Badan Gizi Nasional (BGN) menutup permanen empat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), termasuk SPPG Bantul Jetis Patalan 2 di Bantul, DIY. Alasannya, SPPG itu tidak menunjukkan itikad perbaikan yang memadai dalam batas waktu yang ditetapkan.
"Pemberhentian operasional permanen merupakan langkah tegas terakhir yang kami ambil setelah SPPG bersangkutan tidak menunjukkan itikad perbaikan yang memadai dalam batas waktu yang ditetapkan, khususnya menyangkut riwayat kejadian fatal yang berdampak pada penerima manfaat," kata Deputi Tauwas BGN, Ketut Sumedana pada Rabu (23/9/2026), dikutip detikHealth dari laman resmi BGN.
"Kesehatan dan keselamatan anak-anak penerima manfaat adalah prioritas utama, dan kami tidak akan berkompromi terhadap standar keamanan pangan," sambungnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir detikHealth, keputusan tersebut diambil setelah keempat SPPG dinilai indisipliner dalam pelaksanaan operasional dan tidak memenuhi standar keamanan pangan. Keputusan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Kepala BGN.
Pemberhentian operasional permanen ditetapkan berdasarkan rekomendasi Kedeputian Bidang Pemantauan dan Pengawasan (Tauwas) dengan mempertimbangkan rekam kepatuhan, riwayat kejadian, serta kemampuan SPPG dalam melakukan perbaikan fundamental terhadap sistem keamanan pangan.
Daftar 4 SPPG yang diberhentikan secara permanen:
- SPPG Karo Berastagi Sempajaya di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang dikelola Yayasan Manunggal Kartika Jaya dan melayani 2.997 penerima manfaat, diberhentikan operasionalnya secara permanen melalui SK Kepala BGN Nomor 63515 Tahun 2026.
- SPPG Blora Tunjungan Sukorejo 2 di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, yang dikelola Yayasan Tirto Mirah Asih dengan 2.614 penerima manfaat, diberhentikan operasionalnya secara permanen melalui SK Kepala BGN Nomor 63516 Tahun 2026.
- SPPG Bantul Jetis Patalan 2 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dikelola Yayasan Panji Satria Nusantara dengan 2.281 penerima manfaat, diberhentikan operasionalnya secara permanen melalui SK Kepala BGN Nomor 63517 Tahun 2026.
- SPPG Jayapura Depapre Waiya di Kabupaten Jayapura, Papua, yang dikelola Yayasan Kasih Iman Samuel Papua dengan 2.220 penerima manfaat, diberhentikan operasionalnya secara permanen melalui SK Kepala BGN Nomor 63519 Tahun 2026.
BGN menyebut, total sebanyak 10.112 penerima manfaat pada keempat SPPG tersebut akan dialihkan layanannya ke SPPG terdekat yang telah memiliki SLHS dan berkapasitas memadai, sehingga hak penerima manfaat atas program MBG tetap terpenuhi.
Diketahui, pemberhentian permanen dapat dilakukan apabila SPPG mengalami insiden keamanan pangan lebih dari satu kali, telah dikenakan sanksi pemberhentian operasional sementara lebih dari dua kali, tidak mampu membuktikan penyelesaian perbaikan fundamental pada sistem keamanan pangan, atau tidak memperoleh rekomendasi kelayakan dari instansi terkait.
Ketut menjelaskan, aspek keamanan menjadi hal yang sangat penting untuk mendukung kelancaran pelaksanaan operasional dan mengembalikan kepercayaan publik terhadap Program MBG.
Diberitakan sebelumnya, penyedia makan bergizi gratis (MBG) yang membuat puluhan murid dari empat SD di Jetis, Bantul, ternyata satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang sama. Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul menyebut gejala yang puluhan murid alami itu rata-rata sama.
"Menurut keterangan Dinkes, SPPG penyalur MBG ke beberapa SD itu sama dengan yang menyalurkan MBG ke SDN 1 Sumberagung," kata Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo kepada wartawan di SDN 1 Sumberagung, Jetis, Bantul, Rabu (9/9) lalu.
Adapun selain SDN 1 Sumberagung, Pramu mengungkapkan tiga SD lainnya adalah SD Patalan, SD Sawahan dan SD Kembangsongo. Namun, untuk paling banyak korban keracunan MBG berasal dari SDN 1 Sumberagung.
"Paling banyak tetap di SDN 1 Sumberagung," ujarnya.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul, Samsu Aryanto, juga mengatakan bahwa penyalur MBG ke empat SD yang muridnya mengalami keracunan makanan adalah SPPG yang sama. Gejala murid yang terdampak dari empat SD itu juga sama.
"Iya, dari SPPG yang sama, gejala juga sama kok," katanya.
Gejala itu, lanjut Samsu, seperti diare, pusing hingga lemas. Selain itu, dari penelusuran Dinkes, murid-murid dari empat SD itu mengkonsumsi MBG di hari yang sama yakni Jumat (4/9).
"Jadi untuk di SD Patalan Baru ada lima murid, SD Sawahan dua murid dan SD Kembangsongo ada tiga murid yang mengalami gejala keracunan setelah mengkonsumsi itu (MBG)," ucapnya.
