Pemda DIY dan Pemkot Jogja menegaskan tidak ada pelarangan terhadap penyelenggaraan kegiatan pesepeda massal Jogja Last Friday Ride (JLFR). Gelaran tiap hari Jumat pada minggu terakhir setiap bulan itu juga boleh masuk kawasan Malioboro.
Dalam keterangan di situs resmi Pemda DIY disebutkan, gelaran JLFR dipersilakan untuk tetap diselenggarakan seperti biasanya tanpa pembatasan peserta.
Penjelasan Dishub DIY
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti mengatakan tidak ada kebijakan dari pemda atau pun pemkot yang melarang aktivitas bersepeda dilakukan di kawasan Malioboro, termasuk JLFR. Menurutnya, semua pengguna jalan punya hak yang sama untuk memanfaatkan ruas jalan ikon Kota Jogja itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erni menjelaskan, penegasan tersebut untuk menanggapi kekhawatiran publik serta isu yang beredar mengenai larangan penuh bersepeda di kawasan Malioboro. Isu tersebut berhembus usai adanya penertiban peserta JLFR di kawasan Jalan Malioboro pada Jumat (26/06) lalu.
Diketahui, saat itu pembatasan aktivitas pesepeda diberlakukan demi menjaga kelancaran dan ketertiban lalu lintas pada masa libur sekolah.
"Jadi kalau anggapannya kami melarang itu, tidak benar, karena semuanya (pengguna jalan) punya hak yang sama. Tetapi tentang bagaimana kita bisa memberikan hak kepada pengguna jalan yang lain juga, bagi pengguna (jalan) yang tidak bersepeda. Semuanya harus berbagi tempat dan saling menghargai," kata Erni usai mengikuti Rapat Koordinasi Lintas Instansi terkait penyelenggaraan JLFR, di Balai Kota Jogja, Senin (20/7/2026).
Erni menekankan, ketertiban dan sikap saling menghormati serta menghargai dari para pesepeda JLFR penting lantaran Jalan Malioboro memiliki ruang yang terbatas. Maka itu, jika pesepeda sampai memenuhi badan jalan, dikhawatirkan dapat mengganggu pengguna jalan lain, terlebih jumlah peserta JLFR yang mencapai ribuan.
Erni berharap para peserta JLFR pada akhir bulan ini dapat memberikan hak yang sama bagi pengguna jalan lain yang tidak menggunakan sepeda. Ia juga mengimbau agar JLFR diselenggarakan secara tertib dan tetap mengindahkan peraturan lalu lintas.
"Jangan sampai tidak menaati. Kalau nanti satu stuck, crowded semua nanti," ujar Erni.
Walkot Jogja: Kita Membersamai
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, juga memastikan tidak akan ada skema pengamanan yang berlebihan dari jajarannya dalam mengawal pelaksanaan JLFR pada 31 Juli 2026.
"Pemerintah kota bersama Forkopimda menerima dengan baik (penyelenggaraan JLFR). Tidak ada masalah, tidak ada pelarangan, tidak ada skema (pengamanan) yang khusus, itu tidak ada. Yang jelas kita akan lebih banyak membersamai, begitu, membersamai mereka," kata Hasto.
Mengenai pergerakan dan rute peserta, Hasto mengatakan, rombongan pesepeda yang mengikuti JLFR dapat memasuki pusat Kota Jogja melalui berbagai arah. Tidak ada pembatasan jalur masuk bagi peserta yang datang dari wilayah sekitar.
Ia juga memastikan kawasan inti Sumbu Filosofi, termasuk Malioboro, tetap terbuka dan dapat dilintasi para pesepeda sebagaimana biasanya. Hasto menjelaskan, peserta bisa memasuki kota dari berbagai wilayah, seperti Bantul, Kulon Progo, Sleman, maupun kawasan timur Jogja.
"Saya kira semua jalur itu bisa masuk, dan itu (Malioboro) terbuka, intinya itu terbuka," tegas Hasto.

Komentar Terbanyak
Bumil-Ibu Menyusui Ikut Jadi Korban Keracunan MBG di Wates
Disdag Jogja Buka Suara soal Curhat Difabel Dilarang Jual Asongan di Ngasem
BGN Umumkan 5 Pejabat Baru, Ini Daftarnya