Keren! Mahasiswa UMY Sulap Hama Keong Mas Jadi Pupuk

Keren! Mahasiswa UMY Sulap Hama Keong Mas Jadi Pupuk

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Selasa, 15 Sep 2026 11:47 WIB
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Arif Reksa Pambudi, yang mengembangkan produk pupuk organik cair berbahan dasar keong emas
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Arif Reksa Pambudi, yang mengembangkan produk pupuk organik cair berbahan dasar keong emas. Foto: Dok. Pribadi Arif
Jogja -

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengembangkan produk pupuk organik cair berbahan dasar keong emas. Pengembangan produk tersebut berawal dari keresahan petani akan hama keong mas.

Inovasi pupuk tersebut bernama Agriverse. Keong mas yang biasanya menjadi musuh bagi petani itu diolah menjadi biofertilizer yang mengandung mikroorganisme dan mampu meningkatkan produktivitas lahan secara signifikan.

"Jadi idenya itu muncul dari persoalan yang dihadapi petani padi, khususnya hama keong mas. Sebelumnya kita mengikuti program Vessel SEBI UMY. Tim kami sebelumnya sudah ada ide ini kemudian dikembangkan lebih jauh melalui program itu," ujar founder sekaligus CEO Agriverse, Arif Reksa Pambudi, saat dihubungi detikJogja, Selasa (15/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arif menjelaskan, keresahan tersebut berangkat dari persoalan yang dihadapi petani padi di wilayahnya. Salah satu hama yang menjadi masalah ialah keong mas.

"Petani padi khususnya. Jadi karena di padi itu kan hama yang paling momoknya padi di daerah kami itu kan keong mas. Jadi kami bergerak dari situ," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

Lewat program Vessel SEBI UMY itu, Arif bilang timnya mendapatkan pendanaan sekaligus pendampingan, mulai dari brainstorming ide, pembentukan tim lintas disiplin, penyusunan roadmap hingga SOP.

"Di situ kami didanai, diberi mentoring, mulai dari brainstorming ide, kemudian ada penjaringan tim juga dari berbagai multidisiplin ilmu yang berbeda. Kalau misalkan CFO-nya dari akuntansi, si COO-nya dari pertanian, kemudian ada dari Ilkom, kayak gitu. Nah, itu juga ada penjaringannya. Kemudian ada pembuatan roadmap, penyusunan SOP, dan lain sebagainya. Itu semuanya ada fasilitas-fasilitasi oleh SEBI," urainya.

Arif menyebut, tim juga melakukan uji coba di lahan pertanian. Arif menyebut uji coba dilakukan di dua desa, sementara produk yang telah dikembangkan juga dibagikan kepada petani melalui Forum Komunikasi Petani Milenial DIY.

"Kalau untuk desa uji cobanya, kami di dua desa. Tapi kalau untuk yang sudah kita bagikan, tersebar ke mana aja, ini mungkin banyak karena kami distribusikannya di Forum Komunikasi Petani Milenial DIY," jelasnya.

Lebih lanjut, penggunaan Agriverse kemudian meluas setelah dilakukan sejumlah uji coba di lahan di Kabupaten Sleman dan Magelang. Produk tersebut juga dikembangkan bersama salah satu formulator pupuk di Sleman.

"Setelah itu uji coba pupuknya jadi, kami berkolaborasi dengan formulator pupuk salah satu formulator pupuk di Sleman," kata Arif.

Mahasiswa Prodi Hukum Internasional itu mengatakan dirinya telah memberdayakan lebih dari 200 petani melalui pengembangan Agriverse. Dampak tersebut turut membuat inovasi mereka mulai mendapat perhatian dari sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah.

"Karena saya pribadi juga telah memberdayakan lebih dari 200 petani, itu jadi mulai boom, mulai besar, mulai terkenal di mana-mana. Di dinas-dinas daerah di-notice juga," tuturnya.

Agriverse sendiri memiliki dua jenis pupuk, yakni pupuk vegetatif dan regeneratif. Pupuk vegetatif digunakan sejak tanaman mulai ditanam hingga fase pertengahan pertumbuhan, sedangkan pupuk regeneratif digunakan hingga tanaman berbuah.

"Kami ada pupuk regeneratif dan juga pupuk vegetatif. Nah, kalau untuk vegetatif itu dari awal ditanam sampai pertengahan lah, bisa dibilang pertengahan. Kalau regeneratif itu sampai berbuah. Jadi, dari situlah yang menjadi pembeda," terangnya.

Pengembangan Agriverse juga membawa tim tersebut mengikuti berbagai kompetisi. Salah satunya International Lean Canvas Competition ISCOMBUS yang berhasil mereka menangi.

"Iya, betul (juara International Lean Canvas Competition ISCOMBUS), karena keberdampakan kami juga sudah banyak, kemudian banyak juga mendapat dukungan dari pemerintah-pemerintah daerah, tokoh-tokoh masyarakat," tuturnya.

Arif mengungkapkan tantangan saat mengikuti kompetisi internasional itu. Seperti proses pitching hingga sesi tanya jawab yang harus menggunakan Bahasa Inggris.

"Perjuangannya memang berat karena kita kan pitching, persiapan pitching, kemudian kita juga membuat pitch deck dengan bahasa Inggris. Kemudian tanya jawabnya juga menggunakan bahasa Inggris," ungkapnya.

"Peserta berasal dari beberapa negara ya. Tapi yang berhasil hingga final itu dari Indonesia dan Malaysia," lanjutnya.

Ke depannya, Arif berharap dukungan terhadap mahasiswa yang mengembangkan usaha dapat terus diperkuat. Ia berharap pendanaan dan mentoring bagi mahasiswa dapat berkelanjutan sehingga semakin banyak wirausaha muda yang lahir dari kampus.

"Harapannya bisa terus berkembang, pendanaan bisa terus didistribusikan ke mahasiswa, kemudian penerima manfaat ini bisa lebih besar dengan adanya support lebih untuk pengembangan wirausaha muda di UMY," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apl/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads