehari-harinya, Karti menjajakan karangan di Pasar Celep, Srigading, Sanden, Bantul.

"Saya jualan Karangan setiap hari di Pasar Celep, tapi kalau pasaran Pahing kadang-kadang saya libur. Kalau simbok jualan karangan di Pasar Angkruksasi (Kretek) setiap pasaran Pon, Wage, Kliwon, dan Legi sama cucunya karena simbok pendengarannya sudah berkurang," ucapnya.

Biasanya Karti dan ibunya mulai manjajakan karangan mulai sejak pukul 03.30 WIB hingga setelah waktu salat subuh. Selain di dua pasar tersebut, Karti menyebut jika Rudikem juga berjualan di Pasar Rakyat Turi, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul.

"Untuk yang di Pasar Turi hanya saat pasaran Pahing saja mulai pagi sampai jam 11-12 siang. Tapi kalau bulan Ramadan kami libur jualan karena untuk istirahat lalu kan tidak begitu laku karena membuat karangan itu memakan waktu lama," katanya.

Adapun terkait proses pembuatannya, Karti memulai dengan membersihkan batu dari rumput laut. Setelah itu, proses selanjutnya adalah mencuci rumput laut hingga bersih.

"Lalu memasak air, jika air sudah mendidih rumput lautnya dimasukkan dan diberi air asam. Perebusannya sambil diremas-remas sampai seperti bubur sekitar tiga sampai empat jam sambil diberi garam, terus nanti akhirnya jadi seperti agar-agar itu," ujarnya.

Dalam sekali produksi, Karti memerlukan 3-4 kilogram rumput laut. Bahan baku itu dibeli dari petani rumput laut dari Gunungkidul.

"Rasa karangan itu asin, gurih dan baunya amis. Karangan biasanya bisa tahan sehari tanpa masuk kulkas, tapi kalau masuk kulkas bisa sampai 2-3 hari," ucapnya.

Di balik proses pembuatan yang panjang itu, Karti mengaku menjual karangan dengan harga terjangkau.

"Satu biji karangan, satu biji itu satu sendok sayur Rp 1.000," katanya.

Meski terbilang murah, Karti mengaku hasil menjual Karangan cukup untuk hidup sehari-hari. Saat disinggung mengenai omzet penjualan Karangan, Karti enggan mengungkapkannya.

"Kalau itu (omzet) saya tidak bisa memberitahu, tapi yang jelas cukup untuk hidup sehari-hari. Selain itu, Alhamdulillah masih untung, ya intinya tidak usah dihitung-hitung yang penting bisa untuk mencukupi," ucapnya.

Karti menyebut dalam dagangannya pasti habis. Menurutnya, semua itu karena sudah tidak ada lagi penjual Karangan lainnya.

"Sehari Alhamdulillah habis, karena yang jualan ya hanya saya sama simbok. Jadi tidak ada saingannya," ujarnya.

Dia juga mengaku kalau pada saat momen Lebaran lalu, sempat ada penyesuaian harga. Dua biji karangan dijual Rp 2.500.

"Kalau Lebaran dua biji Rp 2.500 atau Rp 5.000 dapat empat biji," katanya disusul tawa.




(par/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads