Mencari Solusi untuk Penjual Rambak Difabel yang Curhat Dilarang di Pasar Ngasem

Round up

Mencari Solusi untuk Penjual Rambak Difabel yang Curhat Dilarang di Pasar Ngasem

Tim detikJogja - detikJogja
Senin, 20 Jul 2026 05:14 WIB
Potret wisatawan memenuhi Pasar Ngasem Jogja saat libur sekolah, Minggu (6/7/2025).
Potret wisatawan memenuhi Pasar Ngasem Jogja saat libur sekolah, Minggu (6/7/2025). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Pedagang kerupuk rambak penyandang Disabilitas, Gilang Rizki berkeluh kesah karena diminta tak lagi dagangan di Pasar Ngasem Kota Jogja karena adanya aturan larangan untuk pedagang liar. Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja pun berupaya mencari solusi.

Gilang bisa berdagang di depan gapura pasar Ngasem. Dia menyebut petugas pasar datang pada hari Sabtu (18/7) dan memberitahunya dengan cara halus terkait larangan pedagang liar.

"Kemarin aku dibilangin. Iya (ada yang mendatangi), kayak petugas sananya. Aku dibilang gitu, 'sebenarnya nuwun sewu ya, Mas. Ini sebenarnya tuh udah nggak boleh yang liar-liar gitu, gimana kalau misal cari tempat lain?'," terang Gilang saat dihubungi detikJogja, Minggu (19/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah aku diam aja tho, aku mikir, cari tempat lain ya kalau sekarang tempat yang ramai itu jarang," sambungnya.

Beberapa Kali Diimbau

Gilang mengaku memang sudah beberapa kali diimbau seperti itu. Dia sebenarnya memahami jika pedagang liar dilarang di Pasar Ngasem, namun apa daya, penyandang tunanetra itu mengaku tak punya pilihan.

ADVERTISEMENT

"Sebenarnya itu kan semua semua pedagang kan, Mas. Semua pedagang yang, maksudnya nggak cuman aku tok, maksudnya yang liar gitu lho. Ya memang sebenarnya kan itu memang dilarang kan kalau yang liar. Karena kan biar bersih gitu lho. Jadi bersih dari pedagang pedagang liar," ujarnya.

"Nah mereka itu kebanyakan normal, Mas. Yang difabel tuh cuma aku tok. Cuman aku, soale ya pencahariannya cuma itu sementara. Emang terus terang aku waktu dilarang tuh memang agak keberatan," lanjut Gilang.

Sempat Berusaha ke Tempat Lain

Gilang menyebut Pasar Ngasem jadi andalan sebagai tempatnya mencari nafkah. Selama ini dagangannya selalu laku terjual saat berjualan di tempat itu.

Dia sebelumnya sudah menjajakan kerupuk rambaknya dengan jalan kaki. Namun beberapa waktu belakangan cara itu tak membuahkan hasil. Apalagi di kawasan Malioboro menurutnya sudah tidak mungkin berjualan. Upaya berjualan di media sosial pun tidak membuahkan hasil.

"(Jualan) Rambak, Mas. Soalnya ini aku sambil ngerintis di TikTok juga, cuman kan pelan-pelan tho, butuh waktu. Jadi ya yang offline ya masih jalan," ungkap Gilang.

"Seringe satu selongsong tuh isi 50, soale kan bawahe kan satu selongsong selongsong. Wah nggak mesti (habis) Mas. Tahun ini tuh nggak mesti habis. Makanya aku tetap bertahan di situ toh. Ya pasti mau tak nekat-nekatin, karena yang lumayan ramai di situ (pasar Ngasem)," terangnya.

Susah Cari Pekerjaan

Dia merasa keberatan jika dilarang berjualan di Pasar Ngasem. Namun Gilang menegaskan tidak mau dikasihani, ia cuma mau mencari rezeki. Dia memberikan contoh kebijakan di Malioboro yang melarang pengamen liar tetapi kini disediakan panggung.

"Aku pribadi sebenarnya kalau dilarang, piye ya, agak keberatan juga sih, karena ya seperti yang kita tahu, disabilitas tuh cari kerjanya memang susah kan. Nah, di situ kan tempatnya ramai. Ramai pun kalau untuk tahun ini nggak bisa dipastikan dagangan kita juga ramai juga, kayak tahun-tahun sebelumnya. Tahun sebelumnya kan jalan ke mana pun insyaallah ada yang beli," ujarnya.

"Malioboro kan juga nggak boleh itu. Kayak pedagang pedagang terus keliling dan sebagainya sebenarnya nggak boleh, aneh itu kalau yang ngamen, yang apa itu malah dia dikasih tempat, aneh juga itu," keluh Gilang.

Disdag Jogja Buka Suara

Kepala Bidang Pasar Rakyat, Disdag Kota Jogja, Gunawan Nugroho Utomo membenarkan petugas memberikan pengertian secara persuasif kepada Gilang saat berjualan di Ngasem Sabtu (18/7).

"Karena aturan tidak memperbolehkan Pedagang asongan masuk pasar. Maka Anggota Kamtib memberi pengertian dengan santun, bahwasannya di kawasan pasar Ngasem pedagang asongan tidak diperbolehkan masuk," jelasnya saat dihubungi detikJogja, Minggu (19/7).

"Pedangan tersebut di antar ke depan pintu masuk, menunggu jemputan. Untuk pedagang asongan memang mekaten (begitu aturanya) mas," sambung Gunawan.

Mencoba Cari Solusi

Meski demikian Gunawan menyebut akan mencoba mencarikan solusi untuk pedagang difabel seperti Gilang. Pihaknya akan membahas lebih lanjut secara internal.

"Coba akan kami coba bantu nanti kalau memungkinkan fasilitasi khusus kagem sederek-sederek (untuk teman-teman) difabel mas, segera akan kami coba bantu kebijakan fasilitasinya mas," ungkapnya.

"Mungkin nanti kami coba (membahas teknis) di internal dinas kita rumiyen (dulu) mas, kemudian juga dengan OPD terkait," imbuh Gunawan.



(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads