Okupansi Hotel di Jogja Melejit Saat Libur Sekolah, tapi...

Okupansi Hotel di Jogja Melejit Saat Libur Sekolah, tapi...

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 25 Jun 2026 17:52 WIB
Ilustrasi kamar hotel
Ilustrasi hotel. Foto: Getty Images/Suchada Tansirimas
Jogja -

Tingkat okupansi hotel di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami peningkatan mencapai 70 persen pada momen libur sekolah 2026. Namun di balik meningkatnya jumlah tamu, pelaku usaha hotel mengaku belum bisa bernapas lega karena lonjakan biaya operasional yang membuat pendapatan belum pulih.

Hal ini disampaikan Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo. Ia menyebut pada periode 17 hingga 25 Juni 2026, okupansi hotel meningkat sekitar 20 persen dibandingkan hari biasa dan periode libur sekolah sebelumnya.

"Kalau reservasi, data kita dari 17 Juni sampai dengan 25 Juni itu rata-rata 70 persen. Baik hotel bintang maupun nonbintang anggota kami di DIY. Masih didominasi wilayah tengah kota (Kota Jogja) dan juga Sleman," kata Deddy saat dihubungi detikJogja, Kamis (25/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski demikian, Deddy menegaskan kondisi industri perhotelan belum sepenuhnya membaik. Sebab, kenaikan tingkat hunian justru dibarengi dengan melonjaknya biaya operasional.

ADVERTISEMENT

"70 persen itu belum berarti kondisi baik-baik saja. Peningkatan okupansi juga diiringi kenaikan biaya operasional. Bahan baku naik, servis AC naik, sekarang semuanya naik," ujarnya.

Dedy menyebut biaya operasional hotel meningkat sekitar 15-25 persen. Di sisi lain, pengusaha belum berani menaikkan tarif kamar karena daya beli masyarakat dinilai masih melemah.

"Kami tidak bisa menyesuaikan harga kamar dengan biaya operasional. Mengapa? Karena daya beli masyarakat sekarang turun. Jadi anggota PHRI saat ini hanya sekadar bertahan," katanya.

Deddy mengungkapkan dilema yang dihadapi pengusaha hotel saat ini. Jika harga kamar dinaikkan, dikhawatirkan jumlah tamu justru menurun.

"Ada peningkatan biaya operasional, tapi kami belum berani menaikkan harga. Daripada tidak ada tamu, akhirnya ini hanya cukup untuk bertahan. Dari segi okupansi naik, tapi dari segi revenue kami turun," ungkapnya.

Selain biaya operasional yang terus naik, Dedy bilang, industri perhotelan juga terdampak gangguan pasokan listrik yang terjadi beberapa waktu lalu. Ia menambahkan fluktuasi tegangan listrik juga dilaporkan menyebabkan kerusakan sejumlah peralatan elektronik di beberapa hotel.

"Dampaknya menambah biaya operasional. Kita beli solar, Pertadex. Itu kan menambah biaya," katanya.

"Ada sekitar empat sampai lima hotel yang melapor mengalami kerusakan barang elektronik seperti water heater, TV, komputer, dan lain-lain. Itu kan memperbaikinya juga menambah cost," jelasnya.

Untuk menekan pengeluaran, hotel melakukan langkah efisiensi energi. Namun, Deddy memastikan efisiensi tidak dilakukan dengan mengurangi kualitas pelayanan kepada tamu.

"Yang dilakukan misalnya mematikan lampu atau area yang tidak terpakai. Tapi kalau sampai menurunkan mutu layanan atau hospitality, kami tidak berani. Jangan sampai efisiensi malah merusak citra hotel," pungkasnya.




(apu/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads