Mentan Sebut Ada Dapur MBG Nekat Beli Telur di Bawah Harga Acuan

Mentan Sebut Ada Dapur MBG Nekat Beli Telur di Bawah Harga Acuan

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Kamis, 15 Okt 2026 11:38 WIB
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, Kamis (15/10/2026).
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman di Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, Kamis (15/10/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut ada anomali terkait harga telur di tingkat peternak hingga konsumen. Dia juga menyebut masih ada SPPG atau dapur MBG yang membeli telur di bawah harga acuan.

"Kami sudah turun. Pertama, MBG kami meminta telur beli Rp 26,5 ribu. Kami sudah bicara langsung Kepala Badan Gizi Nasional, Pak Sudaryono. Beliau hebat, beliau sudah mengirim surat edaran tapi ada yang tidak patuh," kata Amran kepada wartawan di PT Widodo Makmur Unggas, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul, Kamis (15/10/2026).

Amran mengatakan, masih ada dapur MBG yang membeli telur ayam dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu per kilogram. Bahkan, Amran mengaku telah menurunkan satgas untuk menyelesaikan masalah tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami bicara lagi kemarin, ternyata ada tidak patuh membeli, tetap dibeli dengan murah, Rp 20 ribu, Rp 21 ribu. Itu tidak boleh terjadi, nanti satgas turun. Ini tidak benar," tegasnya.

Awalnya, Amran menjelaskan tujuannya ke Gunungkidul untuk mencari tahu penyebab terjadinya anomia harga telur. Ia menduga ada mafia yang bermain dan dirinya telah bersurat ke Kapolri.

ADVERTISEMENT

"Kenapa ke sini? Karena kami ingin melihat dari hulu ke hilir prosesnya. Karena terjadi anomali, peternak teriak karena harga telur ayam harganya Rp 20 ribu hingga Rp 21 ribu," ujar Amran.

Sedangkan pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk telur ayam Rp 30 ribu dan untuk ayam Rp 40 ribu per kilogram. Namun di hilir atau ujung, ada yang menjual ke konsumen Rp 36 ribu untuk telur dan Rp 46 ribu untuk ayam.

"Sehingga dua-dua berteriak (produsen dan konsumen). Artinya ada middleman yang tidak sehat, ada mafia yang bermain. Insyaallah kita beresin. Pak Kapolri sekarang pergerakannya cepat," ucap dia.

Amran juga mengungkapkan, bahwa hal yang sama juga terjadi untuk komoditas beras. Di mana harga beras yang sudah disubsidi pemerintah ternyata dijual di atas harga yang sudah ditetapkan pemerintah.

"Begitu juga beras, begitu juga minyak goreng. Kita harus awasi, kita harus perketat. Kenapa? Ini adalah barang disubsidi pemerintah, pakan disubsidi, pupuk disubsidi, terutama beras, ada fortifikasi. Harganya harusnya Rp 13.500 dijual Rp 56.000, Rp 40.000, Rp 30.000. Ini sangat tidak sehat. Nah, ini kita akan perbaiki," kata dia.

Oleh sebab itu, Amran melakukan pengecekan langsung ke bawah. Mengingat jika praktik seperti ini tetap berlanjut maka akan merugikan jutaan peternak.

"Sekali lagi, jangan ada yang nakal. Dari rantai pasok ini kami cek dari bawah. Nanti setelah itu, kami simpulkan, satgas turun mengecek satu-satu. Tidak ada boleh tersakiti, terutama peternak kita. Peternak kita 4,8 juta orang. Ini harus dijaga, ini harus kita jaga bersama," katanya.

Terkait upaya dari Kementan untuk meningkatkan harga telur ayam saat ini, Amran mengaku telah melakukannya. Salah satunya dengan meminta pemilik dapur MBG untuk membeli telur ayam di harga Rp 26.500 per kilogram.

Sedangkan upaya kedua adalah pakan yang ada di Bulog, khususnya SPHP diturunkan segera. Kemudian yang ketiga, pakan ID Food yang dikeluarkan oleh pemerintah, saat ini ID Food mengambil peran dengan harga Rp 8.630.

"Sedangkan di luar harganya Rp 10.000, Rp 12.000. Itulah tujuan pemerintah dengan kehadiran ID Food dan ini menguntungkan peternak," pungkasnya.



(dil/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads