Cuaca Jogja Panas Menyengat, BMKG Ungkap Penyebabnya

Cuaca Jogja Panas Menyengat, BMKG Ungkap Penyebabnya

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 15 Okt 2026 10:27 WIB
Thermometer background is blue sky Content on global warming
Ilustrasi cuaca panas. Foto: Getty Images/Niwat Khongpraphat
Jogja -

Cuaca panas menyengat masih dirasakan warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa bulan terakhir. Suhu udara maksimum di wilayah DIY bahkan mencapai 33-35 derajat celsius dalam sepekan terakhir, terutama di kawasan perkotaan.

"Pada saat ini kondisi global atmosfer sedang mengalami El-Nino di mana dampak yang dirasakan di wilayah Indonesia adalah berkurangnya potensi hujan sehingga mengalami musim kemarau yang panjang," ungkap Analis Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Rahmad Tauladani, saat dihubungi detikJogja, Kamis (15/10/2026).

"Wilayah DIY saat ini memang memasuki musim kemarau, uap air untuk pertumbuhan awan sangat sedikit sehingga pertumbuhan awan-awan hujan juga berkurang," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rahmad menjelaskan, minimnya pertumbuhan awan membuat sinar matahari terasa lebih terik karena tidak banyak penghalang yang menutupi pancarannya. Kondisi tersebut turut membuat suhu udara meningkat, khususnya di wilayah perkotaan dengan aktivitas kendaraan yang cukup tinggi.

ADVERTISEMENT

"Dikarenakan proses pertumbuhan awan tidak terjadi sehingga panas dari sinar matahari akan langsung dirasakan tanpa adanya penghalang seperti awan, dari data yang ada suhu udara maksimum dalam sepekan ini mencapai 33-35 derajat celcius terutama untuk wilayah perkotaan yang aktifitas kendaraannya cukup banyak," jelasnya.

Selain kondisi musim kemarau, Rahmad menyebut kondisi atmosfer global saat ini juga mengalami El Nino. Fenomena tersebut berdampak pada berkurangnya potensi hujan sehingga musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Hal itu terlihat dari kondisi hari tanpa hujan (HTH) di DIY yang relatif lebih panjang dibandingkan biasanya. Bahkan, sebagian besar wilayah DIY mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari 60 hari.

"Pada saat ini kondisi global atmosfer sedang mengalami El-Nino dimana dampak yang dirasakan di wilayah Indonesia adalah berkurangnya potensi hujan sehingga mengalami musim kemarau yang panjang, hal ini mengakibatkan wilayah DIY mengalami hari tanpa hujan yang relatif panjang dari biasanya yang mencapai >60hari tanpa hujan yang hampir menyeluruh di seluruh wilayah DIY," paparnya.

Sementara itu, Rahmad mengatakan awal musim hujan di wilayah DIY diprakirakan baru terjadi pada akhir November atau awal Desember 2026. Sementara itu, potensi hujan di wilayah Jawa Tengah saat ini cenderung muncul di sekitar kawasan pegunungan.

"Dari prakiraan awal musim hujan di wilayah DIY diprediksi pada akhir November atau awal Desember 2026. Pada saat ini potensi hujan di wilayah Jateng terjadi disekitar pengunungan akibat dari proses pertumbuhan awan 'orografik', sehingga jika terdapat potensi pertumbuhan awan-awan hujan di wilayah DIY biasanya terjadi disekitar puncak gunung Merapi atau sekitar pegunungan Menoreh seperti Samigaluh dan Kalibawang," jelasnya.

Di sisi lain, seorang karyawan swasta yang mayoritas bekerja di luar ruangan, Syofyan, mengaku cuaca panas di Jogja tahun ini terasa lebih menyengat dibandingkan tahun lalu. Dia bahkan harus membawa baju ganti saat bekerja di lapangan.

"Kalau dibandingkan tahun lalu, rasanya bisa berbeda-beda. Yang paling terasa itu ketika matahari terik dari pagi sampai siang dan hujan belum juga turun," kata Syofyan.

"Untuk tahun ini lebih panas rasanya memang begitu. Saya biasa bawa baju ganti kalau pergi kerja lapangan. Kalau tahun lalu nggak sampai begitu. Tapi tentu persoalan panas ini perlu dibandingkan dengan data cuaca, bukan cuma dari perasaan," imbuhnya.

Syofyan mengatakan cuaca panas juga berdampak pada kondisi fisiknya saat bekerja di luar ruangan. Dia kerap merasakan sakit kepala dan lebih cepat lelah setelah terlalu lama beraktivitas di bawah terik matahari.

"Jelas terasa di badan. Kalau terlalu lama di bawah matahari, kepala sering sakit. Biasanya badan juga lebih cepat capek, keringat banyak keluar, dan rasanya ingin terus minum," ujarnya.

Kondisi tersebut terkadang turut memengaruhi konsentrasinya saat bekerja. Meski demikian, pekerjaan di lapangan tetap harus diselesaikan sehingga dia perlu mengatur tenaga dan menyempatkan diri untuk beristirahat.

"Kadang konsentrasi juga berkurang karena badan sudah telanjur lelah. Kalau pekerjaan masih banyak, mau tidak mau harus pintar mengatur tenaga dan mencari waktu untuk istirahat sebentar," pungkas Syofyan.



(apl/ahr)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads