Suhu cuaca di Jogja terasa lebih panas beberapa hari terakhir. Panasnya Jogja bahkan membuat pekerja lapangan sedia baju ganti karena sumuk.
"Kalau dibandingkan tahun lalu, rasanya bisa berbeda-beda. Yang paling terasa itu ketika matahari terik dari pagi sampai siang dan hujan belum juga turun," kata Syofyan, pekerja lapangan di Jogja, saat dihubungi detikJogja, Kamis (15/10/2026.
Dia bahkan harus membawa baju ganti saat bekerja di lapangan untuk menjaga kenyamanan.
"Saya biasa bawa baju ganti kalau pergi kerja lapangan. Kalau tahun lalu nggak sampai begitu. Tapi tentu persoalan panas ini perlu dibandingkan dengan data cuaca, bukan cuma dari perasaan," imbuhnya.
Syofyan juga jadi merasa mudah lelah saat beraktivitas di lapangan. Dia kerap merasakan sakit kepala dan lebih cepat lelah setelah terlalu lama beraktivitas di bawah terik matahari.
"Jelas terasa di badan. Kalau terlalu lama di bawah matahari, kepala sering sakit. Biasanya badan juga lebih cepat capek, keringat banyak keluar, dan rasanya ingin terus minum," ujarnya.
Kondisi tersebut terkadang turut memengaruhi konsentrasinya saat bekerja. Meski demikian, pekerjaan di lapangan tetap harus diselesaikan sehingga dia perlu mengatur tenaga dan menyempatkan diri untuk beristirahat.
"Kadang konsentrasi juga berkurang karena badan sudah telanjur lelah. Kalau pekerjaan masih banyak, mau tidak mau harus pintar mengatur tenaga dan mencari waktu untuk istirahat sebentar," sambung Syofyan.
Penjelasan BMKG
Analis Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Rahmad Tauladani menyebut ada beberapa hal yang membuat cuaca di Jogja terasa lebih panas. Beberapa faktor tersebut yakni dampak El-Nino yang menyebabkan kemarau panjang.
"Dampak yang dirasakan di wilayah Indonesia adalah berkurangnya potensi hujan sehingga mengalami musim kemarau yang panjang," ungkap , saat dihubungi detikJogja, Kamis (15/10/2026).
Wilayah DIY sendiri menjadi salah satu daerah dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) yang relatif lebih panjang dibandingkan biasanya.
Kemarau panjang itu kemudian menyebabkan uap air untuk pertumbuhan awan sangat sedikit sehingga sinar matahari terasa lebih terik karena tidak banyak penghalang. Kondisi tersebut turut membuat suhu udara meningkat.
"Dikarenakan proses pertumbuhan awan tidak terjadi sehingga panas dari sinar matahari akan langsung dirasakan tanpa adanya penghalang seperti awan, dari data yang ada suhu udara maksimum dalam sepekan ini mencapai 33-35 derajat celsius terutama untuk wilayah perkotaan yang aktifitas kendaraannya cukup banyak," jelasnya.
Rahmad mengatakan awal musim hujan di wilayah DIY diprakirakan baru terjadi pada akhir November atau awal Desember 2026. Sementara itu, potensi hujan di wilayah Jawa bagian tengah saat ini cenderung muncul di sekitar kawasan pegunungan.
"Dari prakiraan awal musim hujan di wilayah DIY diprediksi pada akhir November atau awal Desember 2026. Pada saat ini potensi hujan di wilayah Jateng terjadi di sekitar pengunungan akibat dari proses pertumbuhan awan 'orografik', sehingga jika terdapat potensi pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah DIY biasanya terjadi di sekitar puncak gunung Merapi atau sekitar pegunungan Menoreh seperti Samigaluh dan Kalibawang," jelasnya.
Simak Video "Video: Siap-siap! Puncak Kemarau Diprediksi pada Agustus dan Lebih Kering"
(afn/alg)