Sopir Bentor Geruduk Dishub Jogja, Minta Akses Lintasi Malioboro Saat CFD

Sopir Bentor Geruduk Dishub Jogja, Minta Akses Lintasi Malioboro Saat CFD

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 30 Jul 2026 16:04 WIB
Pengemudi bentor geruduk Balai Kota Jogja, Kamis (30/7/2026).
Pengemudi bentor geruduk kantor Dishub Provinsi DIY, Kamis (30/7/2026). Foto: dok. Istimewa
Jogja -

Ratusan pengemudi becak motor (bentor) mengeluhkan rencana full pedestrian Jalan Malioboro pada November mendatang. Rencana full pedestrian ini akan menutup jalur untuk kendaraan bermotor.

Ketua Umum Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY), Parmin, mengatakan pihaknya pada prinsipnya mendukung penataan Malioboro menjadi kawasan full pedestrian. Namun, menurutnya, kebijakan itu harus dibarengi dengan solusi bagi para pengemudi bentor yang selama ini menggantungkan penghasilan di Malioboro.

"Tidak ada persoalan. Kami mendukung full pedestrian karena demi tercapainya program pemerintah. Tapi jangan kami dikorbankan," kata Parmin kepada wartawan di kantor Dishub DIY, Kamis (30/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Parmin mengatakan hingga kini masih banyak anggota PBMY yang belum menerima becak listrik. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah tetap mengizinkan bentor beroperasi di Malioboro sampai seluruh pengemudi memperoleh kendaraan pengganti.

ADVERTISEMENT

"Selama teman-teman kami belum mendapat bantuan betrik dari pemerintah, ya kami tolong teman-teman bisa mengais rezeki di sepanjang jalur pedestrian. Jangan terus asal menutup," ujarnya.

Minta Akses Saat CFD

Selain itu, PBMY juga meminta agar akses di sejumlah ruas atau sirip Malioboro tidak ditutup sepenuhnya saat pelaksanaan car free day (CFD). Menurutnya, setidaknya separuh badan jalan masih bisa digunakan agar bentor tetap dapat melintas.

"Yang kami minta satu minggu itu separuh jalan jangan ditutup," ucap Parmin saat berorasi di hadapan massa.

Menurut Parmin, penutupan akses pada akhir pekan berdampak langsung terhadap pendapatan para pengemudi bentor. Ia menyebut Sabtu dan Minggu merupakan waktu dengan jumlah wisatawan paling banyak.

"Sabtu-Minggu itu tamu banyak. Kalau ditutup jelas merugikan teman-teman becak motor," katanya.

Ia memperkirakan seorang pengemudi bentor rata-rata bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp 100 ribu per hari dalam kondisi normal. Sementara itu, jumlah bentor yang beroperasi di kawasan Malioboro diperkirakan mencapai sekitar 900 unit.

"Kalau normal harian ya paling tidak Rp 100 ribu. Kalau bentor di sepanjang Malioboro itu ada sekitar 900," ujarnya.

Parmin juga menyoroti kondisi becak listrik bantuan pemerintah. Menurutnya, dari sekitar 80 unit yang telah dibagikan, hampir separuhnya mengalami kerusakan sehingga tidak dapat digunakan.

"Baru sekitar 80 yang dapat. Ternyata banyak yang rusak. Sekitar 40 sampai 50 unit rusak, mesinnya tidak bisa digunakan," ungkapnya.

Pihaknya berharap pemerintah tidak memaksakan penerapan full pedestrian sebelum proses penggantian bentor menjadi becak listrik benar-benar tuntas dan kendaraan yang telah dibagikan dipastikan berfungsi dengan baik.

Sementara itu, Kepala Dishub DIY, Chrestina Erni Widaystuti menanggapi keluhan tersebut. Dia menyebut keluhan para pengemudi bentor itu bakal disampaikan ke jajaran Pemda DIY.

"Kalau aspirasi dari bapak-bapak bahwa saat ini menghendaki ada separuh jalan digunakan, kami akan komunikasikan. Kami akan sampaikan aspirasi bapak-bapak supaya ada kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan bapak-bapak di lapangan," ungkapnya.



(ams/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads