4 Tingkatan Unggah-ungguh Bahasa Jawa dan Contohnya

4 Tingkatan Unggah-ungguh Bahasa Jawa dan Contohnya

Arum Sekar Pertiwi - detikJogja
Sabtu, 28 Mar 2026 10:00 WIB
Unggah-ungguh Bahasa Jawa
Unggah-ungguh Bahasa Jawa. (Foto: N Sopyan/Pexels)
Jogja -

Bahasa Jawa memiliki tingkatan dalam berbahasa yang disebut unggah-ungguh basa. Aturan unggah-ungguh ini diterapkan untuk menghormati lawan bicara.

Berdasarkan buku Belajar Bahasa Daerah (Jawa) oleh Rian Damariswara, aturan unggah-ungguh basa diterapkan berdasarkan kedudukan usia, kekerabatan, pangkat, keakraban, dan sebagainya. Unggah-ungguh basa sendiri terbagi menjadi unggah ungguh berdasarkan kosa kata dan undha-usuk (tingkatan berbahasa).

Lantas, apa saja tingkatan unggah-ungguh basa dalam Bahasa Jawa? Berikut penjelasan tentang 4 tingkatannya yang dirangkum dari buku Belajar Bahasa Daerah (Jawa) oleh Rian Damariswara dan artikel bertajuk Penerapan Unggah-ungguh Bahasa Jawa Sesuai dengan Konteks Tingkat Tutur Budaya Jawa oleh Puji Arfianingrum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kosa Kata Bahasa Jawa

Sebelum mempelajari tingkatan atau undha-usuk bahasa Jawa, detikers perlu memahami 4 jenis kosa kata bahasa Jawa terlebih dahulu. Kosa kata ini nantinya akan digunakan dalam penyusunan kalimat sesuai tingkatan bahasa.

ADVERTISEMENT

Berikut adalah 4 jenis kosa kata bahasa Jawa.

1. Kata Netral

Sesuai namanya, kata netral bersifat netral dan tidak memiliki bentuk lain (ngkoko, krama madya, maupun krama inggil). Artinya, kata ini tidak memiliki makna kasar atau sopan. Contoh kata netral adalah kasur, pelem, sapu, dan sebagainya.

2. Kata Ngoko

Kata ngoko merupakan kata yang memiliki bentuk lain. Artinya, kata ini bisa diubah menjadi kata krama madya maupun krama inggil.

3. Kata Krama Madya

Kata krama atau krama madya merupakan bentuk sopan dari ngoko. Kata ini bisa digunakan untuk orang pertama, kedua, dan ketiga. Contoh kata krama madya adalah mbekta, amargi, benten, dan sebagainya.

4. Kata Krama Inggil

Krama inggil merupakan kata yang derajatnya paling tinggi dan sopan. Krama inggil hanya boleh digunakan untuk orang kedua dan ketiga. Orang pertama tidak boleh menggunakan kata ini karena seseorang tidak boleh mengunggulkan derajat diri sendiri.

Contoh kata krama inggil antara lain dhahar, sare, rawuh, kondur, dan sebagainya.

4 Tingkatan Unggah-ungguh Bahasa Jawa

Berdasarkan tingkatannya, bahasa Jawa dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu bahasa Jawa ngoko dan krama. Keduanya terbagi lagi menjadi 2, sehingga menjadi ngoko lugu, ngoko alus, krama lugu, dan krama alus.

Berikut adalah penjelasan tentang perbedaan keempat tingkatan ini.

1. Ngoko Lugu

Aturan

Bahasa ngoko lugu menggunakan kosa kata ngoko dan netral. Imbuhan yang digunakan juga berupa jenis imbuhan ngoko, seperti dak-, kok-, di-, -e, hingga -ake.

Penggunaan

Ngoko lugu digunakan oleh orang tua kepada anak, guru kepada siswa, atasan kepada bawahan, teman yang sederajat dan sudah akrab, hingga berbicara dengan diri sendiri (dalam hati).

Contoh

  1. Aku lagi maca bausastra.
  2. Adhiku lagi mangan bakso.
  3. Awakmu ngko sore sida nang sekolahan?

2. Ngoko Alus

Aturan

Layaknya ngoko lugu, ngoko alus juga menggunakan kosa kata ngoko dan netral serta imbuhan ngoko. Bedanya, ngoko alus juga menggunakan krama inggil untuk menghormati orang lain.

Penggunaan

Ngoko alus biasanya digunakan oleh orang tua kepada orang muda yang dihormati, ibu kepada bapak, mertua kepada menantu, atau menghormati orang yang dibicarakan.

Contoh

  1. Asmane bapakmu sapa?
  2. Mas Hendi lagi sare.
  3. Daleme Pak Camat adoh banget.

3. Krama Lugu

Aturan

Krama lugu menggunakan kosa kata netral dan krama madya. Imbuhan yang digunakan adalah imbuhan krama inggil, seperti dipun-, -ipun, hingga -aken.

Penggunaan

Krama lugu biasanya digunakan untuk membahasakan diri sendiri, sesama teman tapi belum terlalu akrab atau saling menghormati, orang yang baru berkenalan, hingga orang tua kepada orang muda yang pangkatnya lebih tinggi.

Contoh

  1. Sampeyan asalipun saking pundhi?
  2. Kula sampun nedha.
  3. Mangga nedha rumiyin wonten mriki!

4. Krama Alus

Aturan

Krama alus menggunakan kosa kata netral dan krama inggil serta imbuhan krama inggil. Adapun saat membahasakan diri sendiri, penutur perlu menggunakan kosa kata krama madya.

Penggunaan

Krama alus merupakan tingkatan bahasa paling sopan untuk menghormati orang lain yang digunakan oleh bawahan kepada atasan, orang muda kepada orang yang lebih tua, murid kepada gurunya, hamba kepada Tuhannya, atau kepada orang yang belum dikenal.

Contoh

  1. Panjenengan asalipun saking pundi?
  2. Mangga dhahar rumiyin!
  3. Simbah gerah.
  4. Ibu nembe siram.

Demikian 4 tingkatan unggah-ungguh bahasa Jawa dan contoh kalimatnya. Semoga bermanfaat!

Artikel ini ditulis oleh Arum Sekar Pertiwi peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(sto/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads