Jogja Last Friday Ride (JLFR) buka suara terkait pembatasan rute di kawasan Malioboro Jogja oleh pihak kepolisian. JLFR menilai peristiwa tersebut menjadi momentum untuk membahas kembali pemanfaatan ruang jalan yang adil bagi seluruh pengguna.
Dalam pernyataan yang diterima detikJogja, JLFR menyoroti ironi ketika kemacetan akibat dominasi kendaraan bermotor dianggap sebagai hal yang lumrah. Sebaliknya, aktivitas warga seperti bersepeda dan berjalan kaki di ruang publik justru dinilai sebagai gangguan.
"Yang ironis hari ini bukan sekadar perdebatan tentang sebuah kegiatan bersepeda, melainkan cara kita memandang ruang jalan," tulis JLFR dalam pernyataan sikapnya melalui salah satu perwakilan yang enggan disebut namanya, Kamis (9/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JLFR menegaskan sejak awal komunitas tersebut tidak dibentuk untuk menguasai jalan atau menghambat aktivitas masyarakat. Menurut mereka, kegiatan Last Friday Ride bertujuan merayakan budaya bersepeda sekaligus mengingatkan bahwa jalan merupakan ruang publik yang seharusnya dapat dinikmati seluruh pengguna secara adil, aman, dan saling menghormati.
"Kami menyadari bahwa setiap kegiatan di ruang publik harus diselenggarakan secara tertib, menghormati aturan, serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat. Apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, kami terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan," demikian bunyi pernyataan tersebut.
"Apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, kami terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan," lanjut pernyataan tersebut.
JLFR juga berharap pendekatan terhadap komunitas dilakukan secara proporsional, humanis, dan mengedepankan dialog. Menurut mereka, keselamatan, ketertiban, dan penghormatan terhadap hukum merupakan tujuan bersama, namun tidak semestinya menghilangkan ruang berekspresi warga yang dilakukan secara damai.
Komunitas itu berharap polemik larangan memasuki Malioboro dapat menjadi momentum bagi komunitas, pemerintah, aparat, dan masyarakat untuk berdialog mengenai pengelolaan ruang jalan yang lebih berkeadilan.
"Karena pada akhirnya, jalan bukan hanya tempat untuk berpindah, tetapi juga ruang hidup bersama," tutup pernyataan tersebut.
Diberitakan sebelumnya, polisi membatasi rute pesepeda Jogja Last Friday Ride (JFLR) yang melintasi kawasan Malioboro, Kota Jogja. Kebijakan itu diambil menyusul banyaknya keluhan dari pedagang yang menilai aktivitas rombongan pesepeda mengganggu kenyamanan pengunjung dan memicu kemacetan.
Hal itu disampaikan Kasat Lantas Polresta Jogja, AKP Alvian Hidayat. Ia menjelaskan kebijakan mengarahkan peserta JLFR agar tidak memasuki jalur utama Malioboro diambil setelah banyaknya keluhan dari masyarakat maupun wisatawan. Kebijakan tersebut merupakan hasil koordinasi antara pihak kepolisian dan Pemerintah Kota Jogja.
"Pada dasarnya kegiatan kita mengarahkan untuk tidak masuk Malioboro ini sudah berjalan lama, pasca kejadian yang edisi 184 atau 185. Kita ambil kebijakan sementara, karena kita sudah berupaya untuk komunikasi dengan teman-teman yang di JFLR tapi tidak ada jawaban, tidak ada tanggapan, ya akhirnya kalau untuk melarang secara total kan enggak bisa ya," ujar Alvian saat dihubungi detikJogja, Kamis (2/7).
