Round-Up

Terungkapnya Hewan Liar Pemangsa Ternak di Gunungkidul

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 29 Okt 2026 07:30 WIB
Beberapa kambing mati akibat serangan anjing liar di Bulak Belang, Bamban, Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, Rabu (28/10/2026). Foto: Dok. Polres Gunungkidul
Jogja -

Serangan hewan liar kembali terjadi di Gunungkidul. Terbaru, sembilan kambing milik warga yang dipelihara di Bulak Belang, Dusun Bamban, Kalurahan Bohol, Kapanewon Rongkop, ditemukan mati mengenaskan. Polisi menyebut kambing-kambing itu mati dimangsa anjing liar.

"Penyebab matinya sembilan ekor kambing di Rongkop karena serangan anjing liar," kata Kasi Humas Polres Gunungkidul, Iptu Tukiran saat dihubungi detikJogja, Rabu (28/10/2026).

"Saat kejadian, saksi (Hardi Suwito) melihat ada dua ekor anjing dewasa dan saat dilempar saksi dua anjing itu berlari ke arah barat menjauhi kandang," imbuhnya.

Tukiran mengatakan, matinya sembilan kambing itu diketahui oleh pemiliknya, Hardi Suwito (82), pada Rabu (28/10) pukul 05.30 WIB. Lokasi kandang kambing itu berjarak sekitar 500 meter dari rumah Hardi.

"Sampai di kandang, saksi terkejut melihat kambingnya yang berjumlah delapan ekor mati dengan kondisi mengenaskan, yakni tercabik-cabik dan ada luka gigitan di leher, perut dan kaki bagian belakang," ujarnya.

Delapan ekor kambing yang mati itu terdiri dari enam ekor anak kambing berumur sekira empat bulan dan dua ekor kambing indukan. Adapun empat ekor kambing indukan lain yang berada di kandang yang sama masih hidup.

"Saat saksi berjalan di sekitar kandang, kembali menemukan seekor lagi kambingnya mati dengan kondisi mengenaskan. Jadi total kambing yang mati ada sembilan ekor," ucap Tukiran.

Setelah menerima laporan dari pamong Kalurahan Bohol, anggota Polsek Rongkop segera mendatangi lokasi kejadian.

Tukiran menambahkan, jauhnya lokasi kandang dari rumah dan minimnya penerangan serta penjagaan diduga menyebabkan hewan liar leluasa memangsa kambing.

"Tadi petugas sudah koordinasi dengan Puskeswan Rongkop, pamong kalurahan dan tokoh masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang. Nah, tadi pemilik ternak disarankan membawa kambing atau sapinya yang dipelihara ke ladang agar dibawa pulang ke rumah," pungkasnya.

Teror Hewan Buas Sejak 2017

Diberitakan sebelumnya, serangan hewan buas memangsa ternak menjadi teror yang berulang di sebagian wilayah Gunungkidul sejak 2017. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul menyebut kondisi itu biasanya terjadi saat sumber air seperti telaga sedang mengering.

"Jadi serangan binatang liar pada ternak di Gunungkidul sudah terjadi sejak tahun 2017 dan terulang setiap tahun," kata Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi saat dihubungi detikJogja, Senin (26/10/2026).

Hal itu disampaikan Rismiyadi saat dimintai konfirmasi terkait kasus matinya dua ekor kambing dalam kondisi tercabik-cabik di Saptosari, Gunungkidul, pekan lalu.

Rismiyadi mengatakan, DPP mencatat fenomena serangan terhadap hewan ternak pernah terjadi di wilayah Kapanewon Wonosari, Purwosari, Saptosari, Tepus, Girisubo, dan Karangmojo. Bahkan, berpotensi terjadi di beberapa wilayah yang lain di Gunungkidul.

"Selain itu, serangan binatang liar tersebut biasa terjadi pada saat mata air terutama telaga mengalami penurunan debit air," ujarnya.

Rismiyadi menilai perlu menjamin keamanan dan kelangsungan hidup ternak, khususnya kambing dari ancaman serangan binatang liar. Di mana hal itu memerlukan langkah antisipasi pengamanan oleh masyarakat.

Pihaknya mengeluarkan surat terkait antisipasi serangan hewan liar terhadap ternak kepada Panewu dan Lurah se-Gunungkidul. Antisipasi itu salah satunya meminta pemilik memindahkan ternak dari ladang yang jauh ke sekitar rumah dan menggalakkan ronda malam.

"Karena kasus kejadian serangan tersebut rata-rata di lokasi pegunungan dan ladang yang jauh dari rumah warga," ucap Rismiyadi.

Apabila upaya tersebut belum bisa dilakukan, Rismiyadi menilai tetap diperlukan kesiagaan dini melalui pengamatan dan pengawasan ternak yang dipelihara lokasi perbukitan.

"Jadi masyarakat juga bisa melakukan pengawasan rutin dengan ronda atau jaga malam. Juga bisa meninggikan pagar kandang, memperkokoh dinding. Sehingga binatang liar tidak bisa menerobos masuk serta pemasangan lampu penerangan di area kandang," ujarnya.

Antisipasi juga bisa dengan meningkatkan kegiatan Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE) kepada masyarakat tentang pola hidup siklus kejadian serangan binatang liar tersebut. Sehingga masyarakat sudah lebih dahulu bersiap sebelum serangan terjadi.

"Juga segera melaporkan kepada petugas terdekat jika menjumpai kasus serangan binatang liar terhadap hewan ternak milik warga, baik secara langsung melalui UPT, Puskeswan atau bisa melalui hotline pada aplikasi LaporDok," ucapnya.




(dil/apu)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork