DPP Gunungkidul Ungkap Fenomena Teror Hewan Liar Terus Berulang Sejak 2017

DPP Gunungkidul Ungkap Fenomena Teror Hewan Liar Terus Berulang Sejak 2017

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Senin, 26 Okt 2026 14:12 WIB
Polisi saat mendatangi kediaman pemilik tujuh kambing yang mati akibat serangan hewan liar.
Polisi saat mendatangi kediaman pemilik tujuh kambing yang mati akibat serangan hewan liar, beberapa waktu lalu. (Foto: Dok Polsek Tepus)
Gunungkidul -

Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul menyebut serangan hewan liar terhadap ternak sudah terjadi secara berulang sejak sembilan tahun yang lalu. Serangan tersebut biasanya karena sumber air seperti telaga mengering.

"Jadi serangan binatang liar pada ternak di Gunungkidul sudah terjadi sejak tahun 2017 dan terulang setiap tahun," kata Kepala DPP Gunungkidul, Rismiyadi saat dihubungi detikJogja, Senin (26/10/2026).

Rismiyadi menyebut DPP mencatat fenomena serangan terhadap hewan ternak tersebut pernah terjadi di wilayah Kapanewon Wonosari, Purwosari, Saptosari, Tepus, Girisubo, dan Karangmojo. Bahkan, berpotensi terjadi di beberapa wilayah yang lain di Gunungkidul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selain itu, serangan binatang liar tersebut biasa terjadi pada saat mata air terutama telaga mengalami penurunan debit air," ujarnya.

Berkaca dari hal tersebut, Rismiyadi menilai perlu menjamin keamanan dan kelangsungan hidup ternak, khususnya kambing dari ancaman serangan binatang liar. Di mana hal itu memerlukan langkah antisipasi pengamanan oleh masyarakat.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, Rismiyadi mengeluarkan surat terkait antisipasi serangan hewan liar terhadap ternak kepada Panewu dan Lurah se-Gunungkidul. Antisipasi itu salah satunya meminta pemilik memindahkan ternaknya ke sekitar rumah hingga menggalakkan ronda malam.

"Pertama, masyarakat memberikan prioritas tinggi untuk pengamanan ternak terhadap serangan binatang liar dengan cara membawa pulang hewan ternak yang dipelihara di ladang jauh dari permukiman," ucapnya.

"Karena kasus kejadian serangan tersebut rata-rata di lokasi pegunungan dan ladang yang jauh dari rumah warga," lanjut Rismiyadi.

Apabila upaya tersebut belum bisa dilakukan, Rismiyadi menilai tetap diperlukan kesiagaan dini. Selain itu tindakan antisipatif melalui pengamatan dan pengawasan ternak yang dipelihara lokasi perbukitan.

"Jadi masyarakat juga bisa melakukan pengawasan rutin dengan ronda atau jaga malam," katanya.

Selanjutnya, mengoptimalkan pengamanan ternak dengan menyempurnakan kandang. Tujuannya agar kandang tidak bisa diserang hewan liar.

"Juga bisa meninggikan pagar kandang, memperkokoh dinding. Sehingga binatang liar tidak bisa menerobos masuk serta pemasangan lampu penerangan di area kandang," ujarnya.

Lebih lanjut, antisipasi juga busa dengan meningkatkan kegiatan Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE) kepada masyarakat tentang pola hidup siklus kejadian serangan binatang liar tersebut. Sehingga masyarakat sudah lebih dahulu bersiap sebelum serangan terjadi.

"Juga segera melaporkan kepada petugas terdekat jika menjumpai kasus serangan binatang liar terhadap hewan ternak milik warga, baik secara langsung melalui UPT, Puskeswan atau bisa melalui hotline pada aplikasi LaporDok," ucapnya.



(aku/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads