Sudah sejak tahun lalu Gilang Rizki (29) akrab dengan hiruk-pikuk gemerlap Pasar Ngasem Jogja untuk menjajakan rambak. Meski tanpa penglihatan, langkahnya tak surut demi bertahan hidup.
Gilang merupakan penyandang disabilitas netra asal Brebes yang sudah sejak 2004 tinggal di Jogja. Sarjana Bimbingan Konseling dari UIN Jogja terdampar di Pasar Ngasem karena tak banyak pilihan.
"Kalau nggak jualan ya gimana aku, dari awal kuliah sebenarnya sudah jualan aku, karena disabilitas kemana mana kan besar to operasionalnya, jadi harus gimana cari uang tambahan. Sampai lulus kuliah ternyata belum dapat kerja," kata Gilang saat ditemui di Pasar Ngasem, Rabu (22/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baginya, berjualan di Pasar Ngasem adalah hal yang paling mungkin dilakukan saat ini. Dengan kode Qris yang menggantung di lehernya, setiap hari Gilang menjajakan krupuk rambak seharga Rp 7 ribu per kantong.
Hari ini Gilang nampak berjualan di salah satu lapak orang yang kebetulan sedang libur. Kebaikan hati warga Ngasem membuatnya tak perlu membayar berjualan di sana.
"Aku memang senang sama rambak awalnya, yang tak incer kan wisatawan to kayak di sini. Masih setoran, sekali dikirim 10 (kantong) gini to, soale ambil dari Solo," terangnya.
Kerupuk rambak bukan komoditi pertama yang Gilang jual. Sebelumnya, saat kuliah tahun 2017 hingga lulus 2024, ia sudah terjun menjadi interpreneur dengan menjajakan cemilan, nasi kucing, hingga gorengan.
Gilang Rizki (29) disabilitas netra penjual kerupuk rambak di Pasar Ngasem, Rabu (22/7). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja |
Lagi-lagi, bukan kemauan Gilang untuk berjualan, tapi keadaan. Tinggal seorang diri di Kota Pelajar sejak 2004, memaksa pemuda gempal asal Brebes Jawa Tengah itu, mengaktifkan mode survival demi bertahan hidup.
"(Sekarang) Ngekos di Klitren, sendiri. Asli Brebes, (ke Jogja) dari 2004, dari SD, SLB to mas, kita kan 9 tahun harus SLB dulu, tinggal di asrama," ujar Gilang.
Gilang memutuskan beralih dagang kerupuk rambak lantaran pertimbangan biaya operasional. Meski produk cemilannya sudah ia branding, namun biaya operasional untuk kulakan membuatnya menyerah.
Di tahun 2025, Gilang coba jual kerupuk rambak. Ia tak perlu mikir biaya operasional kulakan karena kerupuk langsung dikirim ke indekosnya. Gilang hanya perlu memikirkan biaya ojek online sehari-hari dari indekos ke Pasar Ngasem.
"Kok kayaknya banyak yang suka rambak ini, penginnya sih rebranding cuma belum ada modalnya," papar Gilang.
"(Omzet) Lumayan awale, 2025 itu kan, makin ke sini agak turun (omzet) Tahun ini rata-rata Rp 200-300 ribu nek habis, cuma ya habisnya lama, weekend aja nggak pasti. Kadang ya nggak cukup buat ojol, tapi yowes ra popo lah," terangnya.
Gilang mengaku berdagang bukan keinginannya. Ia ingin bekerja kantoran atau mengajar, seperti cita-citanya menjadi seorang guru. Berbagai upaya tentu sudah ia coba, namun selalu berakhir dengan kekecewaan.
Bungsu dari 6 bersaudara itu juga tak ingin pulang ke Brebes dalam waktu dekat. Tak ayal, pengharapannya masih tergantung di Kota Jogja, tempat banyak orang juga menggantungkan harapan.
"Sak jane (sebenarnya) aku nggak mau (berjualan), terus terang aku. Ya aku kan kuliah ya, sayang ijazahnya. Tapi yo gimana wong cari kerjaan susah ya, apalagi di kota besar. Sebenernya ya pengin kerja di kantor. Udah mas (mencoba melamar kerja)," akunya.
"Nggak lah (tak ingin pulang ke Brebes), di sini aja belum stabil pekerjaannya. Ada kakak sama ibu. Iya (masih ingin berjuang di Jogja), nek di sana (Brebes) mau ngapain?" ujar Gilang.
Perjuangan Gilang tak hanya untuk mencari nafkah harian, namun kini ia dihadapkan dengan masalah pelik soal regulasi. Karena tak memiliki los lapak, ia dilarang berjualan di Pasar Ngasem.
Gilang dengan penuh harap menunggu pemerintah hadir. Bukan untuk dikasihani, tetapi menagih janji pemerintah yakni melayani masyarakat tanpa pandang bulu. Ia tak meminta bantuan uang atau sembako, tapi pekerjaan untuknya sekadar bertahan hidup.
"Namanya peraturan kan tetap peraturan, aku juga menyadari itu. Tapi kan aku juga butuh solusi, sebenarnya jualan ini juga bukan murni keinginan sendiri," terangnya.
"Tentu pengin difasilitasi (oleh pemerintah), entah itu jualan atau pekerjaan, pengin aku dari dulu, mudah mudahan ya," harap Gilang.

