Round-Up

Kronologi Warga Sleman Terancam Kehilangan Rumah Ketipu Mafia Tanah

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 16 Jul 2026 05:44 WIB
Ilustrasi sertifikat tanah. Foto: Dok Kementerian ATR/BPN
Jogja -

Ahli waris almarhum Komaridin asal Sleman terancam kehilangan rumah gegara tertipu mafia tanah. Dua sertifikat tanah yang dipinjam terduga pelaku dengan dalih untuk keperluan bisnis ternyata dibalik nama dan dijadikan agunan di bank. Begini kronologinya.

2010

Peralihan Nama Sertifikat Pertama

Kantor Pertanahan ATR/BPN Sleman mengungkapkan dua sertifikat tanah milik almarhum Komaridin di Maguwoharjo dan Wedomartani Sleman telah beralih nama menjadi nama pria berinisal PW.

Plt Kepala Kantor Pertanahan Sleman Dicky Zulkarnain mengatakan, peralihan sertifkat tanah pertama yakni M 4481 Maguwoharjo seluas 471 meter persegi terjadi pada tahun 2010.

"Nah di sini ada memang yang disebutkan di pemberitaan ya, ada dua sertifikat yaitu M 4481 Maguwoharjo seluas 471 (meter persegi) dan M 11341 Wedomartani luasnya 274 (meter persegi)," kata Dicky saat ditemui di kantornya, Rabu (15/7/2026).

"Dan memang setelah kami telusuri memang ada terjadi peralihan. Memang terjadi peralihan, yang satu (M 4481) pada tahun 2010, dari atas nama Komaridin kemudian ke PW itu," sambungnya.

2011

Peralihan Nama Sertifikat Pertama

Adapun peralihan sertifikat tanah kedua yakni M 11341 Wedomartani yang luasnya 274 meter persegi terjadi pada tahun 2011.

"Kemudian yang kedua, yang M 11341, ini pada tahun 2011 peralihannya," ujar Dicky.

Dicky menjelaskan, setelah kasus yang menimpa ahli waris Komaridin mencuat di media, pihaknya mengecek dokumen warkah atau kumpulan dokumen resmi yang menjadi dasar hukum dan riwayat penerbitan suatu sertifikat.

Dalam warkah tersebut, kata Dicky, peralihan nama dua sertifikat itu tercantum akta jual beli.

"(Peralihan) Iya, jual beli. Ada akta jual belinya, iya, ada akta jual beli," kata Dicky.

2015

Hak Tanggungan Sertifikat Pertama

Dicky juga mengonfirmasi bahwa dua sertifikat itu menjadi agunan di bank. Hak tanggungan sertifikat M 11341 Wedomartani yang luasnya 274 meter persegi pada tahun 2015.

"(Hak tanggungannya) Yang M 11341 itu di 2015. Iya (atas nama PW)," ujar Dicky.

2017

Hak Tanggungan Sertifikat Kedua

Sedangkan hak tanggungan sertifikat M 4481 Maguwoharjo seluas 471 meter persegi pada 2017.

"Hak tanggungannya yang M 4481 itu di 2017," ungkap Dicky.

Dicky mengatakan belum ada surat panggilan dari kepolisian untuk kantor Pertanahan Sleman terkait kasus ini. Ia juga menyebut belum ada pihak dari keluarga Komaridin ataupun kuasa hukum yang mendatangi Kantor Pertanahan Sleman.

Untuk itu, selain konfirmasi perihal peralihan hak sertifikat, Dicky enggan membeberkan datanya lebih rinci. Termasuk soal notaris, nama bank, maupun besaran tanggungan dalam agunan bank.

"Nah itu (detail dokumen peralihan) nanti akan kita buka saat ada mungkin penyelidikan dari kepolisian, nanti kita buka di sana. Tapi sementara saat ini ya ada dokumen, yang dokumen pendukung dalam rangka proses peralihannya," jelasnya.

2024

Surat Peringatan dari Bank

Pada 7 Mei 2024, ahli waris Komaridin mengaku menerima surat peringatan pertama dari salah satu bank yang menyebut kedua sertifikat tanahnya menjadi agunan. Dua sertifikat itu juga sudah berganti nama pemilik menjadi nama pria berinisial PW.

Istri Komaridin, Lanjarsari, mengatakan pada sekitar tahun 2011, PW meminjam sertifikat milik Komaridin dengan dalih bisnis tanam saham.

"Kenalnya itu di rumah. Dianya (PW) itu ke rumah aku," kata Lanjarsari saat ditemui di kantor PBKH Atma Jaya Jogja, Senin (13/7).

"(Pinjam sertifikat) Katanya buat usaha gitu. Pinjam gitu, cuman ya, cuma sebentar aja entar tak kembalikan," sambungnya.




(dil/apu)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork