Malioboro Mulai Bersiap Jadi Kawasan Full Pedestrian 24 Jam

Malioboro Mulai Bersiap Jadi Kawasan Full Pedestrian 24 Jam

Tim detikJogja - detikJogja
Jumat, 03 Jul 2026 06:01 WIB
Penampakan portal di jalan sirip-sirip Malioboro, Kamis (2/7).
Penampakan portal di jalan sirip-sirip Malioboro, Kamis (2/7). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Bagi warga Jogja maupun pengunjung yang hendak berwisata ke kawasan Malioboro sambil membawa kendaraan, mulai November mendatang siap-siap karena bakal diberlakukan full pedestrian. Tiang portal pun sudah mulai dipasang di sejumlah akses jalan sirip.

"Ya (full pedestrian mulai November), kita melihat lah kalau full pedestrian itu karena kita mau tunda sampai kapan lagi?" ucap Sekretaris Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Ni Made Dwi Panti Indrayanti, Rabu (1/7).

Ia menuturkan bahwa rencana itu bakal menggandeng Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Salah satu yang dimatangkan adalah pengaturan pada jalan sirip-sirip Malioboro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hanya saja memang perlu, kita kan ini kolaborasi tidak dengan Pemda DIY semata, ada Pemerintah Kota Jogja. Salah satunya adalah yang menjadi PR adalah pengaturan di sirip-sirip," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Pasang Portal pada Jalan Sirip

Made menjelaskan, sejumlah uji coba full pedestrian sudah dilaksanakan, seperti pada HUT Kota Jogja tahun ini. Salah satu hasil evaluasinya adalah pengaturan jalan sirip maupun kendaraan tradisional.

"Ya, kita coba, kita coba. Kan mulai bulan Juni itu desainnya itu kan masing-masing sirip itu dikasih portal," ungkap Made.

"Ya kita lihat juga kan. Ya full itu bukan berarti terus kemudian sepi tanpa ada yang bisa (lewat) kan ada exception-nya, ada pengecualiannya, kendaraan khusus tertentu, ambulans, pemadam kebakaran kalau ada sesuatu. atau tamu negara," imbuhnya.

Seperti yang terlihat pada Kamis (2/7/2026) si akses masuk Jalan Suryatmajan. Portal sepanjang kurang lebih 2 sampai 3 meteran itu terpasang di kedua sisi jalan, di utara dan selatan.

Portal berwarna hijau-kuning tersebut nampak belum selesai dikerjakan. Tiang portal juga tampak terkunci sehingga tidak bisa diturunkan. Selain Jalan Suryatmajan, portal juga tampak di Jalan Pajeksan.

"Wah kurang tahu e kapan dipasang, tapi kayaknya belum lama," ujar salah satu juru parkir di dekat lokasi yang enggan disebut namanya.

Kepala Dishub DIY, hrestina Erni Widyastuti, menjabarkan portal tersebut sebagai persiapan Malioboro sebagai kawasan full pedestrian.

Erni menjelaskan saat ini pihaknya masih sibuk mempersiapkan penataan jaringan lalu lintas, pengembangan kantong parkir kawasan penyangga, peningkatan pelayanan TransJogja, pengaturan distribusi logistik, penyediaan fasilitas pejalan kaki, akses bagi penyandang disabilitas, hingga koordinasi dengan instansi pemerintah dan aparat keamanan.

"Fokus kami bukan mengejar angka persentase kesiapan, tetapi memastikan seluruh ekosistem pendukung benar-benar siap sehingga implementasi kebijakan dapat berjalan secara efektif, bertahap, dan tidak menimbulkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat," papar Erni.

"Prinsip utama yang kami pegang adalah bahwa kawasan pedestrian harus tetap menjamin kelancaran tugas-tugas pelayanan publik dan keamanan. Karena itu, portal yang direncanakan bukan merupakan penghalang permanen, melainkan bagian dari sistem manajemen akses yang operasionalnya diatur melalui standar prosedur yang disusun bersama seluruh instansi terkait," imbuhnya.

Erni menjelaskan, pada penataan jaringan lalu lintas jika full pedestrian diterapkan, kendaraan-kendaraan seperti kendaraan darurat, ambulans, pemadam kebakaran, maupun kendaraan pelayanan publik tetap akan diberikan sesuai kebutuhan operasional.

"Mekanisme buka-tutup portal, pengaturan waktu, serta petugas yang berwenang akan ditetapkan melalui koordinasi bersama sehingga keamanan kawasan tetap terjaga tanpa menghambat tugas negara," terangnya.

Godok Skema Drop Off Wisatawan

Skema lain yang tengah digodok Pemda DIY adalah soal wisatawan yang datang menggunakan bus pariwisata.

"Ya itu sedang kita desain juga. Jadi untuk simulasi sebenarnya juga perlu kita lakukan untuk ini bus-bus pariwisata, ya drop off ya. Harapan kita itu ada tempat atau lokasi, tapi masih ada kajian juga nanti dari kota untuk itu, begitu," ujarnya.

Made melanjutkan, pihaknya berharap masyarakat memahami kebijakan ini. Pasalnya, beban kendaraan di Malioboro dianggap sudah terlalu berat hingga kerap terjadi penumpukan kendaraan. Selain itu, Malioboro diketahui sebagai kawasan zona emisi rendah (low emition zone).

"Kita sebenarnya melakukan penataan ini untuk apa? Ya bukan kita tidak suka ada kunjungannya ya, tapi kita ingin membuat kenyamanan. Karena itu yang bicara masalah sustain atau keberlanjutan suatu kawasan itu ketika memang kita atur," papar Made.

"Kalau (volume kendaraan besar), itu akan lama-lama akan berdampak negatif juga bagi kawasan itu. Karena itu tadi, daya dukung daya tampungnya akan sangat terpengaruh oleh itu kalau kita tidak mengatur. Apalagi kan juga ada banyak bangunan heritage yang mungkin juga lambat laun juga akan terganggu dengan ya gangguan-gangguan eksternal, ya getaran dan lain-lain," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apu/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads