Kasus kematian hewan ternak akibat diserang hewan liar berulang terjadi di Gunungkidul. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menyebut ada bantuan bagi peternak yang menjadi korban.
"Iya, ada. Jadi kalau ternak yang terkena gigitan binatang skemanya lewat Baznas, nanti kita ajukan dan bentuknya tali asih," kata Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi saat dihubungi detikJogja, Senin (26/10/2026).
Skema melalui Baznas, ungkap Rismiyadi, karena belum ada peraturan yang mengatur soal pemberian kompensasi bagi warga yang ternaknya mati akibat serangan hewan liar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di mana saat ini baru ada Perbup No.10 Tahun 2025, tentang Tata Cara Pemberian Kompensasi dan/atau Bantuan Pemberantasan Penyakit Hewan Menular dan Tata Cara Pemberian Kompensasi Hewan Sehat Akibat Depopulasi. Adapun kompensasi itu menggunakan dana Belanja Tak Terduga (BTT) yang bersumber dari APBD.
"Kalau sekarang kan peraturannya baru mengatur ternak mati karena penyakit hewan menular. Jadi, meski belum ada aturannya kita mencoba untuk melalui pembiayaan lain, dalam hal ini Baznas," ujarnya.
Teknisnya, Pemerintah Kapanewon akan melakukan pendataan terkait ternak yang mati akibat serangan hewan liar di wilayahnya. Setelah itu, Kapanewon melaporkannya ke Bupati dan Pemkab akan berkoordinasi dengan Baznas.
"Jadi sudah kami usulkan ke Baznas untuk tali asih terkait ternak mati akibat serangan hewan liar," ucapnya.
Ia menyebut besaran bantuan akan ditentukan melalui hasil verifikasi Baznas. Pihaknya juga memberikan syarat desil agar bantuan tepat sasaran.
"Baznas yang menentukan besarannya. Tapi sepertinya lebih sedikit dari tali asih untuk ternak yang mati karena penyakit hewan menular," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, kematian hewan ternak akibat diduga hewan liar kembali terjadi di Gunungkidul. Kali ini dua ekor kambing milik warga di Saptosari, Gunungkidul, ditemukan mati dalam kondisi tercabik-cabik.
"Iya, benar. Ada dua ekor kambing yang mati di Kanigoro dengan kondisi tercabik-cabik," kata Kapolsek Saptosari AKP Sigit Teja Sukmana saat dihubungi detikJogja, Rabu (21/10).
Dua kambing itu milik dua orang berbeda. Kambing pertama milik Pardi warga Klepu, Planjan, Saptosari, Gunungkidul.
Sementara kambing kedua milik Bejo, warga Kanigoro. Kedua kambing itu sama-sama ditemukan mati diduga diterkam hewan liar.
"Jadi awalnya pemilik mau mengecek kandang dan menemukan kambingnya sudah mati dengan kondisi seperti habis dimakan," ujarnya.
Sebelum kasus ini, beberapa peristiwa serupa terjadi. Dalam periode Agustus-September, kasus serupa setidaknya terjadi di Playen, Tepus, dan Panggang. Bahkan, di Tepus 7 kambing mati dan di Panggang tercatat 2 sapi mati diduga diterkam hewan liar.
(afn/afn)
