Kata Astronom soal Kilatan Cahaya Meteor Terlihat di Jogja-Cirebon

Kata Astronom soal Kilatan Cahaya Meteor Terlihat di Jogja-Cirebon

Tim detikJogja - detikJogja
Senin, 13 Jul 2026 06:00 WIB
Kilatan cahaya di langit Jogja terekam kamera
Kilatan cahaya di langit Jogja terekam kamera. Foto: Dok Ig @merapiuncover
Jogja -

Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo, buka suara soal fenomena kilatan cahaya yang terlihat dari Jogja hingga Cirebon. Ia menyebut kilatan itu sebagai bolide atau meteor yang sangat terang yang sering kali meledak di atmosfer Bumi, menghasilkan kilatan cahaya yang menyilaukan.

Diketahui, video yang memperlihatkan kilatan cahaya hijau menghiasi langit Jogja, Sabtu (11/2) malam, itu menjadi viral di media sosial. Kilatan yang diduga berasal dari meteor tersebut dapat dilihat secara kasat mata dan terekam kamera warganet.

Akun Instagram @merapi_uncover mengunggah dua video penampakan kilatan hijau tersebut. Video pertama diambil dari kamera ponsel seorang warga dan video lainnya dari rekaman CCTV.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua video tersebut sama-sama memperlihatkan sebuah benda bulat berwarna hijau terang melintas di langit dengan durasi cukup cepat.

"Video cctv meteor berwarna hijau melintas di langit malam tadi 11/7/2026 sekitar jam 21:23 WIB," tulis keterangan dalam unggahan itu seperti dilihat detikJogja, Minggu (12/7/2026).

ADVERTISEMENT

Penjelasan Astronom

Astronom amatir Indonesia, Marufin Sudibyo mengatakan, dari pengamatannya kilatan itu dikenal sebagai bolide atau meteor yang sangat terang yang sering kali meledak di atmosfer Bumi, menghasilkan kilatan cahaya yang sangat menyilaukan.

"Berdasarkan data kasar yang tersedia, meteor nampak dari timur laut ke barat daya, terjadi pada Sabtu 11 Juli 2026 pukul 21:40 WIB, nampak dari utara Yogyakarta hingga Cirebon dengan panjang lintasan di permukaan Bumi ~400 km, maka secara kasar meteor ini semula merupakan meteoroid berdiameter sekitar 1 meter," kata dia saat dihubungi wartawan, Minggu (12/7/2026).

Wakil Sekretaris Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu menjelaskan, Meteoroid ini bagian dari kepingan asteroid yang semula mengedari Matahari di antara orbit Venus hingga orbit Bumi, sehingga merupakan Asteroid dekat-Bumi kelas Apollo.

Kepingan asteroid itu beredar mengelilingi Matahari dengan periode 0,94 tahun. Antara orbit kepingan asteroid tersebut dengan orbit Bumi berpotongan di satu titik nodal. Pada saat fenomena kilatan cahaya tersebut terjadi, baik Bumi maupun kepingan asteroid tadi sedang berada pada titik tersebut.

"Berdasarkan geometri orbit sementara yang sudah saya analisis, kepingan asteroid tadi tidak berhasil menjangkau permukaan Bumi saat menjadi meteor-superterang. Dia hancur di ketinggian 46 - 48 km," ujar Marufin.

Dia menambahkan, warna hijau yang dipancarkan meteor tersebut merupakan penanda bahwa benda langit itu kaya akan Nikel. Sedangkan untuk suara dentuman, ia menyebut itu sonic boom yang khas saat meteoroid memasuki atmosfer Bumi.

"Peristiwa ini secara statistik terjadi setiap 26 hari sekali rata-rata di Bumi. Sehingga sesungguhnya bukanlah hal yang jarang terjadi," ucap Marufin.



(dil/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads