Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jetis Patalan 2 di Bantul ditutup permanen oleh Badan Gizi Nasional (BGN) setelah dua kali menyebabkan keracunan MBG. SPPG itu disebut tidak menunjukkan iktikad perbaikan yang memadai dalam batas waktu yang ditetapkan.
"Nggih, leres (iya betul), sejak kemarin tutupnya," kata Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji saat dihubungi detikJogja, Kamis (24/9/2026).
Pantauan detikJogja kemarin, tidak ada aktivitas di SPPG yang berada di pinggir Jalan Parangtritis Km.15, Patalan, Jetis, Bantul, itu. Hanya terlihat dua unit mobil boks SPPG yang terparkir di sisi utara bangunan. Satpam yang biasa berjaga juga tidak terlihat.
Hermawan mengatakan, penutupan SPPG Patalan 2 merupakan keputusan dari BGN.
"Untuk penyebabnya mungkin salah satunya karena kejadian keracunan yang terjadi berulang atau lebih dari satu kali," ujarnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menghormati keputusan BGN yang menutup permanen SPPG Patalan 2.
"Kita menghormati saja apa keputusan dari BGN. Jadi tidak apa-apa, biarkan ini menjadi contoh baik agar layanan SPPG yang lain menjadi semakin hati-hati, dan kejadian-kejadian keracunan nanti betul-betul bisa ditiadakan," ucapnya.
Diberitakan sebelumnya, penyedia makan bergizi gratis (MBG) yang membuat puluhan murid dari empat SD di Jetis, Bantul ternyata SPPG yang sama. Dinas Kesehatan Bantul menyebut gejala yang dialami puluhan murid itu rata-rata sama.
"Menurut keterangan Dinkes, SPPG penyalur MBG ke beberapa SD itu sama dengan yang menyalurkan MBG ke SDN 1 Sumberagung," kata Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo kepada wartawan di SDN 1 Sumberagung, Jetis, Bantul, Rabu (9/9).
Selain terjadi SDN 1 Sumberagung, Pramu mengungkapkan, kasus keracunan MBG juga terjadi di SD Patalan, SD Sawahan, dan SD Kembangsongo. Jumlah korban keracunan MBG terbanyak dari SDN 1 Sumberagung.
Pramu juga meminta SPPG di Bantul agar meningkatkan pelayanan kepada murid-murid penerima MBG.
"Layanilah anak-anak kami di Bantul ini dengan baik. Tidak hanya mencari untung, tapi juga layani mereka, menu makanannya, cara mengolahnya harus sesuai SOP sehingga kejadian seperti ini tidak terulang lagi ke depannya," ucapnya.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto mengatakan, penyalur MBG ke empat SD yang muridnya mengalami keracunan makanan adalah SPPG yang sama.
"Iya, dari SPPG yang sama, gejala juga sama kok," katanya, Rabu (9/9).
Gejala itu meliputi diare, pusing, hingga lemas. Dari penelusuran Dinkes, murid-murid dari empat SD itu mengkonsumsi MBG di hari yang sama yakni Jumat (4/9).
"Jadi untuk di SD Patalan Baru ada lima murid, SD Sawahan dua murid dan SD Kembangsongo ada tiga murid yang mengalami gejala keracunan setelah mengkonsumsi itu (MBG)," ucapnya saat itu.
(dil/apu)