Sakralnya Prosesi Labuhan Ageng Merapi yang Dilaksanakan 8 Tahun Sekali

Sakralnya Prosesi Labuhan Ageng Merapi yang Dilaksanakan 8 Tahun Sekali

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Selasa, 20 Jan 2026 08:58 WIB
Sakralnya Prosesi Labuhan Ageng Merapi yang Dilaksanakan 8 Tahun Sekali
Prosesi Labuhan Ageng Merapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Selasa (20/1/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja
Sleman -

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar upacara adat Labuhan Ageng di Gunung Merapi. Upacara adat ini untuk memperingati Ulang Tahun Kenaikan Takhta atau Tingalan Jumenengan Dalem Raja Keraton Sri Sultan Hamengku Bawono X.

Labuhan ageng berbeda dengan labuhan alit yang dilaksanakan tiap tahun. Tradisi Labuhan Ageng hanya digelar setiap 8 tahun sekali atau bertepatan dengan tahun Dal dalam penanggalan Jawa.

"Labuhan tahun ini adalah Labuhan Ageng karena masuk Tahun Dal yang terjadi setiap delapan tahun sekali," kata Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Wedana Suraksohargo Asihono atau Mas Asih kepada wartawan, Selasa (20/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam labuhan tahun ini, diikut sertakan uba rampe berupa Kambil Watangan atau pelana kuda. Mas Asih menjelaskan singkat sejarah pelana kuda yang dikirab dalam Labuhan Ageng di Merapi ini.

Prosesi Labuhan Ageng Merapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Selasa (20/1/2026).Prosesi Labuhan Ageng Merapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Selasa (20/1/2026). Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja

ADVERTISEMENT

"Cerita dari nenek moyang dulu, Eyang Megantoro hobi memelihara kuda. Dan pelana kuda ini sebagai simbol, dari Keraton," ucapnya.

Sebelum upacara Labuhan Ageng Merapi, diawali penyerahan uba rampe dari utusan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kepada Panewu Cangkringan, yang kemudian diteruskan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, pada Senin (19/1) kemarin.

Selanjutnya, uba rampe disimpan di Petilasan Hargo Ndalem (Petilasan Mbah Maridjan), di Dusun Kinahrejo, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, selama semalam. Kemudian dilanjutkan gelar budaya, wilujengan, kenduri, pagelaran wayang kulit, dan doa bersama.

Adapun uba rampe yang dikirab di antaranya terdiri dari Sinjang Kawung Kemplang, Sinjang Cangkring, Semekan Gadung, Semekan Gadhung Mlati, Semekan Bangun Tulak Peningset Udaraga, Seswangen, Destar Doromuluk.

Prosesi Labuhan Ageng Merapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Selasa (20/1/2026)Prosesi Labuhan Ageng Merapi di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman, Selasa (20/1/2026) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja

Pagi tadi, pukul 06.18 WIB uba rampe Labuhan Ageng dikirab dengan berjalan kaki dari Petilasan Hargo Ndalem menuju Sri Manganti di lereng Merapi, berjarak sekitar 1,5 kilometer.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa turut serta dalam upacara labuhan ini. Dia mengatakan upacara adat ini bukan hanya ritual tahunan. Danang menekankan bahwa ini adalah bentuk permohonan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Bersama masyarakat jalan ke atas ke tempat petilasan untuk memohon kepada Tuhan, Allah SWT, apa yang jadi tujuan dan cita-cita. Sembari juga nguri-uri (melestarikan) kebudayaan, mendekatkan kita dengan alam dengan Tuhan, dan tentunya saling menjaga kelestarian lingkungan," kata Danang.

Peserta Labuhan Ageng merupakan abdi dalem Hargo Merapi, warga dan pemerintah setempat, masyarakat umum, dengan pengamanan dari relawan tim SAR serta personel TNI/Polri.




(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads