Serah terima uba rampe atau perabot kelengkapan tradisi Labuhan Keraton Yogyakarta mengawali Hajad Dalem Labuhan Merapi. Labuhan tahun ini memiliki kedudukan istimewa karena bertepatan dengan Tahun Dal dalam kalender Jawa yang menandai digelarnya Labuhan Ageng.
Prosesi serah terima dilaksanakan di Pendopo Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Uba rampe diserahkan oleh utusan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kepada Panewu Cangkringan, yang kemudian diteruskan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, Mas Wedana Suraksohargo Asihono atau yang akrab disapa Mas Asih.
Rombongan Abdi Dalem tiba di lokasi sekitar pukul 09.35 WIB setelah menempuh perjalanan dari Keraton Yogyakarta sejak pukul 08.00 WIB, dengan sempat berhenti sejenak untuk prosesi seremonial di Kapanewon Depok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosesi penyerahan uba rampe dari utusan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kepada Panewu Cangkringan, yang kemudian diteruskan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, di Pendopo Kapanewon Cangkringan, Senin (19/1/2026) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja |
Mas Asih menjelaskan Labuhan Merapi tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena jatuh pada Tahun Dal, status upacara ini meningkat menjadi Labuhan Ageng.
"Tahun ini adalah Tahun Dal, yang terjadi setiap delapan tahun sekali atau satu windu. Karena ini Labuhan Ageng, ada tambahan uba rampe khusus yang tidak ada di tahun-tahun biasa," ujar Mas Asih saat ditemui di Pendopo Kapanewon Cangkringan, Senin (19/1/2026).
Tambahan yang dimaksud adalah Kambil Watangan. Dalam istilah Keraton, Kambil Watangan merujuk pada perlengkapan berupa pelana kuda. Kehadiran benda ini menjadi simbol kebesaran dan kelengkapan ritual yang hanya muncul pada siklus sewindu sekali.
Prosesi penyerahan uba rampe dari utusan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kepada Panewu Cangkringan, yang kemudian diteruskan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, di Pendopo Kapanewon Cangkringan, Senin (19/1/2026) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja |
"Ubur rampe tambahannya itu namanya Kambil Watangan, kalau bahasa keratonnya. Tapi kalau bahasa pada umumnya itu pelana kuda," jelasnya.
Mas Asih mengungkapkan terdapat 11 macam uba rampe yang diarak dalam prosesi tahun ini. Selain pelana kuda, beberapa perlengkapan kain serta atribut lainnya.
"Total ada 11. Meliputi Sinjang Kawung Cangkring, Sinjang Kawung Kemplang, Semekan Gadung, Semekan Gadung Melati, Kampuh Poleng, Semekan Bangun Tulak, Destar Doro Muluk," ujarnya.
Usai prosesi di Cangkringan, uba rampe tersebut langsung diboyong menuju Padukuhan Kinahrejo untuk diinapkan selama semalam di Petilasan Mbah Maridjan. Baru pada Selasa (20/1) pagi, rombongan akan melakukan pendakian menuju lokasi ritual di Sri Manganti.
Mas Asih mengungkapkan persiapan jalur pendakian sepanjang 1.500 meter tersebut telah dilakukan selama dua bulan terakhir. Mengingat saat ini sedang musim hujan, tantangan berupa medan licin dan pohon tumbang menjadi perhatian utama.
Prosesi penyerahan uba rampe dari utusan Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kepada Panewu Cangkringan, yang kemudian diteruskan kepada Juru Kunci Gunung Merapi, di Pendopo Kapanewon Cangkringan, Senin (19/1/2026) Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJogja |
"Persiapan jalur sudah 99 persen lancar. Meski musim hujan membuat rute agak licin dan sempat ada tebing longsor atau pohon tumbang, semua sudah kami kondisikan bersama teman-teman Abdi Dalem agar prosesi besok berjalan aman," jelasnya.
Prosesi menuju puncak besok akan dikawal oleh dua bergada, yakni Bergada Kinahrejo dan Bergada Sambisari. Sebanyak 23 orang rombongan inti akan membawa uba rampe tersebut naik ke atas.
Labuhan Merapi bukan sekadar ritual tahunan untuk memperingati Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X. Lebih dari itu, Mas Asih menekankan ini adalah bentuk permohonan spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Maknanya adalah kita memohon kepada Tuhan supaya diberi keselamatan, khususnya untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Ini adalah rasa syukur dan terima kasih kami, yang didukung penuh oleh lembaga serta masyarakat luas," pungkasnya.
(afn/ams)















































Komentar Terbanyak
Profil Noe Letto, Anak Cak Nun yang Dilantik Jadi Tenaga Ahli DPN Kemhan RI
Kronologi Mahasiswa Papua Tewas Ditusuk Usai Duel di Bantul
Mahfud MD Ungkap Rekomendasi KPRP soal Rekrutmen Polri: Tak Ada Lagi Titipan