Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul menyebut empat wargaa Dadapayu, Semanu, Gunungkidul yang positif antraks telah sembuh. Dinkes menyebut hingga kini belum ada tambahan kasus baru terkait orang yang terpapar antraks.
"Sudah sembuh semua dan sampai saat ini belum ada penambahan," kata Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Eko Mujiarto saat dihubungi detikJogja, Sabtu (3/10/2026).
Eko juga memastikan belum ada tambahan kasus baru terkait antraks di Gunungkidul. Hingga saat ini hanya empat orang yang terpapar antraks di Dadapayu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai hari ini belum ditemukan munculnya kasus baru," ujarnya secara singkat.
Sampel Tanah Positif Antraks
Sementara itu, Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul juga mengungkap hasil uji sampel tanah di lokasi penyembelihan ternak positif antraks. Hasil uji sampel itu dinyatakan positif antraks.
"Jadi yang disampel itu tanah bekas penyembelihan yang ada darahnya dan hasilnya positif (antraks)," kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan (Keswan) DPP Gunungkidul,Retno Widyastuti saat dihubungi detikJogja, Sabtu (3/10).
Retno mengatakan hasil uji sampel tanah itu sudah keluar beberapa hari lalu. Pihaknya hingga kini masih menguji sampel tanah di lokasi yang sama untuk diuji di laboratorium.
"Tujuan pengambilan sampel lagi itu untuk mengetahui apakah penyiraman desinfektannya sudah berhasil atau belum. Kalau masih positif perlu disiram desinfektan lagi sampai benar benar negatif," ucapnya.
Retno menambahkan pihaknya tidak melakukan uji sampel ternak. Hal ini karena ternak itu sudah diberandu.
"Kita tidak sampel ternaknya karena kita tidak menjumpai ternaknya dan ternaknya sudah dibrandu," ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, Dinkes Gunungkidul menyebut beberapa warga di Dadapayu, Semanu, Gunungkidul terpapar antraks. Semua itu usai warga menyembelih dan mengkonsumsi kambing yang mati mendadak.
"Awalnya ada warga yang periksa ke Puskesmas dan ternyata mengalami gejala klinis antraks. Setelah penyelidikan epidemiologi ada tujuh orang suspek antraks," kata Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono saat dihubungi detikJogja, Kamis (1/10).
Kejadian itu terjadi pada awal bulan September 2026. Ismono melanjutkan, tujuh orang tersebut ternyata memiliki riwayat kontak langsung dengan kambing yang mengalami kondisi lemas dan kemudian mati mendadak.
"Kemudian tujuh orang itu menjalani PCR dan hasilnya yang positif konfirmasi antraks ada empat orang," ujarnya.
Dari temuan tersebut, Dinkes melanjutkan penelusuran terhadap orang yang memiliki riwayat kontak langsung dengan kambing tersebut. Hasilnya, ada 47 orang yang berisiko terpapar antraks.
"Jadi 47 orang itu memiliki riwayat paparan terhadap hewan maupun produk hewan yang berasal dari kambing yang mati mendadak," ucapnya.
Ismono mengungkapkan, saat ini empat orang yang positif terpapar antraks telah menjalani pengobatan dan sudah berangsur-angsur membaik. Sedangkan untuk 47 orang yang masuk populasi berisiko masih dalam pengamatan dari Dinkes.
"Pasien konfirmasi sudah diobati dan sembuh, sedangkan populasi berisiko seluruhnya diberikan antibiotik profilaksis. Selain itu, polulasi berisiko tetap diamati sampai 60 hari atau dua kali masa inkubasi," katanya.
