Sederet Dugaan Penyebab Siswa-Bumil di Wates Keracunan MBG

Round-Up

Sederet Dugaan Penyebab Siswa-Bumil di Wates Keracunan MBG

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 23 Jul 2026 04:30 WIB
Ilustrasi Trauma Keracunan MBG
Ilustrasi Trauma Keracunan MBG. Foto: Edi Wahyono
Jogja -

Gejala keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sejumlah siswa SMPN 3 Wates, Kulon Progo, ternyata juga menimpa sejumlah ibu hamil, ibu menyusui, hingga siswa SD dan MI. Berikut sederet dugaan penyebab keracunan itu.

MBG dari SPPG yang Sama

Kepala Dinas Kesehatan kulon Progo, dr RR Susilaningsih, mengatakan ibu hamil dan ibu menyusui yang mengalami gejala keracunan itu merupakan penerima manfaat MBG dari Posyandu yang dilayani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama dengan para siswa.

"Jadi memang awalnya berdasarkan laporan ada 150. Kemudian dilakukan investigasi melalui Google Form, hasilnya ada 105 yang sakit, terdiri dari 98 siswa, empat tenaga pendidik, satu ibu hamil, dan dua ibu menyusui. Kemudian tambah hari ini dari SD Sogan ada satu yang melapor, lalu dari MI Ma'arif juga ada satu," ungkap Susilaningsih saat dihubungi detikJogja, Rabu (22/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iya betul (berasal dari SPPG yang sama), karena memang SPPG ini sudah melayani 3B yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Jadi ini dari masyarakat, sasaran Posyandu," sambungnya.

Susilaningsih menjelaskan, para pasien umumnya mengalami gejala berupa nyeri perut, diare, dan muntah. Meski demikian, ia memastikan kondisi ibu hamil maupun ibu menyusui itu hingga dalam keadaan stabil.

ADVERTISEMENT

"Sampai saat ini kondisinya masih stabil. Ibu hamilnya sudah memasuki usia kehamilan sekitar tujuh bulan, sehingga muntah-muntahnya tidak sampai menyebabkan dehidrasi. Berdasarkan laporan di lapangan, tidak ada yang memerlukan penambahan cairan intravena atau infus. Jadi masih dalam pengawasan dan kondisinya stabil," jelasnya.

150 Siswa SMP Keracunan

Sebelumnya, Susilaningsih menyebut 150 siswa di SMPN 3 Wates, Kulon Progo diduga keracunan usai mengonsumsi MBG.

"Betul, 150 siswa yang ada gejala dan sudah berobat ke puskesmas, namun tidak ada yang serius. Sementara data yang masuk paling banyak diare dan ada yang muntah juga," ujar Susilaningsih kepada detikJogja lewat pesan singkat, Selasa (21/7).

Kepala UPT Puskesmas Wates, Salamah Sri Nurhayati, menjelaskan sebanyak 27 anak sempat diperiksa di puskesmas. Namun, tak ada gejala berarti dan anak yang mengalami gejala sudah diperbolehkan pulang.

"Ada 27 anak SMP tersebut diperiksa di puskesmas karena diare dan sebagian muntah. Setelah diberi obat boleh pulang. Sementara Dinkes masih melanjutkan investigasi," kata Salamah, Selasa (21/7).

Dugaan Penyebab Keracunan

Dinas Kesehatan Kulon Progo mengungkap hasil investigasi awal terkait dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami ratusan penerima manfaat di Wates.

Sejumlah faktor risiko ditemukan, mulai dari jeda penyajian makanan yang cukup lama hingga penggunaan alat pelindung diri (APD) yang belum lengkap. Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

"Tim kami sudah terjun untuk mengecek ke SPPG, melakukan wawancara dan melihat langsung prosesnya. Kami juga sudah mendapatkan data kapan ayam datang, kapan disimpan, dimasak, termasuk proses pengolahan tahu, buah, dan sayur," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, dr. RR Susilaningsih, saat dihubungi detikJogja, Rabu (22/7).

Berdasarkan hasil penelusuran sementara, kata Susilaningsih, salah satu faktor risiko yang ditemukan adalah lamanya jeda antara proses memasak ayam dengan waktu makanan dikonsumsi.

"Untuk ayam ini, dari masak sampai dikonsumsi ada waktu cukup lama. Dari masaknya sekitar jam 02.00 WIB, kemudian dikonsumsi dengan jeda sekitar 8 sampai 10 jam. Ini memang berisiko ditumbuhi bakteri," ujarnya.

Selain itu, Susilaningsih menyebut proses memasak yang dilakukan dalam beberapa tahapan juga dinilai berpotensi memicu kontaminasi silang apabila higienitas penjamah makanan tidak diterapkan dengan baik.

"Proses pemasakan beberapa tahap juga berisiko terjadi kontaminasi silang kalau higiene dari penjamah makanan kurang bagus," ucapnya.

Suhu Penyimpanan-APD

Susilaningsih menjelaskan, tim investigasi juga menemukan beberapa faktor risiko lain, seperti proses pencucian peralatan masak yang diduga belum optimal, adanya ketidaksesuaian pada pemantauan suhu penyimpanan makanan, hingga penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh petugas yang belum lengkap saat menyiapkan makanan.

"Sarana untuk masak kalau misalnya pencuciannya kurang sempurna. Kemudian alat pengatur suhu atau monitor suhu di penyimpanan memang ada sedikit ketidaksesuaian. Yang paling penting juga APD kurang lengkap saat penyiapan," terangnya.

Meski demikian, Susilaningsih menegaskan seluruh temuan tersebut masih berupa dugaan faktor risiko dan belum dapat dipastikan sebagai penyebab keracunan.

"Penyebabnya itu baru dugaan. Kami masih harus memeriksa sampel makanan dan muntahan. Jadi penyebab pastinya belum bisa dipastikan. Kalau untuk definisi KLB, memang kalau ada dua atau lebih orang memakan hal yang sama dan bergejala, itu sudah termasuk KLB. Hanya penyebabnya belum pasti," jelasnya.



(dil/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads