Isu seputar gula dan perilaku anak sering muncul bersamaan dengan momen liburan panjang, perayaan, dan hari besar. Di saat jadwal cuti bersama dan libur nasional memberi ruang lebih banyak untuk berkumpul, konsumsi makanan manis pada anak pun biasanya ikut meningkat. Dari sinilah pertanyaan klasik kembali mengemuka, apakah benar gula membuat anak menjadi hiperaktif?
Banyak orang tua merasa yakin telah melihat sendiri perubahan perilaku anak setelah makan permen, cokelat, atau minuman manis. Anak terlihat lebih aktif, sulit diam, dan mudah terdistraksi. Fenomena ini kerap disebut sebagai sugar rush, istilah populer yang sudah lama beredar di masyarakat.
Namun, apakah anggapan tersebut benar secara ilmiah, atau hanya persepsi yang terbentuk dari situasi dan ekspektasi orang dewasa? Untuk menjawabnya, mari simak arti sugar rush dan penjelasannya berikut ini, detikers!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Sugar rush bukan istilah medis, dan penelitian besar menunjukkan gula tidak secara langsung menyebabkan hiperaktivitas pada sebagian besar anak.
- Persepsi orang tua dan suasana perayaan sering menjadi faktor utama anak terlihat lebih aktif setelah makan manis.
- Meski tidak memicu hiperaktivitas, konsumsi gula anak tetap perlu dibatasi demi kesehatan jangka panjang.
Apa Arti Sugar Rush?
Istilah sugar rush sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika anak terlihat sangat aktif, bersemangat, atau sulit diam setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis. Banyak orang tua mengaitkan lonjakan energi ini langsung dengan gula yang masuk ke tubuh anak.
Namun, menurut laporan CNN Health, sugar rush bukanlah istilah medis. Para ahli gizi dan peneliti tidak menemukan bukti kuat bahwa gula secara langsung menyebabkan lonjakan perilaku hiperaktif pada anak.
Kristi L King, ahli diet anak di Texas Children's Hospital, menjelaskan bahwa dari bukti ilmiah yang ditelaah sejauh ini, gula tidak bisa dipastikan sebagai penyebab utama anak menjadi hiperaktif. Namun, efek kecil pada sebagian anak tidak sepenuhnya bisa dikesampingkan.
CNN juga menyoroti bahwa ketika anak mengonsumsi gula, situasinya sering berbarengan dengan momen menyenangkan seperti ulang tahun, liburan, atau pesta. Kondisi ini secara alami memicu kegembiraan, yang kemudian tampak seperti efek sugar rush. Dengan kata lain, anak bisa terlihat 'meledak energinya' bukan karena gulanya, melainkan karena suasana yang memang sudah seru sejak awal.
Selain itu, King hormon adrenalin bisa berperan. Saat anak merasa senang atau bersemangat, tubuh melepaskan adrenalin yang meningkatkan detak jantung dan aliran darah ke otot. Efek inilah yang bisa membuat anak terlihat gelisah, ingin terus bergerak, dan sulit duduk diam, lalu disalahartikan sebagai dampak gula.
Mitos atau Fakta Sugar Rush Bisa Bikin Anak Hiperaktif?
Berdasarkan penelitian yang dirujuk CNN dan WebMD, anggapan bahwa gula secara langsung membuat anak hiperaktif lebih dekat ke mitos. Meskipun begitu, ada sejumlah catatan penting.
Sebuah meta-analisis besar yang dimuat di Journal of the American Medical Association (JAMA) pada pertengahan 1990-an meninjau 16 studi tentang pengaruh gula terhadap perilaku anak. Hasilnya menyimpulkan bahwa gula tidak memengaruhi perilaku atau kemampuan kognitif anak.
Namun, peneliti juga menegaskan bahwa kemungkinan efek kecil pada kelompok anak tertentu tidak bisa sepenuhnya dihilangkan. Temuan ini juga diperkuat oleh ulasan WebMD yang menyebut sebagian besar studi tidak menemukan hubungan langsung antara konsumsi gula dan hiperaktivitas.
Menariknya, baik CNN maupun WebMD menyoroti peran persepsi orang tua. Dalam sebuah studi yang dibahas CNN, para ibu diminta menilai perilaku anak mereka setelah minum minuman tertentu.
Ketika ibu diberi tahu bahwa anaknya mengonsumsi minuman bergula, mereka cenderung menilai anak lebih hiperaktif, padahal minuman tersebut sebenarnya tidak mengandung gula. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi orang tua bisa memengaruhi cara perilaku anak ditafsirkan.
Meski begitu, ada pengecualian. Menurut Jill Castle, ahli gizi anak yang dikutip CNN, sebagian kecil anak, terutama yang memiliki attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), bisa lebih sensitif terhadap gula. Pada anak-anak ini, konsumsi makanan manis dapat berhubungan dengan perilaku yang lebih agresif, sulit diatur, atau tampak lebih hiperaktif.
Namun, Castle juga menekankan bahwa sering kali sulit memisahkan efek gula dengan zat lain. Contohnya seperti pewarna makanan dan perisa buatan yang banyak terdapat dalam makanan manis juga memiliki efek samping bagi anak.
Kesimpulannya, baik penjelasan dalam CNN maupun WebMD sepakat bahwa gula bukan penyebab utama hiperaktivitas pada sebagian besar anak. Jika anak tampak sangat aktif setelah makan manis, penyebabnya bisa berasal dari suasana, ekspektasi orang tua, respons hormon tubuh, atau faktor lain seperti pola tidur dan kondisi emosional. Meski demikian, membatasi asupan gula tetap penting demi kesehatan jangka panjang anak, terlepas dari isu hiperaktivitas.
Berapa Batas Konsumsi Gula Harian pada Anak?
Selain memahami soal sugar rush, orang tua juga perlu tahu batas aman konsumsi gula harian anak agar kesehatan tetap terjaga. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menetapkan batas konsumsi gula maksimal 50 gram per hari, atau setara sekitar 4 sendok makan.
Sementara itu, American Heart Association (AHA) memberi batas yang lebih ketat, terutama untuk anak. AHA menyarankan anak usia 2-18 tahun mengonsumsi kurang dari 6 sendok teh gula per hari, atau sekitar 24 gram. Bahkan, konsumsi minuman manis untuk anak dianjurkan tidak lebih dari 230 mililiter per minggu.
Yang sering luput disadari, gula tidak hanya berasal dari permen atau minuman manis. Banyak makanan sehari-hari sudah mengandung gula alami, seperti buah, susu, yogurt, hingga karbohidrat olahan yang di dalam tubuh bisa diubah menjadi gula. Artinya, kalau anak sudah mendapat gula dari makanan utama dan camilan alami, gula tambahan dari permen, cokelat, atau minuman manis sebaiknya sangat dibatasi.
Sebagai gambaran sederhana, jika batas aman gula anak adalah sekitar 24 gram per hari, maka satu permen cokelat kecil atau satu minuman manis kemasan saja bisa menyumbang lebih dari setengah kebutuhan gula harian. Karena itu, bukan berarti anak sama sekali tidak boleh makan manis, tetapi porsinya perlu dikontrol. Semakin sedikit gula tambahan yang dikonsumsi, semakin kecil pula risiko gangguan kesehatan dalam jangka panjang.
Singkatnya, sugar rush lebih sering dipengaruhi suasana dan persepsi orang tua, bukan gula itu sendiri, namun membatasi asupan gula anak tetap penting demi kesehatan jangka panjang. Semoga bermanfaat, detikers!
(sto/aku)












































Komentar Terbanyak
Inara Rusli Ungkap Proses Damai dengan Insanul Fahmi: Bagaimanapun Suami Saya
Kala Bakul Sate di Kawasan Malioboro Ditertibkan Satpol PP
Viral Wisatawan Keluhkan Harga 3 Porsi Gudeg-Es Teh Rp 85 Ribu di Malioboro