Wakil Ketua DPD RI, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, turut berkomentar soal dugaan pungutan liar (pungli) yang dialami restoran Bolosego saat membuka food truck di Alun-alun Kidul (Alkid) Jogja. Dalam komentar bernada satir itu, GKR Hemas menyebut 'preman Jogja istimewa'.
"Wong ming (cuma) masalah alun-alun aku ditelpon seko (dari) Medan, seko Kalimantan, 'ini gimana Bu?'," tutur GKR Hemas dalam sambutannya di acara Sapa Aruh bersama warga usai Panen Perdana Pertanian Terpadu Kelompok Tani Swa Katon Asri Wirobrajan, Kota Jogja, Jumat (25/9/2026).
"Ya saya bilang, di seluruh Indonesia preman itu ada, tapi kalau preman yang ada di Jogja itu memang istimewa. Jadi memang harus diviralkan ke seluruh Indonesia," imbuhnya diiringi gelak tawa warga yang hadir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
GKR Hemas dalam sambutannya juga menyinggung soal kerukunan warga Jogja yang menjadi kekuatan Jogja itu sendiri.
"Kita ini sesama warga ini sudah paham bahwa kerukunan Jogja itu menjadi sesuatu yang membuat kita itu punya daya saing," kata GKR Hemas.
Bahkan dengan kerukunan warga Jogja, kata GKR Hemas, masyarakat Jogja tak mudah tercerai berai. Termasuk dengan adanya isu soal warga yang diadu dengan demonstran ketika ada aksi unjuk rasa.
"Jogja itu tidak pernah terusik kalau kerukunan itu kuat," tegas GKR Hemas.
"Jadi kalau pak Wali (Wali Kota Jogja) tadi (bilang) panen demo, mau demo seperti apapun itu sebetulnya kalau masyarakat itu rukun nggak akan kita itu terpecah," sambungnya.
Diberitakan sebelumnya, kasus pungli juru parkir (jukir) liar ini mencuat usai pemilik restoran Bolosego curhat di media sosial. Pihak Bolosego mengaku dimintai Rp 1 juta per hari oleh juru parkir meski ia telah mendapat izin dari Keraton Jogja untuk berjualan.
Sementara itu, pihak juru parkir mengklaim uang Rp 1 juta itu merupakan kesepakatan sebagai kompensasi atas lahan parkir yang digunakan sebagai restoran.
Video itu diunggah akun TikTok @dyahfardisa. Sedianya food truck itu bakal dia buka pada 16-20 September 2026, namun hanya bertahan sehari. Alasannya, dia mengaku terkena pungli oleh pihak berbagai pihak meski sudah mengantongi izin resmi ke Keraton Jogja.
"Tak pikir rampung wes di situ aja, ternyata ora e ges, punglinya banyak, opo disebut nek ora pungli. Kita bayar parkir Rp 1 juta per hari, total Rp 5 juta, itu aja sudah nego tadinya tukang parkir minta sehari Rp 2,5 juta, total Rp 12,5 juta, ini parkir trucknya ya," paparnya dalam unggahan itu dilihat detikJogja, Jumat (18/9).
