Menjamur di Jogja, Begini Lho Sistem Bisnis Warung Madura

Menjamur di Jogja, Begini Lho Sistem Bisnis Warung Madura

Adji G Rinepta - detikJogja
Sabtu, 17 Okt 2026 14:16 WIB
Penampakan salah satu warung Madura di Jogja, Jumat (16/10/2026).
Penampakan salah satu warung Madura di Jogja, Jumat (16/10/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Di kota, apalagi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), keberadaan warung kelontong Madura tidak sulit dicari. Ternyata, sistem bisnisnya bukan franchise atau waralaba, namun lebih simpel dari itu.

Warung kelontong Madura termasuk warung serba ada. Warung ini identik dengan keberadaan pompa bensin serupa SPBU mini di depan warung dan buka 24 jam.

Salah satu pemilik warung Madura yang paling awal di Jogja, Heri Irawan, menceritakan ia mulai membuka warung pada 2017 di kawasan Seturan, Depok Sleman. Kala itu belum banyak orang Madura yang membuka warung kelontong di Jogja. Warung Madura baru merebak usai Pandemi COVID-19.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"2017 kalau nggak salah, di Selokan Mataram itu, di Seturan. Iya buka sendiri itu," jelas Heri saat ditemui detikJogja di Bantul, Jumat (16/10/2026).

ADVERTISEMENT

"Kan setelah Covid orang Madura tuh ke sini. Waktu dulu saya sebelum Covid enak. Cari lokasi pun juga sendiri ya, gitu," sambungnya.

Kini, Heri punya lima warung kelontong yang tersebar di Sleman dan Bantul. Heri menceritakan, setiap warung yang ia buka menghabiskan modal Rp 100 juta termasuk biaya sewa tempat.

"(Modal awal) Ya per warung kalau kita kan 100 (juta) memang. Kalau kita, karena kita kan pakai kayak minimarket gitu loh sistemnya, kan pakai rak-raknya itu. Sewa (termasuk) modal awal itu," paparnya.

Adapun sistem bisnis yang Heri gunakan dalam membuka warung kelontong adalah sistem cabang dan kerja sama. Pada warung cabang, ia merekrut karyawan untuk menjaganya. Satu warung berisi 2-3 orang karyawan.

"Karyawan saya juga ada orang sini juga. Nggak (harus orang Madura), kita juga pakai orang sini juga. Saya sering pakai orang sini malah. Kalau orang sini ya sistem gaji kita, tetap sif-sif-an itu loh. Pakai sif, sif-nya 3 sif," ungkap Heri.

"Artinya juga memberikan ruang kerja lah. Kita juga ini terbuka kok. Ke orang mana pun juga kita ini, kemarin orang Magelang itu ada. Ada orang Timur juga. Nah direkrut sebagai karyawan. Itu kan yang penting modalnya kita kan orang itu ya yang penting benar-benar mau kerja dan jujur," imbuhnya.

Sistem bisnis kedua adalah kerja sama dengan sistem bagi hasil 50-50. Heri menerangkan, untuk sistem ini ia mengajak sanak saudara dari Madura. Heri bertindak sebagai pemodal, dan partnernya sebagai pengelola.

"Iya (mengajak), kalau ini kan sistemnya kalau suami istri itu kan sistem bagi hasil, 50-50, nggak ikut modal dia, modal dari saya, ya saya lengkapin semua dulu, tapi yang ngelola kan dia full nanti. Ya apabila nanti dia juga mau keluar juga ya harus dicek lagi, tapi kalau memang tekor ya berarti nggak benar, kan gitu," ujar dia.

"Karena kalau sistemnya orang Madura itu nggak mau dia kalau sistem gaji. Orangnya pun juga kalau ke warung itu kalau mau ngambil, jangankan rokok ya, kerupuk aja kita harus bayar. Ya saya minta setoran setiap bulan," lanjut Heri.

Untuk urusan omzet, kata Heri, tidak ada angka pasti tiap bulannya alias fluktuatif. Omzet juga tergantung lokasi warung. Selain itu, ada perbedaan omzet dari dulu awal Heri buka warung dan sekarang.

"Omzet tergantung lokasi juga, nggak mesti juga. Kadang-kadang kan ada Rp 1,5 juta, itu yang paling rendah. Makanya kalau bagi hasil orang Madura tuh kan nggak risiko," ungkap Heri.

"(Omzet tertinggi belasan juta?) Nggak juga sih, jarang sekarang, beda sama dulu. Kalau dulu, waktu saya masih belum ada orang Madura tuh, enak memang, belum banyak orang Madura," sambungnya.

Ada 600-an Warung Madura

Ketua Kelontong Keluarga Madura Yogyakarta (KMY), Subur Adi Cahyono, menambahkan saat ini terdata 600-an warung kelontong milik anggota KMY. Seperti Heri, menurutnya, satu orang bisa memiliki lebih dari satu warung,

"Kalau data yang masuk ke kita itu yang menjadi anggota sekitar 600-700 (warung), itu yang sudah masuk ke anggota. Tapi kalau keseluruhan, ya ribuan juga itu, (ada yang) belum tergabung (KMY), karena belum, kadang belum mengerti," jelas Subur kepada detikJogja.

"Itu (satu orang) bisa punya 10 (warung), bisa punya lebih dari satu lah, yang punya lebih dari satu itu banyak. Paling banyak di Sleman, dan berpusatnya di Babarsari itu paling banyak. Babarsari, Condongcatur, pokoknya Depok Timur dari situ awal mulanya," lanjutnya.

Rata-rata, kata Subur, pemilik lebih dari satu warung kelontong malah punya background pekerjaan lain. Mereka mengandalkan karyawan untuk menjaga warung kelontongnya.

"Ada yang dosen, ada yang polisi, ada yang pengacara, punya toko. Jadi berbagai ragam macamnya. Ya (mengajak saudara dari Madura) ada juga seperti itu. Terus juga ada yang memang sudah netap di sini, berdomisili di sini," ujar Subur.

"Juragannya itu kadang punya di Malang, punya di Bali, punya di Jakarta, kadang kayak gitu. Ya ada juga yang tetap di Jogja, ada punya beberapa tempat, yang satu dikelola sendiri, ya terus yang lain nanti dikelolakan pada orang lain," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apu/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads