Pustakawan Se-Indonesia Berkumpul di UMY, Bahas Pemanfaatan AI

Pustakawan Se-Indonesia Berkumpul di UMY, Bahas Pemanfaatan AI

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Selasa, 04 Agu 2026 18:53 WIB
Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory, Selasa (4/8/2026).
Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory, Selasa (4/8/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Student Dormitory pada 4-6 Agustus 2026. Konferensi ini menghadirkan program pengembangan profesi sebagai respons terhadap perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Joko Santoso, mengatakan implementasi AI membawa perubahan besar dalam cara masyarakat mengakses pengetahuan. Namun, AI juga memiliki potensi memodifikasi informasi sehingga diperlukan peran pustakawan sebagai pengelola dan pengkurasi informasi.

"Kerja-kerja kuratif itu menjadi semakin penting ketika dunia sekarang berubah. Perubahannya terutama dengan implementasi AI yang memiliki kemungkinan adanya modifikasi pengetahuan," kata Joko saat jumpa pers KPDI ke-17 di UMY Student Dormitory, Senin (4/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Joko, transformasi perpustakaan digital bukan berarti menghadirkan jenis perpustakaan baru yang menggantikan perpustakaan konvensional. Digitalisasi justru merupakan transformasi terhadap koleksi dan layanan yang selama ini telah dimiliki perpustakaan.

ADVERTISEMENT

"Perpustakaan digital sebenarnya representasi dari perpustakaan fisik yang selama ini ada. Jadi, kita bicara soal perpustakaan digital bukan seolah-olah itu ada perpustakaan baru yang berbeda dengan perpustakaan konvensional," ujarnya.

Ia menjelaskan, transformasi dilakukan pada koleksi yang kini banyak tersedia dalam format digital, sekaligus pada layanan yang bergeser dari kunjungan langsung (onsite) menjadi layanan daring.

Joko mengungkapkan perubahan tersebut sejalan dengan perilaku Gen Z, Gen Alpha, dan milenial yang tumbuh di era digital. Menurutnya, tren itu terlihat dari layanan Perpustakaan Nasional yang kini lebih banyak diakses secara daring.

"Perkembangan transformasi layanan online yang menarik itu adalah bisa menjadi lebih besar. Katakanlah Perpustakaan Nasional secara statistik itu tiga kali lipat dari jumlah kunjungan onsite," ungkapnya.

Di tengah perubahan tersebut, kata Joko, pustakawan memiliki tanggung jawab yang semakin besar dalam melakukan kurasi terhadap sumber informasi agar masyarakat memperoleh pengetahuan yang telah terverifikasi.

"Kita mengandalkan kerja-kerja pustakawan yang bisa mengkurasi sumber-sumber informasi dan pengetahuan di perpustakaan yang makin kredibel. Kita cek berulang-ulang soal otoritasnya, soal cakupannya, soal aktualitasnya, dan seterusnya," jelasnya.

Sementara menurut Kepala Perpustakaan Nasional RI, Prof. E. Aminudin Aziz,, transformasi digital perpustakaan yang selama ini identik dengan digitalisasi koleksi, pembangunan repositori, interoperabilitas metadata, hingga perluasan akses informasi kini memasuki fase yang lebih kompleks. Kehadiran AI tidak hanya mengubah teknologi yang digunakan, tetapi juga mengubah cara manusia berpikir, belajar, mencari informasi, mengambil keputusan, bahkan membangun pengetahuan.

"Selama ini pertanyaan utama perpustakaan adalah bagaimana menyediakan informasi. Namun hari ini pertanyaannya telah berubah menjadi bagaimana memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar. Bagaimana membangun kemampuan berpikir kritis di tengah banjir informasi, menggunakan dukungan AI tanpa kehilangan integritas, etika, dan moral, serta menjaga agar perpustakaan tetap menjadi institusi yang dipercaya ketika mesin mampu menghasilkan jawaban hanya dalam hitungan detik," ujar Aminudin.

Perkembangan AI memang membuka berbagai peluang bagi masyarakat. Teknologi tersebut mampu mempercepat pencarian informasi, merangkum dokumen dalam waktu singkat, membantu penerjemahan berbagai bahasa, mendukung penelitian, hingga memperluas akses pembelajaran yang lebih inklusif. Namun di balik berbagai kemudahan tersebut, AI juga dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat, bias, tidak memiliki sumber yang jelas, bahkan sepenuhnya keliru meski disajikan dengan cara yang meyakinkan.

Perubahan tersebut, menempatkan perpustakaan pada posisi yang semakin strategis. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi menyediakan akses terhadap informasi, tetapi juga berperan membangun kecakapan literasi informasi, digital, dan data agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Menurutnya, transformasi yang sedang terjadi bukan semata-mata tentang perkembangan teknologi, melainkan tentang kesiapan manusia dalam menghadapinya.

"Pusat perubahan dan transformasi bukanlah teknologi, melainkan manusia. Perpustakaan memiliki tanggung jawab membangun masyarakat yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi untuk mengakses dan memproduksi informasi. Namun juga sadar terhadap kualitas informasi, kredibilitas sumber, keamanan data pribadi, perlindungan hak cipta, serta pentingnya etika dalam pemanfaatan AI," jelasnya.



(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads