Barak atau tempat evakuasi akhir pengungsi di Pedukuhan Koripan, Kelurahan Sindumartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman, kondisinya memprihatinkan. Bangunan tempat pengungsian dari erupsi Merapi di tepi Jalan Tritis perbatasan Sleman-Klaten itu jadi sasaran vandalisme. Plafon terasnya juga jebol.
Pantauan detikJogja di lokasi, kerusakan terlihat dari papan nama di tembok depan gedung. Sebagian huruf pada papan nama itu copot sehingga tidak terbaca sebagai barak pengungsian.
Bangunan paling depan yang terpisah dari barak juga jadi sasaran corat-coret pakai cat semprot. Plafon bagian terasnya juga banyak yang jebol dan rontok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak ada aktivitas di lokasi dan pintu gedung utama tertutup rapat. Meskipun demikian, halaman barak dan sekitarnya relatif bersih dari rumput liar.
Barak yang berada di persawahan dan tegalan itu tampak sepi. Permukiman terdekat berada di belakang gedung, berjarak sekitar 150 meter.
Kondisi barak pengungsi Koripan di Ngemplak, Sleman, Rabu (12/8/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
Kalak BPBD Kabupaten Sleman, Bambang Kuntoro, menyebut barak Koripan memang rawan terjadi masalah.
"Kenapa? Satu, karena jauh dari permukiman. Sudah dipagari dirusak, jadi tempat nongkrong kalau malam, padahal kita juga ada penjaga orang situ," kata Bambang saat diminta konfirmasi detikJogja lewat ponsel, Rabu (12/8/2026).
Bambang mengatakan, barak itu tidak dijaga 24 jam. Dia juga menyinggung soal keterbatasan anggaran.
"Setahun kami merawat 12 barak, kemarin masih ada di bidang yang lain tapi sekarang direfocusing. Kalau obat rumput tetap kita kasih obat rumput," ujar Bambang.
Soal kerusakan atap, Bambang mengakui dari 12 barak yang ada hampir merata terjadi kerusakan.
"Ya hampir semua atap barak kita, 12 barak, hampir semua rontok. Padahal untuk perawatan semua butuh ratusan juta, " lanjut Bambang.
Kondisi barak pengungsi Koripan di Ngemplak, Sleman, Rabu (12/8/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
Bambang menjelaskan, sebenarnya barak tersebut boleh digunakan masyarakat untuk berbagai keperluan secara gratis agar terawat. Namun, barak di Koripan itu paling tidak diminati.
"Digunakan untuk masyarakat monggo, kita tidak pungut, tidak ada retribusi. Boleh digunakan kecuali saat darurat untuk pengungsian. Barak paling ora laris itu barak Koripan, yang lainnya digunakan masyarakat, " kata dia.
Bambang menambahkan, rencananya tahun depan akan diusulkan anggaran untuk perawatan semua barak. Ia mengimbau masyarakat agar turut menjaga fasilitas umum.
"Jangan merusak fasilitas umum karena itu milik kita bersama. Kalau masyarakat mau menggunakan silakan hubungi kami. Untuk pernikahan, olahraga, acara kampung, monggo digunakan dan dirawat bersama-sama. Jika ada yang merusak bisa dilaporkan ke pihak terkait," pungkasnya.



Komentar Terbanyak
Mahasiswa UGM Terancam Sanksi Buntut Hina Pasien BPJS Yurizal
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal
Ulah Pemotor Mabuk lalu Ngamuk Rusak Palang KA di Sleman